Suara.com - Ekonom dari Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) Askar Muhammad mengatakan kebijakan Presiden Joko Widodo memberikan subsidi transportasi bagi produsen ke tempat penjualan terbukti efektif meredam gejolak inflasi di tanah air.
“Bicara tentang inflasi kita pada beberapa bulan terakhir ini dari bulan September itu kan kontribusi terbesar karena kenaikan harga BBM dan kenaikan harga BBM ini memang jalur transmisinya itu ya transportasi,” ujar Askar.
“Nah ketika transportasi ini di subsidi ongkosnya tentu akan efektif untuk meredam inflasi,” sambungnya.
Menurut Askar, ada dua faktor lain yang dinilai cukup efektif menahan laju inflasi yaitu Gerakan Tanam Pangan Cepat Panen terutama komoditas Cabai Merah, Bawang Merah yang memberikan kontribusi cukup besar.
“Sebenarnya ada dua lagi begini dan juga cukup efektif yang pertama adalah gerakan tanam cepat yaitu efektif juga kalau kita lihat datanya kan kontributor inflasi kita Oktober kemarin kan cabai, bawang merah. Nah itu karena nya ada gerakan tanam cepat jadi cukup besar untuk kontribusinya,” terang Askar.
Lalu kata Askar yang cukup membantu meredam inflasi adalah efek musiman harga komoditas pada bulan September hingga Oktober rata-rata harganya relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Jadi biasanya September-Oktober harga-harga pangan itu terutama tadi ya cabai, bawang merah dan seterusnya itu bisa lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan jadi memang ada efek maksimal untuk inflasi kita,” ungkapnya.
Namun, Askar mengingatkan pemerintah tetap waspada dengan inflasi terutama efek dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) kemungkinan baru terasa naik di bulan November dan Desember.
Merujuk data Badan Statistik Nasional (BPS) terjadi selisih yang cukup lebar antara inflasi di tingkat produsen yang sebesar 10% dan konsumen sekitar 5,7%. Maka dari itu, ia mengingatkan pemerintah untuk mewanti-wantinya ketika mengeluarkan kebijakan.
Baca Juga: Kemenkeu: Kenaikan Cukai Rokok Tidak Berdampak Besar Terhadap Inflasi
"Tapi yang perlu diwaspadai kita begini mas kita perlu melihat efek dari BBM itu belum kelihatan betul di bulan Oktober kemungkinan besar inflasi kita tetap naik di bulan November dan Desember,” ucapnya.
“Ini karena memang kita dari sisi produsen itu cukup tinggi ya inflasinya kemarin rilis BPS untuk berurusan sendiri 10% inflasinya. Sementara di sisi konsumen masih 5,7 persen jadi memang ada selisih yang cukup besar nih antara harga yang dibayar oleh produsen dengan harga yang diterima oleh konsumen dan itu masih ada ancaman sih untuk November dan Desember,” tuntasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan penurunan inflasi Indonesia berkat pengalaman Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Anda lihat tadi inflasi kita. Coba inflasi kita bisa kita turunkan, kenapa? Pengalaman presiden (Jokowi)," kata Luhut
Luhut menyinggung selama ini negara hanya melihat dari sudut pandang bank, di mana harus menaikkan suku bunga acuan baru bisa menurunkan inflasi.
"Enggak. Presiden bilang, 'pengalaman saya Pak Luhut, dari tempat produksi ke tempat penjualan, ini kan cost transportasi, ya subsidi saja itu. Jadi harga di sini (tempat produksi) sama di sini (tempat penjualan)'. Ya benar, turun sekarang inflasi kita," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123