- IHSG dibuka melemah signifikan pada Jumat, 27 Februari 2026, mencapai level 8.152 akibat sentimen eksternal dan domestik.
- Total 5,15 miliar saham diperdagangkan senilai Rp 1,81 triliun; mayoritas saham mengalami penurunan (446 saham) dibanding kenaikan (143 saham).
- Pelemahan dipicu isu tarif AS terhadap panel surya Indonesia dan ketegangan geopolitik, serta implementasi aturan minimum *free float* 15%.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rungkad lagi pada awal perdagangan, Jumat, 27 Februari 2026. IHSG lagi-lagi merosot 0,29 persen ke level 8.211.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.07 WIB, IHSG mah betah melemah atau turun 1,01 persen ke level 8.152.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 5,15 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,81 triliun, serta frekuensi sebanyak 257.100 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 143 saham bergerak naik, sedangkan 446 saham mengalami penurunan, dan 373 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, BNBR, MBTO, WMUU, JAYA, POLI, DNAR, MGLV, MDIA, JMAS, TOOL, FORU.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, SOTS, INDS, ICON, SIPD, KAQI, IFSH, INAI, BIPP, DIVA, ELO, BUVA.
Proyeksi IHSG
IHSG diproyeksikan masih bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini. Tekanan sentimen eksternal dan domestik dinilai masih membayangi pergerakan pasar.
Mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas, secara teknikal IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan terbatas menuju level 8.150 dengan resistance di area 8.350.
Baca Juga: BEI Bidik 50 Ribu Calon Investor Masuk di Pasar Modal Syariah, Ini Strateginya
BRI Danareksa menilai sentimen eksternal masih menjadi pemberat utama. Amerika Serikat dilaporkan mengenakan tarif tinggi terhadap panel surya asal Indonesia sebesar 104,38 persen. Kebijakan ini memicu kekhawatiran terhadap tekanan kinerja ekspor serta potensi eskalasi proteksionisme global.
Selain itu, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang berpotensi melibatkan Rusia dan China turut meningkatkan sikap risk-off di pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, pasar juga merespons implementasi aturan minimum free float 15%. Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran potensi notasi khusus hingga risiko delisting bagi emiten yang belum memenuhi ketentuan, sehingga mendorong aksi jual di sejumlah saham.
Pelaku pasar kini menanti perkembangan negosiasi AS–Iran yang dinilai akan mempengaruhi arus dana pada aset berisiko serta pergerakan harga komoditas global.
Untuk strategi perdagangan, BRI Danareksa merekomendasikan beberapa saham pilihan yang dapat dicermati investor, yakni TINS, HRTA, dan INDF.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi. Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Negosiasi Pasokan BBM dan LPG dari Rusia, Menteri ESDM: Hasilnya Memuaskan
-
Pasar Modal Lebih Sehat dan Kredibel Berkat Reformasi OJK
-
Ketahanan Ekonomi Indonesia Raih Pengakuan Internasional di Tengah Ujian Geopolitik
-
IHSG Terus Menguat Bukti Reformasi Pasar Modal OJK Berbuah Manis
-
Reformasi OJK Sukses Tingkatkan Transparansi Pasar Modal Indonesia
-
Berlayar Sampai ke Pulau Sumbawa, Pertamina Pastikan Kompor Warga Tetap Menyala
-
Pertamina Sebaiknya Segera Naikkan Harga BBM Nonsubsidi, Awas Merugi
-
PT PGE dan PT PLN IP Sepakati Tarif Listrik, PLTP Lahendong Bottoming Unit Mulai Operasi 2028
-
Bukan KPR Biasa, Ini Rahasia Punya Properti dengan Biaya Terjangkau di BRI
-
Aturan Baru Purbaya, APBN Tanggung Cicilan Utang Kopdes Merah Putih