Suara.com - Ada yang unik di balik manisnya bisnis permen jelly PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI). Sang emiten permen ini baru saja merilis laporan keuangan kuartal I-2025 yang menyajikan paradoks menarik.
Di tengah penurunan pendapatan sebesar 9,4% menjadi Rp699,65 miliar (dari sebelumnya Rp772,05 miliar di periode yang sama tahun lalu), YUPI justru berhasil mencatatkan kenaikan laba yang signifikan.
Bagaimana bisa penjualan merosot, namun pundi-pundi keuntungan justru mengembang? Rupanya, strategi efisiensi biaya menjadi kunci utama. YUPI berhasil menekan beban pokok penjualan dari Rp515,17 miliar menjadi Rp462,84 miliar. Langkah cerdik ini bak sulap, mendorong laba usaha YUPI melonjak menjadi Rp204,92 miliar, melampaui capaian sebelumnya yang sebesar Rp196,83 miliar.
Lebih manis lagi, YUPI mampu membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp167,22 miliar hingga akhir Maret 2025. Angka ini melompat 8,4% dibandingkan laba periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp154,20 miliar. Fenomena ini membuktikan ketahanan profitabilitas YUPI di tengah gempuran dinamika pasar ritel.
Sebelum pajak pun, kinerja YUPI terlihat memukau. Laba sebelum pajak di kuartal I-2025 tercatat sebesar Rp212,37 miliar, meningkat dari Rp202,47 miliar pada kuartal I 2024.
Dari sisi neraca, YUPI menunjukkan agresivitas ekspansi. Total aset perusahaan melonjak signifikan menjadi Rp3,48 triliun per 31 April 2025, dibandingkan dengan Rp2,67 triliun pada akhir Desember 2024.
Sementara itu, total liabilitas juga mengalami kenaikan menjadi Rp469,57 miliar dari Rp428,40 miliar, namun kenaikan ini tampak terukur dan dalam batas pengelolaan keuangan yang sehat, mengindikasikan adanya investasi dan pengembangan bisnis yang terencana.
Asal tahu saja YUPI baru saja mencatatkan saham perdananya di Bursa efek Indonesia (BEI) dengan skema Initial Public Offering (IPO). YUPI menjadi emiten ke-11 yang melantai bursa pada tahun 2025. Perseroan bergerak pada sektor konsumer non-siklikal atau bergerak di bidang industri kembang gula.
Berdasarkan prospektus ringkasnya, Selasa (25/3), YUPI menetapkan harga saham perdana Rp 2.390 per saham dan menawarkan sebanyak 854.448.900 atau sebesar 10 persen kepemilikan.
Baca Juga: Penghasilan YouTube Aisar Khaled, Blak-blakan Ngaku Lebih Suka Ngonten di Indonesia
Jumlah saham baru itu sesuai dengan rencana awal perseroan, sehingga nilai seluruh IPO mencapai Rp 2,04 triliun, dan kapitalisasi pasar mencapai Rp 20,4 triliun.
Saham-saham terdiri dari 256.334.700 atau 3 persen saham baru, dan 598.114.200 atau 7 persen saham divestasi PT Sweets Indonesia.
Ada pun, seluruh dana yang diperoleh Perseroan dari hasil Penawaran Umum Perdana Saham terkait Saham Baru, setelah dikurangi dengan Biaya Emisi, 77 persen akan digunakan oleh Perseroan untuk keperluan pembiayaan belanja modal, yaitu pembangunan pabrik baru di daerah Nganjuk Jawa Timur, dengan total biaya yang diestimasi sebesar Rp 437,5 miliar dan diestimasi akan beroperasi paling cepat pada tahun 2026.
Kemudian 23 persen akan digunakan sebagai modal kerja Perseroan untuk melakukan ekspansi bisnis baik ke pasar internasional maupun pasar dalam negeri, yang termasuk tapi tidak terbatas untuk keperluan Term of Payment, persediaan dan penambahan jumlah karyawan.
Dana yang dialokasikan untuk Term of Payment dimaksudkan untuk mendukung kebijakan Perseroan untuk memperpanjang Term of Payment kepada distributor. Hal ini dilakukan oleh Perseroan untuk mendukung peningkatan penjualan.
Dana yang digunakan untuk persediaan mencakup pembelian bahan baku dan proses produksi hingga menjadi barang jadi (finished good) guna memastikan kelancaran operasional produksi. Pengalokasian ini dilakukan untuk mengantisipasi permintaan pasar dan menjaga ketersediaan stok yang memadai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Purbaya Balas Kritik Media The Economist: Lihat Eropa, Harusnya Puji Kita
-
Pendapatan GBK Tembus Rp 812 Miliar, Tertinggi Dalam 63 Tahun
-
BPS: Harga Cabai Sudah Naik di 247 Kota
-
Teknologi Energi Surya RI Dilirik Bangladesh
-
Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global
-
Percepat Proyek Tata Air Daan Mogot, Brantas Abipraya: Penyesuaian Badan Jalan Dilakukan Bertahap
-
Apa yang Dimaksud Trading Halt? Ramai Dibicarakan karena IHSG Anjlok
-
Direksi Emiten Tambang Emas AMMN Mundur
-
Dilema PI 10% Blok Ganal: Antara Hak Daerah dan Beban Investasi Jumbo
-
Rupiah Tembus Rp17.645, Garuda Indonesia Kian Berat Menanggung Utang Dolar