Bisnis / Makro
Kamis, 07 Juli 2022 | 12:45 WIB
Presiden Jokowi menyerahkan bantuan modal bagi pedagang di Pasar Peterongan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (5/7/2022). (Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Suara.com - Presiden RI Joko Widodo kembali mengingatkan bahwa harga BBM jenis pertalite saat ini termasuk salah satu hasil subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Negara kita ini masih tahan untuk tidak menaikkan harga pertalite. Ini kita masih kuat dan kita berdoa supaya APBN tetap masih kuat memberi subsidi. Kalau sudah tidak kuat, mau bagaimana lagi," kata Presiden dalam sambutannya pada acara puncak peringatan Hari Keluarga Nasional Ke-29 di Medan, Sumatera Utara, Kamis (7/7/2022).

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyinggung dampak negatif perang Ukraina dengan Rusia.  Menurut Jokowi, harga minyak saat sebelum pandemi sebesar 60 dolar AS per barel, sedangkan saat ini naik dua kali lipat mencapai 110—120 dolar per barel.

Ia memberi contoh, di Jerman dan Singapura harga BBM sudah mencapai Rp31 ribu per liter, sementara di Thailand sudah mencapai Rp20 ribu/liter.

"Kita masih Rp7.650,00/liter karena apa? Disubsidi oleh APBN," ujar Presiden.

Ia meyakini, tidak ada rakyat yang setuju jika harga BBM dinaikkan. Namun, semua pihak harus mengetahui bahwa Indonesia masih melakukan impor separuh dari kebutuhan BBM nasional, yakni sebesar 1,5 juta barel minyak dari luar negeri.

"Artinya apa? Kalau harga di luar naik, kita juga harus membayar lebih banyak. Supaya kita semua mengerti masalah ini," kata Presiden.

Load More