Suara.com - Pemerintahan Trump pada hari ini mengumumkan biaya untuk kapal buatan Tiongkok. Lantaran, berdasarkan penyelidikan Perwakilan Dagang Amerika Serikat oleh pemerintahan Biden-Trump menemukan tindakan, kebijakan, dan praktik Tiongkok tidak masuk akal dan membebani atau membatasi perdagangan AS.
“Kapal dan pengiriman sangat penting bagi keamanan ekonomi Amerika dan arus perdagangan yang bebas. Tindakan pemerintahan Trump akan mulai membalikkan dominasi Tiongkok, mengatasi ancaman terhadap rantai pasokan AS, dan mengirimkan sinyal permintaan untuk kapal buatan AS," kata Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dilansir dari CNBC International, Sabtu (19/4/2025).
Pihak AS mengatakan Tiongkok sebagian besar mencapai dominasinya melalui penargetan yang semakin agresif dan spesifik terhadap sektor-sektor ini, yang sangat merugikan perusahaan, pekerja, dan ekonomi negaranya. Biaya akan dikenakan sekali per pelayaran dan bukan per pelabuhan, seperti yang diusulkan semula.
Rencana ini dikonfirmasi Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer melalui pemberitahuan Federal Register. Biaya untuk semua kapal buatan China di AS bakal naik berdasarkan tonase bersih atau barang yang diangkut pada setiap pelayaran.
Adapun, usulan kebijakan, yang dimulai di bawah pemerintahan Biden dan berpuncak pada laporan Januari yang menyimpulkan bahwa industri pembuatan kapal Tiongkok memiliki keuntungan yang tidak adil. Serta memungkinkan pemerintah AS untuk mengenakan pungutan yang tinggi pada kapal-kapal buatan Tiongkok yang tiba di pelabuhan AS.
Nantinya, akan ada biaya terpisah untuk kapal yang dioperasikan China dan kapal yang dibuat China, dan keduanya akan meningkat secara bertahap selama tahun-tahun berikutnya.
Untuk kapal yang dibuat China, biayanya mulai dari 18 dollar AS per NT atau 120 dollar AS per kontainer. Artinya, kapal dengan 15.000 kontainer bisa dikenakan biaya sebesar 1,8 juta dollar AS. USTR mengakui perubahan ini dilakukan karena komentar publik pada dua hari sidang tentang denda pada bulan Maret di mana lebih dari 300 kelompok dagang dan pihak berkepentingan lainnya bersaksi.
Banyak yang memperingatkan pemerintah dalam surat dan kesaksian bahwa AS tidak dalam posisi untuk memenangkan perang ekonomi yang menempatkan operator laut yang menggunakan kapal buatan Tiongkok di tengah-tengah. Segera, kapal buatan Tiongkok akan mewakili 98% kapal dagang di lautan dunia.
Sementara itu, pemilik kapal dapat memenuhi syarat untuk pengurangan biaya jika mereka dapat memberikan bukti pesanan pembuatan kapal AS. Pengurangan biaya akan didasarkan pada kapasitas tonase bersih yang sama dengan atau kurang dari kapal buatan AS yang dipesan.
"Jika calon pemilik kapal tidak menerima pengiriman kapal buatan AS yang dipesan dalam waktu tiga tahun, biaya akan segera jatuh tempo," demikian bunyi laporan tersebut.
Biaya ini dikenakan sesuai dengan jam kapal tersebut berlabuh. Hitungannya, 180 hari pertama, biaya akan ditetapkan nol dan dipecah menjadi berbagai kategori. Semua biaya didasarkan pada tonase bersih kapal. Kapal kontainer dapat berkisar antara 50.000 hingga 220.000 ton.
Baca Juga: Badai PHK Mengintai: 1,2 Juta Pekerja RI di Ujung Tanduk Perang Tarif AS-China!
Sedangkan, biaya untuk kapal pengangkut mobil buatan luar negeri juga akan didasarkan pada kapasitasnya. Biaya akan mulai dari 150 ribu dollar per Car Equivalent Unit (CEU) dalam 180 hari. Tindakan tahap kedua tidak akan dimulai selama tiga tahun dan akan menargetkan kapal LNG. USTR akan membatasi pembatasan pengangkutan LNG melalui kapal asing. Pembatasan ini akan meningkat secara bertahap selama 22 tahun.
Jika perusahaan angkutan laut memberikan bukti pemesanan kapal buatan AS, biaya atau pembatasan pada kapal non-AS yang setara akan ditangguhkan hingga tiga tahun.· Biaya pada kapal buatan Tiongkok secara efektif tidak mencakup pengiriman Great Lakes atau Karibia, pengiriman ke dan dari wilayah AS. Ekspor massal seperti batu bara atau biji-bijian akan dikecualikan, bersama dengan kapal kosong yang tiba di pelabuhan.
Berita Terkait
-
Amerika Gagah di Perang Iran Tapi Lagi Rapuh di Dalam Negeri, Kenapa Bisa Begitu?
-
AS Selidiki Keterlibatan Peretas Iran dalam Serangan Siber Fasilitas Air Minnesota
-
Apa Tujuan Donald Trump di Perang AS-Iran Hingga Belum Mau Berhenti Menyerang?
-
Ekonomi Amerika Anjlok, Rupiah Bangkit ke Rp18.055 per Dolar AS,
-
Donald Trump Ultimatum Iran: Gencatan Senjata atau Kami Hantam Lebih Keras
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
- Sempat Nganggur Gegara Timnas Indonesia, Roberto Mancini Resmi Latih Italia
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Komplotan Curanmor di Jakarta Pakai Modus Polisi Gadungan untuk Intimidasi Korban
-
Legenda AC Milan Franco Baresi Meninggal Dunia, Pernah Terkesan dengan Suporter Indonesia
-
Segera Pensiun, Komjen Karyoto dan Fadil Imran Tak Dapat Perpanjangan Masa Dinas?
-
Polisi Bongkar 769 Kasus Curanmor, 11 Senjata Api hingga 119 Kunci T Disita
-
LPSK Proses Permohonan Perlindungan Saksi FH di Kasus TPPU Eks Jampidsus
-
Mata-Mata Iran Asal London Tertangkap Intip Pangkalan Militer Inggris di Siprus
-
Tak Cukup Putusan MK, PGRI Tagih Guru Jangan Dipaksa Menanggung Beban Tambahan
-
Ini Bukan Tinju! Pelatih Timor Leste Kirim Pesan Aneh Buat Timnas Indonesia
-
18 Nyawa Melayang di Usia Emas: Petaka Human Error di Jalan Raya Pringsewu Tembus 115 Kasus
-
Protes Tambang Nikel Raja Ampat, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk di Pembukaan GIIAS 2026