Suara.com - Harga minyak relatif stabil pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena pasar mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga yang agresif dan tidak terduga selama kenaikan permintaan energi yang lebih curam, serta penurunan mingguan mengejutkan dalam persediaan minyak mentah AS.
Dikutip dari kantor berita Antara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April turun tipis 14 sen atau 0,2 persen, menjadi menetap di 91,41 dolar AS per barel, setelah naik lebih dari 1,0 persen di awal perdagangan.
Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 22 sen atau 0,3 persen, menjadi ditutup di 89,88 dolar AS per barel, setelah naik lebih dari dua dolar AS di awal sesi.
"Laporan inflasi panas mengirim dolar lebih tinggi, yang secara tentatif menyeret turun komoditas, termasuk harga minyak," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA.
Namun, ia juga menambahkan fundamental pasar minyak "tetap sangat ketat dan tanpa perubahan segera pada prospek itu, harga minyak mentah tampaknya siap untuk naik lebih tinggi."
Setelah data inflasi AS datang pada Kamis (10/2/2022) pada titik terpanas dalam 40 tahun, Presiden Bank Federal Reserve St. Louis James Bullard mengatakan dia menginginkan kenaikan suku bunga persentase penuh pada 1 Juli.
Suku bunga berjangka menunjukkan peluang 60 persen dari kenaikan 50 basis poin pada Maret setelah komentar Bullard, dan pasar saham AS jatuh.
Dolar menyerahkan beberapa kerugian sebelumnya. Greenback yang lebih kuat membuat minyak dan komoditas lainnya lebih mahal bagi mereka yang memegang mata uang lainnya.
"Harga bingung antara apa yang tampaknya menjadi statistik persediaan yang kuat dan tanda-tanda bahwa Fed akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan pada 2022," kata Scott Shelton, spesialis energi di United ICAP.
Baca Juga: Gubernur BI: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 3,5 Persen
Pada Rabu (9/2/2022), harga minyak menguat setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah turun secara tak terduga minggu lalu ke level terendah sejak Oktober 2018, sementara permintaan bahan bakar mencapai rekor tertinggi.
Setelah data tersebut, harga minyak membalikkan penurunan yang didorong oleh dimulainya kembali pembicaraan nuklir AS-Iran tidak langsung sehari sebelumnya. Kesepakatan dapat mencabut sanksi AS terhadap minyak Iran dan mengurangi ketatnya pasokan global.
Awal pekan ini, patokan minyak mentah mencapai tertinggi tujuh tahun di tengah kekhawatiran politik, dan karena pemulihan permintaan yang kuat dari pandemi virus corona telah membuat persediaan di pusat bahan bakar secara global pada posisi terendah multi-tahun.
Pada Kamis (10/2/2022), Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengatakan permintaan minyak dunia mungkin meningkat lebih tajam tahun ini karena ekonomi global mencatat pemulihan yang kuat.
Laporan itu juga menunjukkan OPEC menggarisbawahi kenaikan produksi minyak yang dijanjikan pada Januari di bawah pakta dengan sekutunya untuk secara bertahap melonggarkan rekor penurunan produksi yang diberlakukan pada 2020.
Secara keseluruhan, tipisnya pasokan minyak mentah, penyimpanan rendah dan produksi global yang mendekati maksimum mendorong kenaikan harga, menurut Mitsubishi UFJ Financial Group [Antara].
Berita Terkait
-
Ketegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak
-
Neraca Dagang RI Berbalik Tekor, Mendag: Harga Minyak Lagi Tinggi-tingginya!
-
Konflik AS - Iran Memanas di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak 2 Persen
-
AS dan Iran Menuju Perang Terbuka, Harga Minyak Kembali ke Level 80 Dolar per Barel
-
Perang AS-Iran Memanas: Wall Street Terpukul, Harga Minyak Melonjak!
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Kertajati Disiapkan Jadi Hub Dirgantara, Pemerintah Bidik Pasar Asia Pasifik US$138 Miliar
-
TVS Apache Rayakan 7 Juta Pengendara di 90 Negara, Perkuat Warisan Balap Lewat Kampanye Global
-
Rupiah Konsisten Menguat, Tapi Masih di atas Rp18.000 per Dolar AS
-
Muktamar ke-35 PBNU Segera Digelar: Gus Ipul Ungkap Sosok yang Berpeluang Pimpin Nahdlatul Ulama
-
Punya Kuasa Ambil Alih Kasus Febrie, KPK: Tapi Bukan Seperti Memungut Barang di Jalan!
-
Isu Appi Pindah ke Partai Gerindra Menguat
-
Tak Lagi Polos, Deodorant Tawas Kini Punya Aroma yang Lebih Personal
-
Rilis Trailer Utama, Film Live Action Look Back Umumkan 6 Pemeran Baru
-
Menteri Dipanggil Prabowo Bahas Koperasi, Anak Buah Tegaskan Kopdes Bukan Supermarket
-
Cemburu Lihat Tanda Merah di Leher, Suami Habisi Nyawa Istri Saat Main HP