Suara.com - Harga minyak dunia melonjak sekitar 1,5 persen setelah menyentuh level terendah enam bulan pada perdagangan akhir hari Rabu, karena penarikan lebih curam dari perkiraan dalam stok minyak mentah AS melampaui kekhawatiran atas peningkatan produksi dan ekspor Rusia serta ketakutan resesi.
Mengutip CNBC, Kamis (18/8/2022) stok minyak mentah Amerika menyusut 7,1 juta barel dalam sepekan hingga 12 Agustus menjadi 425 juta barel, berdasarkan data Badan Informasi Energi (EIA).
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melesat USD1,31, atau 1,42 persen menjadi USD93,65 per barel.
Pada awal sesi, kekhawatiran resesi mendorong harga Brent ke level terendah sejak Februari di USD91,51.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), meningkat USD1,58, atau 1,8 persen menjadi USD88,11 per barel.
Ekspor minyak mentah AS mencapai 5 juta barel per hari, rekor tertinggi, data EIA menunjukkan, ketika WTI diperdagangkan dengan diskon tajam terhadap Brent, membuat minyak mentah WTI lebih menarik bagi pembeli asing.
Sebagai tanda permintaan yang kuat, stok bensin melorot 4,6 juta barel, jauh lebih tinggi dari perkiraan 1,1 juta barel.
"Itu diperkirakan menjadi laporan yang bersahabat. Kekhawatiran kehancuran permintaan yang dialami pasar tampaknya sedikit berkurang," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group.
American Petroleum Institute, Selasa, mencatat penarikan 448.000 barel dalam stok minyak mentah dan 4,5 juta barel dalam persediaan bensin, menurut narasumber.
Minyak melambung pada 2022, mencapai level tertinggi sepanjang masa USD147 pada Maret setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Baca Juga: Data Ekonomi Global Mengkhawatirkan, Harga Minyak Dunia Anjlok Lagi
Namun, Rusia mulai secara bertahap menaikkan produksi minyak setelah pembatasan terkait sanksi dan karena pembeli Asia telah meningkatkan pembelian, membuat Moskow mengatrol proyeksi untuk output dan ekspor hingga akhir 2025.
Pendapatan Rusia dari ekspor energi diperkirakan melesat 38 persen tahun ini sebagian karena volume ekspor minyak yang lebih tinggi, menurut dokumen tersebut, sebagai tanda bahwa pasokan dari negara itu tidak terpengaruh sebanyak yang diperkirakan pasar.
Prospek resesi baru-baru ini juga membebani harga minyak. Inflasi harga konsumen Inggris melonjak menjadi 10,1 persen pada Juli, tertinggi sejak Februari 1982, mengintensifkan tekanan pada rumah tangga, dan mendorong harga minyak lebih rendah pada awal sesi.
"Ada risiko penurunan yang meningkat sebagai akibat dari yang meningkat sebagai akibat dari prospek pertumbuhan dan ketidakpastian yang sedang berlangsung seputar pembatasan Covid China," kata Craig Erlam, analis OANDA.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
Pilihan
Terkini
-
Rupiah Masih Lemas, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
-
UU APBN 2026: Defisit Anggaran Dipatok 2,68% Tahun Ini
-
UU APBN 2026: Belanja Negara Tembus Rp 3.842 Triliun
-
UU APBN 2026 Akhirnya Terbit, Penerimaan Pajak Ditarget Rp 2.693 Triliun
-
Pinjol Maucash Milik Grup Astra Tutup Usaha, Apa Penyebabnya?
-
Harga Minyak Dunia Naik Tipis: Stok AS Merosot di Tengah Ambisi Trump Kuasai Minyak Venezuela
-
Pakar Ingatkan Bahaya Kriminalisasi Kebijakan bagi Sebuah Inovasi
-
Masih Sakit, Rupiah Makin Dekati Level Rp16.800 per Dolar AS Hari ini
-
Harga Emas Antam Ambruk, Hari Ini Dibanderol Rp 2,57 Juta per Gram
-
Fakta-fakta Ekspansi NINE: Benarkah Akuisisi Tambang Mongolia Senilai Rp1,6 Triliun