Suara.com - Jepang sedang dilanda wabah flu burung usai 10 juta unggas di negara tersebut dimusnahkan secara massal. Kondisi ini membuat harga telur terbang tinggi di negara tersebut.
Mengutip CNN, Kamis (12/1/2023) Kementerian Pertanian Jepang mengatakan 9,98 juta hewan telah dibunuh musim ini, melampaui rekor sebelumnya 9,87 juta yang disembelih pada tahun fiskal 2020, selama krisis flu burung sebelumnya.
"Pemusnahan terbaru sebagian besar termasuk ayam, serta sejumlah kecil bebek dan burung unta," kata seorang pejabat kementerian kepada CNN pada hari Rabu.
Federasi Nasional Asosiasi Koperasi Pertanian, yang dikenal sebagai Zen-Noh, memberikan penghitungan yang lebih tinggi, mengatakan sekitar 10,9 juta burung telah terbunuh pada Selasa malam.
"Pasokan telur ayam diperkirakan akan berkurang karena wabah baru-baru ini. Harga pasar diperkirakan akan melonjak," kata lembaga Zen-Noh.
Penyebaran flu burung telah mendorong harga telur di seluruh dunia dalam beberapa bulan terakhir.
Di Amerika Serikat, harga telur jauh melampaui kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari lainnya sepanjang tahun hingga November, karena virus tersebut mengurangi jumlah unggas di sana.
"Tahun ini, pasokan telur AS akan tetap terbatas selama kuartal pertama, meskipun ternak diharapkan mulai terisi kembali lebih cepat karena risiko flu burung dapat diatasi," menurut laporan prospek 2023 oleh Rabobank.
Di Jepang, harga grosir telur mencapai rekor tertinggi bulan lalu karena pengiriman turun, menurut lembaga penyiaran publik NHK. Biaya pakan yang lebih tinggi untuk ayam dan flu burung memperburuk prospek.
Baca Juga: Tiga Orang di Tulungagung Meninggal Dunia Gegara Wabah Leptospirosis
Di Jepang, situasinya mungkin tidak akan membaik dalam waktu dekat setelah peredaran virus mencapai titik tertinggi sepanjang masa.
Pada hari Selasa, kementerian pertanian mengatakan telah mengkonfirmasi kasus baru penyakit tersebut di sebuah peternakan di prefektur Hiroshima, yang menampung sekitar 835.000 ayam. Itu membuat jumlah keseluruhan wabah di seluruh negeri menjadi 58, melampaui rekor 52 yang tercatat selama musim 2020.
Setidaknya 23 prefektur Jepang sekarang terpengaruh oleh masalah ini, naik dari 18 prefektur pada tahun 2020, yang merupakan rekor tertinggi sebelumnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Asosiasi Bisnis RI - Filipina Resmi Terbentuk, Fokus Atasi Hambatan Dagang
-
Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?
-
Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang
-
Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024
-
Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta
-
Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang
-
Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi
-
Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste
-
Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu
-
Bukan Dihapus, Ini Alasan 13 SPBU di Jabodetabek Tak Lagi Jual Pertalite