Suara.com - Stunting mengancam kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Jika tidak segera diatasi, stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat akumulasi ketidakcukupan zat gizi pada 1.000 hari pertama umur anak, dapat menghambat pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan kemiskinan.
Hal tersebut dikatakan Rektor IPMI International Business School Prof. Ir. M. Aman Wirakartakusumah M.Sc., PhD. dalam webinar bertajuk "Ketahanan Pangan: Aksi Kolaboratif untuk Mengakhiri Kelaparan dan Meningkatkan Gizi" di Kampus IPMI, Kalibata, Jakarta Selatan.
Meskipun Indonesia sedang bergerak maju menuju Zero Hunger, menurut Prof Aman, keterbatasan akses atas pangan, malnutrisi, kperubahan iklim, dan kerentanan terhadap ganguan alam, tetap berlanjut. Apalagi, perekonomian di 2023 akan dibayangi tantangan resesi global.
"Perang Ukraina dan Rusia yang masih berkecamuk mendorong kenaikan inflasi global diprediksi menjalar ke Indonesia tahun depan. Memang pada 2019, prevalensi kurang gizi pernah turun signifikan menjadi 7 persen, namun akibat pandemi naik kembali menjadi telah meningkat menjadi 8 persen akibat dari pandemi," ujarnya.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas Subandi Sardjoko mengatakan pemerintah menargetkan angka anak gagal tumbuh menurun hingga 14 persen di tahun 2024. Sementara tingkat anak stunting di Indonesia masih di angka 24,4 persen, masih lebih baik ketimbang tahun 2018 yang berada di posisi 30,8 persen.
"Pemerintah melakukan intervensi spesifik sampai ke rumah tangga seperti makanan pendamping ASI, tablet tambah darah, imunisasi, vitamin A, tata laksana gizi buruk, kecacingan, dan malaria," ujarnya.
Subandi menambahkan pemerintah menyediakan anggaran untuk pengurangan stunting sebesar Rp22 triliun pada tahun ini.
"Bappenas memonitor pencapaian target tersebut," jelasnya.
Dosen Manajemen Bisnis Pangan IPMI International Business School Prof. Dr. Dedi Fardiaz menambahkan, pencapaian target penurunan angka stunting bisa dilakukan secara penta heliks yang melibatkan perguruan tinggi, pihak swasta, masyarakat, filantropi, dan media. Upaya kolektif tersebut untuk mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 yang tangguh dalam menghadapi tantangan dan gangguan terhadap negara di masa depan.
Baca Juga: Kebut Target Penurunan Angka Stunting 2024, Kepala BKKBN Minta Ibu Kasih ASI Ekslusif pada Anak
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN