- Harga minyak Brent naik ke $60,34 dipicu stok AS yang merosot tajam 3,8 juta barel
- Strategi Trump sita tanker Venezuela picu perubahan jalur ekspor minyak dari China ke AS.
- Pasar tetap waspada; Morgan Stanley prediksi surplus minyak 3 juta barel per hari di 2026.
Suara.com - Setelah loyo selama dua hari berturut-turut, harga minyak dunia akhirnya mencatatkan rebound tipis pada perdagangan Kamis (8/1/2026).
Kenaikan ini dipicu oleh kejutan dari data cadangan minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang merosot tajam, di tengah drama geopolitik antara Washington dan Venezuela yang kian memanas.
Berdasarkan data Investing.com, harga minyak mentah Brent naik 0,6 persen ke level $60,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkerek 0,7 persen menjadi USD 56,36 per barel.
Laporan terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menjadi penggerak utama pasar. Stok minyak mentah AS turun tajam sebesar 3,8 juta barel menjadi 419,1 juta barel per awal Januari. Angka ini menjungkirbalikkan prediksi para analis yang justru memperkirakan adanya penumpukan stok.
"Pembelian akibat penurunan harga (buy on weakness) sedikit mendorong harga naik. Namun, kekhawatiran kelebihan pasokan di masa depan tetap membatasi momentum kenaikan," ujar Mitsuru Muraishi, analis dari Fujitomi Securities.
Meski naik hari ini, awan mendung masih membayangi. Morgan Stanley memprediksi pasar akan tetap mengalami surplus pasokan hingga 3 juta barel per hari pada semester pertama 2026 mendatang.
Ketegangan politik di Venezuela menjadi bumbu utama ketidakpastian harga. Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah menjalankan strategi agresif untuk mengontrol aliran minyak dari negara tersebut.
Dampaknya, kilang-kilang independen di China yang selama ini bergantung pada pasokan Venezuela mulai bersiap mencari alternatif. Mereka diperkirakan bakal beralih ke minyak mentah asal Iran untuk menutup celah kekurangan stok akibat manuver AS di Caracas.
Muraishi memperkirakan, meski hari ini menguat tipis, tren penurunan harga minyak kemungkinan besar akan berlanjut, dengan target harga WTI bisa jatuh di bawah level USD 54 per barel.
Baca Juga: Darah Tumpah di Caracas, 75 Tewas Saat Pasukan AS Serbu dan Tangkap Presiden Maduro
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bikin Melongo! Polri Pamerkan 74 Kg Emas hingga Ratusan Miliar Hasil Sitaan Kasus Jampidsus
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
Terkini
-
Produksi Pupuk Petrokimia Gresik Tembus 2,7 Juta Ton pada Semester I 2026
-
IHSG Terkoreksi, BEI Sebut Justru Jadi Peluang Investasi Jangka Panjang
-
Panasonic Tampilkan Solusi Modern Living & Building Terintegrasi di IndoBuildTech Expo 2026
-
Tabel Pinjaman KUR BRI Juli 2026 Terbaru, Simulasi Angsuran Rp1 Juta hingga Rp100 Juta
-
Liburan Lebih Hemat dengan Diskon Rp125.000 di tiket.com Pakai BRI Kartu Kredit
-
Harga Emas Antam Berbalik Naik ke Rp2,655 Juta per Gram, Buyback Ikut Menguat
-
Asing Masih Genjar Jual Saham, IHSG Menguat Tipis Pekan Ini
-
Vietjet Bidik Wisatawan Muslim Indonesia
-
Harga Cabai Rawit Naik Lagi, Telur Ayam Rp28.950 per Kg, Cek Daftar Harga Pangan Terbaru
-
128 Juta Penumpang Transportasi Pilih Kereta dalam Tiga Bulan