Bisnis / Makro
Kamis, 08 Januari 2026 | 10:30 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia meningkat. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent naik ke $60,34 dipicu stok AS yang merosot tajam 3,8 juta barel
  • Strategi Trump sita tanker Venezuela picu perubahan jalur ekspor minyak dari China ke AS.
  • Pasar tetap waspada; Morgan Stanley prediksi surplus minyak 3 juta barel per hari di 2026.

Suara.com - Setelah loyo selama dua hari berturut-turut, harga minyak dunia akhirnya mencatatkan rebound tipis pada perdagangan Kamis (8/1/2026).

Kenaikan ini dipicu oleh kejutan dari data cadangan minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang merosot tajam, di tengah drama geopolitik antara Washington dan Venezuela yang kian memanas.

Berdasarkan data Investing.com, harga minyak mentah Brent naik 0,6 persen ke level $60,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkerek 0,7 persen menjadi USD 56,36 per barel.

Laporan terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menjadi penggerak utama pasar. Stok minyak mentah AS turun tajam sebesar 3,8 juta barel menjadi 419,1 juta barel per awal Januari. Angka ini menjungkirbalikkan prediksi para analis yang justru memperkirakan adanya penumpukan stok.

"Pembelian akibat penurunan harga (buy on weakness) sedikit mendorong harga naik. Namun, kekhawatiran kelebihan pasokan di masa depan tetap membatasi momentum kenaikan," ujar Mitsuru Muraishi, analis dari Fujitomi Securities.

Meski naik hari ini, awan mendung masih membayangi. Morgan Stanley memprediksi pasar akan tetap mengalami surplus pasokan hingga 3 juta barel per hari pada semester pertama 2026 mendatang.

Ketegangan politik di Venezuela menjadi bumbu utama ketidakpastian harga. Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah menjalankan strategi agresif untuk mengontrol aliran minyak dari negara tersebut.

Dampaknya, kilang-kilang independen di China yang selama ini bergantung pada pasokan Venezuela mulai bersiap mencari alternatif. Mereka diperkirakan bakal beralih ke minyak mentah asal Iran untuk menutup celah kekurangan stok akibat manuver AS di Caracas.

Muraishi memperkirakan, meski hari ini menguat tipis, tren penurunan harga minyak kemungkinan besar akan berlanjut, dengan target harga WTI bisa jatuh di bawah level USD 54 per barel.

Baca Juga: Darah Tumpah di Caracas, 75 Tewas Saat Pasukan AS Serbu dan Tangkap Presiden Maduro

Load More