Suara.com - Berkembangnya teknologi memungkinkan siapa pun bisa berdagang hanya dengan bermodal semangat. Salah satu profesi yang banyak diminati belakangan adalah dropshipper, di mana kamu bisa berjualan tanpa modal sama sekali.
Seorang dropshipper tidak perlu menyetok dan mengirimkan barang yang terjual, karena tugasnya hanya mempromosikan sekaligus menjual barang dagangan milik produsen ataupun supplier.
Meski tak butuh modal banyak -- bahkan beberapa ada yang berhasil menjalankannya tanpa modal sama sekali -- margin keuntungan yang didapat seorang dropshipper tidaklah terlalu tinggi.
Belum lagi kalau kamu mendapatkan supplier yang tidak gercep, sehingga menghambat pengiriman barang ke konsumen. Otomatis, aliran fulusmu juga terhambat, kan?
Nah, buat kamu yang ingin menjalankan bisnis dengan margin lebih besar, kamu bisa memilih untuk menjadi stockist. Stockist adalah seseorang yang menyimpan barang dan dapat menjual barang saat permintaan meningkat. Dengan cara ini, stockist dapat mengatur waktu untuk menyiapkan stok tetap tersedia tanpa bergantung penuh pada supplier.
Nah, pengalaman berubah haluan dari dropshipper menjadi stockist dialami oleh Wella Lee, selaku CEO dan founder dari Eyelovin.
Penasaran ingin menjadi stockist juga? Simak dulu beberapa tips berikut yang dibagikan oleh Wella di laman Ninja Xpress.
1. Siapkan tempat penyimpanan yang cukup dan sesuai dengan jumlah stok
Tidak perlu gudang yang besar untuk menjadi stockist, tapi pastikan ruang penyimpanan yang kamu sediakan cukup dan sesuai dengan jumlah stok produk jualan kamu, ya.
Baca Juga: Hanya Perlu Skill yang Menjual, Ini 4 Ide Bisnis Tanpa Modal
2. Berikan kode pada setiap barang
Agar mempermudah kamu dalam mencari produk jualan, jangan lupa memberikan kode pada setiap barang yang kamu jual. Terlebih kalau produk yang kamu jual beragam.
3. Tentukan jumlah stok minimum
Kamu harus menentukan jumlah minimum dari produk laris yang kamu jual agar tidak terjadi kekosongan stok saat pembelian oleh pelanggan. Tantangannya adalah kalau kamu berjualan di berbagai platform marketplace, di mana tentu akan sulit untuk update stok secara manual, Kamu dapat menggunakan jasa pihak ketiga yang dapat secara otomatis update stok barang dan saat stok mulai menipis Kamu juga akan diingatkan oleh sistem.
4. Lakukan proyeksi durasi barang habis
Untuk menghindari kekosongan stok, kamu juga dapat memproyeksikan atau memperkirakan kapan stok akan habis dengan cara melihat rata-rata pembelian barang setiap harinya. Apabila sudah mendapatkan angka rata-rata pembelian, maka angka ini dijadikan pembagi untuk jumlah stok yang tersedia kemudian akan keluar hasil proyeksi berapa hari stok akan habis.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Trump Ungkap Nego Perang Berjalan Mulus, Iran Bantah: Awas 'Manipulasi' Pasar!
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
-
Anggaran Dana Pensiun DPR-Pejabat Diusulkan untuk Guru Honorer hingga Nakes
-
Perhatian Pemudik! Rest Area KM 52B Bisa Ditutup Sewaktu-waktu Saat Arus Balik
-
Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran
-
Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 5,6 Persen Berkat Mudik Lebaran 2026
-
285 Ribu Kendaraan Bakal Padati Jalan Tol Trans Jawa pada 24 Maret
-
LPEI Ungkap Risiko Konflik Timur Tengah ke Kinerja Ekspor Indonesia Masih Terbatas
-
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat