Suara.com - Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) membeberkan kondisi industri tepung terigu yang dibebankan oleh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari impor gandum. Padahal, dalam peraturan bahwaa impor produk pangan bebas PPN.
Ketua APTINDO, Franciscus Welirang mengatakan, selama ini produsen selalu dipungut PPN oleh pemerintah saat melakukan impor gandum.
Kondisi ini berbeda dengan produk pangan lainnya seperti kedelai yang tidak ditagih PPN.
"Kedelai kalau impor nggak bayar PPN. Jagung impor nggak bayar PPN. Tapi gandum kalau impor bayar PPN. Impor beras nggak gak bayar PPN. Kenapa? nggak tau. Tak apa-apa, kita menjadi pembayar pajak yang baik kan," ujarnya saat berbincang di Wisma Indocement, Jakarta, yang dikutip, Kamis (19/9/2024).
Pria yang kerap disapa Franky ini menyebut, dasar aturan pengenaan PPN pada impor gandum yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 78 Tahun 2010 serta PMK Nomor 186 Tahun 2022.
Menurut dia, selain PPN dari impor, produsen tepung terigu juga dihadapkan pada pungutan PPN penjualan.
"Industri terigu nasional merupakan bahan pokok hasil industri menanggung PPN, terigunya dipungut PPN," jelas dia.
"20 tahun kami sudah bayar pajak nggak apa-apa. Sudah rela. Tapi ingat, bahwa gandum itu pembayar pajak," ucap Franky.
APTINDO juga menyoroti harga terigu eceran berdasarkan data Kementerian Perdagangan naik pesat selama Januari sampai September 2022, kemudian stabil sampai September 2024.
Baca Juga: Insentif Pajak Pembelian Rumah Diperpanjang, Milenial dan Gen Z Merapat!
Sedangkan, harga di tingkat pabrik hanya naik selama Septembe 2021 hingga Juli 2022, kemudian stabil pada Apil 2024, selanjutnya terus menurun hingga sekarang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita
-
Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru
-
Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun
-
PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025
-
CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai
-
BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
-
Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026
-
PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen
-
Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun
-
Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara