Sementara itu, kurang lebih pada waktu yang sama, Pemerintah Hindia Belanda juga mendirikan sebuah badan yang diberi nama Kantoor voor Chineesche Zaken (Kantor Urusan China), yang bertugas antara lain sebagai pemberi saran kepada pemerintah kolonial dalam berhubungan dengan masyarakat Tionghoa.
“Namun munculnya Sinologi di Indonesia sebagai suatu kegiatan akademik barulah terjadi setelah Perang Dunia II berakhir, setelah dua sarjana hukum Belanda, Prof. Dr. Van der Valk dan Dr. Mr. Meyer, mendirikan Sinologische Instituut (Lembaga Sinologi) dengan dibantu oleh Dr. R.P Kramers pada tahun 1947,” tutur Dahana.
“Sesuai dengan namanya, lembaga yang mereka dirikan itu bertujuan mendidik ahli-ahli China dalam tradisi Sinologi,” jelasnya.
Generasi pertama sinolog Indonesia yang dihasilkan oleh lembaga di atas kebanyakan berlatar belakang etnik Tionghoa, antara lain adalah Sie Ing Djiang, Li Chuan Siu, Tan Lan Hiang, dan Tan Ngo An.
“Belakangan, lembaga yang menjadi cikal bakal Program Studi Cina Universitas Indonesia itu diperkuat dengan kedatangan Profesor Tjan Tjoe Som, sinolog tamatan Universitas Leiden yang memilih mengabdi di negaranya, alih alih menjadi profesor di negeri Belanda,” tutur Dahana.
“Profesor Tjan Tjoe Som dan sinolog Indonesia generasi pertama itulah yang melahirkan para sinolog-sinolog generasi berikutnya, termasuk Profesor Gondomono, Dr. Ignatius Wibowo, dan jurnalis senior Rene Pattiradjawane,” kata Dahana.
Namun Dahana menyayangkan kecenderungan akhir-akhir ini, seiring dengan era kebangkitan Cina, yang menurut beliau cenderung melemahkan Sinologi.
“Kini makin banyak jurusan yang menamakan diri jurusan atau program studi Cina, namun hanya menitikberatkan pada pengajaran bahasa Mandarin,” katanya.
Selain itu, Dahana juga menyatakan keprihatinan dengan kecenderungan pengamat-pengamat tertentu yang kehilangan sikap kritis dalam melakukan kajian terhadap Cina.
Baca Juga: Warner Bros Klarifikasi Peta Laut Cina Selatan di Film Barbie yang Picu Kemarahan Pemerintah Vietnam
“Padahal penting bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh pengetahuan yang obyektif tentang Cina, yang diperoleh melalui proses belajar yang kritis,” tuturnya.
Senada dengan Profesor Dahana, Profesor Hermina Sutami mengatakan bahwa studi Cina merupakan merupakan kegiatan ilmiah mempelajari negara Tiongkok/Cina di bidang tertentu.
Sedangkan sinologi merupakan ilmu pengetahuan di bidang tertentu mengenai negara Tiongkok/Cina. Dalam pandangan beliau, studi Cina atau sinologi saat ini menghadapi banyak tantangan. Antara lain bagaimana mempelajari bahasa Mandarin sesuai dengan fungsi mempelajari bahasa asing.
Fungsi tersebut, menurut Sutami, antara lain sebagai alat komunikasi dengan bangsa lain, mempercepat proses pembangunan bangsa dan negara Indonesia, serta memanfaatkan ilmu dan teknologi negara asing yang bahasanya dipelajari dalam menghadapi persaingan bebas.
Tantangan lainnya adalah bagaimana mengembangkan studi Cina guna memahami negara Tiongkok dari pelbagai bidang ilmu agar terjalin hubungan harmonis antara Indonesia dengan Tiongkok.
Selain itu ketertkaitan sinilogi dan upaya agar terjalin hubungan harmonis antar orang Indonesia keturunan Tionghoa dan Non Tionghoa di Indonesia juga merupakan tantangan yang masih perlu dihadapi.
Akhirnya, dalam konteks pembelajaran bahasa Mandarin, Sutami menekankan pentingnya mengembangkan metode pengajaran bahasa Mandarin untuk pembelajar Indonesia dengan memasukan local wisdom.
“Ini merupakan tantangan tersendiri yang tidak boleh diabaikan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua FSI Johanes Herlijanto menekankan pentingnya kesetaraan dalam hubungan Indonesia Cina. Kesetaraan itu, menurutnya dapat dicapai antara lain dengan terus memperoleh pemahaman yang obyektif dan kritis terhadap Cina.
Johanes juga mendorong agar semakin banyak pelajar dan kaum terdidik di Indonesia turut serta mengembangkan kajian kritis terhadap Cina.
“Harapan kami agar baik orang Tionghoa maupun non Tionghoa semakin berminat mempelajari sinologi, sebuah kajian akademik yang menjadikan sejarah, sosial, politik, ekonomi, dan prilaku hubungan internasional Cina sebagai obyek studinya,” pungkas Johanes.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Perempuan Jadi Korban Jika Industri Tembakau Tertekan
-
Pemadaman Bergilir Akibat Pemangkasan RKAB Batubara oleh Kementerian ESDM
-
Hitung-hitungan Kerugian Negara dari Peredaran Rokok Ilegal
-
418 Ribu Penumpang Nikmati Diskon Kapal Feri, Kuota Masih Tersedia
-
Ternyata Kemasan Rokok Polos Melanggar Aturan
-
Prabowo Bakal Luncurkan BBM Baru, Segini Harganya
-
Begini Modus WNA Curi Emas di Wilayah Gunung Botak
-
Kemasan Rokok Polos Berisiko Gerus Penerimaan Negara hingga Puluhan Triliun
-
Patriot Bond Jadi Tempat Pencucian Uang, DPR: Insentif Menarik Investor
-
Berdampak ke Industri Kretek Lokal, Kemenperin Tolak Batas Tar dan Nikotin Rokok