Bisnis / Makro
Jum'at, 07 Juli 2023 | 11:56 WIB
Pekerja melintasi areal tambang bawah tanah Grasberg Blok Cave (GBC) yang mengolah konsentrat tembaga di areal PT Freeport Indonesia, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (17/8/2022). ANTARA FOTO/Dian Kandipi

Suara.com - PT Freeport Indonesia hingga kini belum juga melakukan penawaran umum perdana saham atau Intial Public Offering (IPO), padahal perusahaan tukang keruk emas di bumi Papua tersebut sudah lama beroperasi di Tanah Air.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku terus mencoba menawarkan Freeport untuk IPO, namun ajakan tersebut masih bertepuk sebelah tangan.

Meski demikian kata Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna, bahwa secara umum bursa terus mengajak perusahaan layak IPO untuk melantai di bursa.

“Misalnya, kami dengan Mandiri Sekuritas akan menggali potensi perusahaan-perusahaan layak IPO di seluruh Indonesia. Termasuk Freeport,” jawab Nyoman ketika ditanya upaya BEI mengajak Freeport IPO, Jumat (7/7/2023).

Untuk diketahui, Freeport Indonesia merupakan pemegang konsensi area tambang Grasberg dengan cadangan terbukti mencapai 4 miliar ton.

Untuk cadangan emas mencapai 1,8 miliar ton yang akan ditambang hingga 2041, dengan cadangan (proven+probable) secara keseluruhan sampai 31 Desember 2019 dengan total nilai sebesar 29.08 juta troy oz.

Saat ini, sebanyak 48,8 persen porsi saham Freeport Indonesia dipegang oleh Freeport-Mc Moran Inc dan 51,23 persen dikuasai Inalum.

Namun, kepemilikan Inalum secara langsung sebesar 26,2 persen dan 25 persen dipegang perusahaan patungan Inalum dan Pemerintah Daerah Papua yakni PT Indonesia Papua Metal Mineral.

Baca Juga: Kemendag Gelar Karpet Merah Buat Freeport Ekspor Konsentrat Tembaga

Load More