Suara.com - Jumlah penduduk miskin di Indonesia dapat ditekan menjadi 26 juta orang per Maret 2022, tapi untuk ketimpangan pendapatan justru meningkat. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat fenomena ini sebagai paradoks.
"Kemiskinan turun dan ketimpangan naik adalah paradoks," kata Bhima saat dihubungi Suara.com, Minggu (17/7/2022).
Artinya, meski ada perbaikan daya beli tapi kemampuan orang miskin mengejar naiknya pendapatan 20 perse kelompok paling kaya masih lambat.
Menurut Bhima orang kaya di Indonesia kontribusi terhadap total konsumsi rumah tangga makin tinggi, apalagi kalau dihitung dari aset. Nah kata dia program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang seharusnya menurunkan angka ketimpangan terbukti gagal.
"Masalahnya berbagai stimulus fiskal kepada korporasi sering tidak tepat sasaran, dan tidak menetes ke pekerja terbawah," katanya.
Bahkan beberapa dana PEN kata dia digunakan untuk menyelamatkan keuangan BUMN yang sakitnya jauh sebelum ada pandemi.
"Masalah PEN juga terkait serapan anggaran yang rendah, termasuk di level pemda. Dengan berbagai alasan mulai data yang belum sinkron, masalah administrasi menimbulkan hambatan pada serapan PEN," paparnya.
Menurut dia Pemerintah Daerah (Pemda) pun wajib bertanggung jawab dari melebarnya gini rasio ini. "Sampai Mei 2022 masih ada Rp 200 triliun anggaran pemda yang diparkir di bank belum dicairkan," ungkapnya.
Jumlah penduduk miskin di Indonesia masih puluhan juta orang. Meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terjadi penurunan.
Baca Juga: Data BPS Penurunan Kemiskinan di Jateng Tertinggi, Kenyataannya Lihat Sendiri
Per Maret 2022 jumlah penduduk miskin tercatat 26,16 juta orang. Selain itu BPS juga mencatat jurang si kaya dan si miskin semakin lebar.
Jumlah orang miskin ini tercatat mengalami penurunan sebanyak 340 ribu orang jika dibandingkan dengan periode September 2021 dan turun 1,38 juta orang jika dibandingkan Maret 2021.
Sementara itu angka gini ratio ini meningkat 0,003 poin jika dibandingkan dengan gini ratio Maret 2021 sebesar 0,384. Ini artinya jurang pemisah si kaya dan si miskin semakin lebar.
"Gini Ratio di perkotaan pada Maret 2022 tercatat sebesar 0,403 poin naik dibanding Gini Ratio September 2021 yang sebesar 0,398 dan Gini Ratio Maret 2021 yang sebesar 0,401," kata Kepala BPS Margo Yuwono.
Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah sebesar 18,06 persen. Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada Maret 2022 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah.
Berita Terkait
-
Data BPS Penurunan Kemiskinan di Jateng Tertinggi, Kenyataannya Lihat Sendiri
-
Data BPS: Angka Kemiskinan di Jawa Tengah 3,83 Juta Jiwa
-
Angka Kemiskinan di Jateng Turun, Karena Kinerja Gubernur Ganjar Pranowo?
-
Tak Hanya Peran Pemerintah, Akademisi Sebut Jateng Berhasil Turunkan Kemiskinan Karena Mau Gotong Royong
-
Konsep Penguatan Ekonomi Lokal Jadi Jurus Jitu Menjauhkan Warga Jateng dari Zona Kemiskinan
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
Aturan Asuransi Kesehatan Dibuat, OJK Tetapkan Aturan Co-Payment Jadi 5 Persen
-
Awal Pekan, Rupiah Dibuka Suram ke Level Rp16.839 per Dolar AS
-
Emas Antam Melesat ke Harga Tertinggi, Hari Ini Tembus Rp 2.631.000 per Gram
-
IHSG Pecah Rekor Lagi di Senin Pagi, Tembus Level 8.991
-
Survei Bank Indonesia Laporkan Keyakinan Konsumen Alami Penurunan, Ini Faktornya
-
Indonesia-Pakistan Targetkan Negosiasi CEPA, Dari Minyak Sawit hingga Tenaga Medis
-
Geser Erick Thohir, Rosan Roeslani Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah
-
Pengusaha Minta Pemerintah Beri Ruang Proyek Infrastruktur untuk UMKM Konstruksi
-
Rekomendasi Saham-saham yang Patut Dicermati Senin 12 Januari 2026
-
FAO: 43,5% Masyarakat Indonesia Tidak Mampu Beli Makanan Bergizi, Negara Intervensi Lewat MBG