Suara.com - Nikotin selama ini dilabeli sebagai penyebab dari masalah kesehatan akibat kebiasaan merokok. Menariknya, sejumlah pakar kesehatan masyarakat justru menilai nikotin mempunyai potensi yang dapat dieksplorasi lebih lanjut untuk membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaannya. Dengan demikian, pelabelan negatif terhadap senyawa alami ini merupakan kekeliruan.
Sebagai informasi, organisasi penelitian kanker independen dari Inggris, Cancer Research UK, menyebutkan bahwa nikotin bukanlah pemicu utama penyakit yang berkaitan dengan merokok, serta bukan penyebab utama kanker.
Hal ini diperkuat European Code Against Cancer yang menjelaskan bahwa nikotin adalah senyawa kimia yang secara alami ditemukan pada tanaman tembakau dan memiliki efek adiksi ketimbang menyebabkan kanker secara langsung.
“Orang-orang merokok demi nikotin, namun mereka mati karena penolakan terhadap pengurangan risiko. Tantangan bagi kami adalah menghasilkan strategi yang tidak hanya berhasil, namun juga bekerja lebih baik dibandingkan strategi lainnya,” kata mantan Direktur Layanan Alkohol dan Narkoba di Rumah Sakit St. Vincent, Dr. Alex Wodak, pada acara Global Forum on Nicotine, belum lama ini seperti dikutip Senin (25/3).
Strategi yang dimaksud adalah dengan mengimplementasikan pengurangan risiko tembakau melalui pemanfaatan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik (vape) dan produk tembakau yang dipanaskan. Alasannya, produk-produk tersebut telah terbukti secara kajian ilmiah memiliki profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok.
Pengurangan risiko pada produk seperti vape dan produk tembakau yang dipanaskan disebebakan karena produk tersebut menerapkan sistem pemanasan sehingga mampu meminimalisir risiko-risiko kesehatan. Dengan begitu, perokok dewasa yang selama ini kesulitan untuk beralih dari kebiasaannya masih bisa mendapatkan asupan nikotin tanpa harus terpapar senyawa-senyawa berbahaya seperti TAR yang terdapat pada asap rokok, yang mengimplementasikan pembakaran.
Garret McGovern, dokter yang memiliki spesialisasi dalam pengobatan kecanduan, menambahkan penggunaan produk tembakau alternatif, yang jauh lebih rendah risiko daripada rokok, dapat menjadi pilihan bagi perokok dewasa yang ingin mengkonsumsi nikotin.
“Sebelum produk tembakau alternatif hadir, kita belum pernah mendengar tentang nikotin. Kini, kita dapat mempertimbangkan potensi dan manfaat nikotin daripada menjadikan nikotin sebagai kambing hitam untuk segala hal,” tegas McGovern.
Senada, Mark Oates yang merupakan Direktur We Vape sekaligus Asosiasi Pengguna Snus, berpendapat telah terjadi misinformasi secara besar-besaran tentang nikotin. Sebagai contoh, senyawa ini dikaitkan dengan berbagai penyakit akibat merokok seperti kanker. Padahal, dengan tetap memanfaatkan nikotin yang dihantarkan melalui produk tembakau alternatif, hal ini dapat membantu perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaannya.
Baca Juga: Cukai Rokok Mahal, Permintaan Rokok Kretek Tangan Dji Sam Soe Naik 32,4 Persen
“Kami melihat negara-negara seperti Swedia yang telah melakukan transisi ke produk alternatif ini. Jika para pembuat kebijakan menyadari hal ini, mereka dapat memahami bahwa produk ini adalah produk yang lebih rendah risiko dan merupakan satu-satunya jalan ke depan,” jelas Oates.
Dalam kesempatan berbeda, Peneliti dari Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor (IPB), Mohammad Khotib, menjelaskan nikotin adalah senyawa kimia yang masuk ke dalam golongan alkaloid dan secara alami terkandung dalam tembakau. Nikotin sebenarnya juga dapat ditemukan pada beberapa tanaman lainnya seperti kentang, terong, dan tomat, namun konsentrasinya masih kecil.
Ia juga mengatakan bahwa produk tembakau alternatif menjadi pilihan bagi perokok dewasa yang selama ini kesulitan untuk berhenti dari kebiasaannya. Dengan beralih ke produk ini, potensi risiko kesehatan mereka dapat berkurang dibandingkan dengan lanjut merokok.
“Menghalangi orang untuk tidak merokok akan berat sekali, sehingga salah satu cara yang bisa digunakan adalah memanfaatkan produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko. Hal ini bisa digunakan untuk mengurangi dampak kesehatan yang ditimbulkan,” jelas Khotib.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Penjualan MARK Naik 50%, Kenaikan Biaya Produksi Mulai Tekan Margin
-
6 Sabun Cuci Muka Niacinamide yang Mencerahkan, Wajah Kusam Jadi Glowing Sesuai Review
-
Siapa Setya Budi Dias Oktavianto? Staf KPK yang Terlibat Kasus Korupsi Bupati Pemalang
-
Bobotoh dan Jakmania Wajib Baca! Marc Klok Kirim Pesan Tegas Jelang Timnas Indonesia vs Timor Leste
-
Cara Merawat Pintu Mobil Keluarga Sliding Door, plus 10 Opsi Mulai 50 Jutaan Kabin Luas
-
Pajak Ada di Mana-mana, Kapan Manfaatnya Benar-benar Dirasakan Kita Semua?
-
Kejagung Tolak Komentar dan Serahkan Kasus Kematian Tak Wajar Sutrimo ke Polisi
-
6 Manfaat Testosteron Menurut Androlog, Tidak Cuma Soal Gairah Seks
-
Anggaran Wisata Religi Bandar Lampung jadi Sorotan BPK
-
Polisi Tutup Kasus Kim Soo Hyun, Tuduhan Eksploitasi Anak Tak Terbukti