Suara.com - Pemerintah dituntut segera membayar piutang PT Pertamina (Persero) yang diperkirakan mencapai Rp100 triliun. Terlebih, saat ini Pertamina berusaha memperbaiki kesehatan keuangan perusahaan.
BUMN di lini energi ini diperkirakan tengah terdesak dan pembayaran piutang itu dinilai mampu membantu kesehatan keuangan Pertamina demi mengupayakan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk masyarakat.
“(Pembayaran piutang) Sangat urgent untuk dilakukan, karena kalau tidak cepat (dibayar) bisa terjadi kelangkaan BBM akibat cashflow Pertamina yang terganggu,” ujar Direktur Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, Sabtu (2/4/2022) lalu.
Pemerintah diminta untuk menunda berbagai proyek strategis yang tidak urgent dan mengalihkan dana untuk diprioritaskan membayar piutang Pertamina.
“Stimulus dunia usaha masih belum terlalu urgent. Justru dengan piutang dibayar, keuangan Pertamina membaik, maka stok BBM aman. Dengan begitu kinerja dunia usaha juga bisa menggeliat tanpa bergantung pada stimulus pemerintah. Secara ruang fiskal juga masih sangat cukup (untuk membayar piutang). Jadi tidak ada alasan untuk ditunda-tunda lagi,” kata Bhima.
Ia beranggapan, pelunasan utang kepada Pertamina saat ini lebih penting dibandingkan menaikkan harga jual Pertamax yang sebenarnya sudah dilakukan.
Meski dianggap bijak, menaikkan harga Pertamax saat masyarakat tengah berusaha bangkit pasca ledakan Pandemi COVID-19 tentu akan berdampak pada ekonomi.
Terlebih dengan momen bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri yang dikhawatirkan membuat daya beli masyarakat justru menurun karena harga kebutuhan pokok yang turut naik.
“Momennya tidak tepat, karena jika dipaksakan, masyarakat jadi terpaksa mengurangi spendingnya untuk belanja Ramadhan. Makan di restoran jadi berkurang, jalan-jalan ditunda, bahkan untuk rencana KPR rumah, jadi berpikir dua kali. Ini artinya, roda ekonomi yang harusnya berputar lebih kencang saat Ramadhan, jadi ikut terhambat,” kata dia.
Baca Juga: Mobil Dinas dan BUMN Diusulkan Tidak Boleh Menggunakan Pertalite
Berita Terkait
-
Demi Beri Manfaat Konkret bagi Masyarakat, Task Force ESC B20 dan Kemenlu Tawarkan Kemitraan Proyek Transisi
-
Tinjau SPBU di Lampung, Pertamina Prediksi Peningkatan Konsumsi BBM 15 Persen
-
Kapal Tanker Pertamina Asal Rusia Diblokir Aktivis di Perairan Denmark
-
Mobil Dinas dan BUMN Diusulkan Tidak Boleh Menggunakan Pertalite
-
Pertamina: Kuota Solar Subsidi untuk Bumi Mulawarman Bakal Naik 25 Persen
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Bahlil Mau Terapkan Skema Bagi Hasil Migas di Sektor Pertambangan
-
Ada Pejabat Baru di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya
-
Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah
-
Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?
-
Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan
-
Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok
-
Tak Perlu Pusing, Belanja di China Bisa Bayar Pakai GoPay
-
Purbaya Janjikan Kredit Bunga Rendah ke Industri Tekstil, Maksimal 6 Persen
-
IHSG Masih Gagah Menguat, Betah di Level 7.000