Suara.com - Pekan lalu, pasar keuangan global diwarnai oleh sentimen beragam, di mana Wall Street diterpa ketidakpastian akibat ancaman tarif baru dari mantan Presiden AS Donald Trump, sementara bursa Asia Pasifik menunjukkan pergerakan yang lebih bervariasi. Di tengah dinamika ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia menunjukkan resiliensi dan berpeluang melanjutkan tren penguatan di awal pekan ini.
Wall Street Tertekan oleh Ancaman Tarif Trump
Pada penutupan perdagangan Jumat, 23 Mei 2025 lalu, bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan signifikan, mencatat kerugian mingguan yang cukup mencolok. Pemicu utamanya adalah rekomendasi mengejutkan dari Donald Trump, yang mengusulkan pengenaan tarif sebesar 50% untuk barang-barang asal Eropa. Pernyataan ini sontak membuka kembali "front" baru dalam ketegangan perdagangan global, memicu gelombang ketidakpastian di pasar finansial.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengindikasikan bahwa Trump merasa tawaran perdagangan dari Uni Eropa (UE) belum memadai. Bessent berharap ancaman tarif baru ini akan "menyalakan api di bawah UE" dalam proses negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung. Hal ini mencerminkan strategi negosiasi yang agresif, yang kerap diterapkan Trump di masa lalu.
Dampak langsung dari ancaman ini terlihat jelas pada kinerja indeks saham utama AS:
- Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 0,61%.
- S&P 500 melemah 0,67%.
- Nasdaq Composite terkoreksi paling dalam, turun 1,00%.
Penurunan ini juga tercermin pada pasar obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi acuan AS 10 tahun turun 4,4 basis poin (bps) menjadi 4,509%, menunjukkan adanya pergeseran modal investor ke aset yang lebih aman di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan perdagangan.
Sejumlah saham perusahaan raksasa (megacap) dan saham pertumbuhan (growth stocks) turut tertekan. Nama-nama besar seperti Amazon, Nvidia, dan Meta Platforms masing-masing turun lebih dari 1%. Sementara itu, Tesla ditutup melemah 0,5% dan Nike terkoreksi 2,1%. Sektor lain yang sangat terdampak adalah ritel dan alas kaki, seperti yang dialami Deckers Outdoor.
Saham perusahaan ini anjlok hampir 20% setelah perusahaan memproyeksikan penjualan bersih kuartal pertama di bawah perkiraan dan mengumumkan tidak akan merilis target tahunan, secara eksplisit menyebutkan ketidakpastian ekonomi makro yang disebabkan oleh ancaman tarif tersebut. Hal ini menggarisbawahi bagaimana sentimen perdagangan dapat dengan cepat memengaruhi proyeksi bisnis korporasi.
Bursa Asia Pasifik Menguat di Tengah Evaluasi Data Ekonomi
Baca Juga: Waspada, IHSG Bisa Alami Koreksi di Perdagangan Hari Ini
Berbeda dengan Wall Street yang tertekan, sebagian besar pasar saham di kawasan Asia Pasifik justru menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat lalu (23/5). Investor di Asia lebih fokus mencermati serangkaian data ekonomi dari berbagai negara, yang memberikan gambaran kondisi fundamental ekonomi regional.
Di Jepang, optimisme tercermin dari kenaikan indeks:
- Nikkei 225 naik 0,47%.
- Topix menguat 0,68%.
Namun, tidak semua pasar Asia menunjukkan kinerja positif. Di Korea Selatan, indeks Kospi sedikit turun 0,06% dan Kosdaq melemah 0,24%, menunjukkan adanya tekanan minor di pasar teknologi dan kapitalisasi kecil.
Di sisi lain, pasar di Australia dan Hong Kong berhasil menguat:
Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,15%.
Hang Seng Hong Kong menguat 0,24%.
Dari sisi data ekonomi, perhatian investor tertuju pada beberapa rilis penting. Inflasi inti Jepang tercatat meningkat menjadi 3,5% pada April, didorong sebagian oleh naiknya harga beras. Kenaikan inflasi ini menjadi pertimbangan krusial bagi bank sentral Jepang (BoJ) yang tengah menilai kemungkinan untuk menghentikan sementara kenaikan suku bunga, terutama untuk mengevaluasi dampak potensial dari ancaman tarif AS terhadap perekonomian Jepang.
Berita Terkait
-
BEI Pertimbangkan Perdagangan Saham Ditambah Jadi 3 Sesi
-
Sritex Pailit, Eks Dirut Jadi Tersangka Korupsi, Sahamnya Bakal Didepak dari Bursa
-
IHSG Masih Menghijau Hingga Akhir, Berikut Saham-saham yang Cuan Hari Ini
-
IHSG Masih Menghijau, Pagi Ini Dibuka di Level 7.206
-
IHSG Kembali Masuk Fase Konsolidasi dengan Target Level 7.200
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Kejagung Geledah Kantor BGN, Dilakukan di Tengah Pencopotan Dadan dan Dugaan Jual Beli Titik MBG
-
Harga Emas Antam Tetap Dibanderol Rp 2.774.000/Gram Hari Ini, Saatnya Beli?
-
IHSG Diproyeksi Menguat Lagi, Investor Bisa Cermati Saham-saham Ini
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
Terkini
-
Kadin Wanti-wanti Manajemen DSI, Fase Awal Operasi Sangat Krusial
-
IHSG Bergerak Dua Arah Pagi Ini, Masih di Level 6.100-an
-
Bank Indonesia Optimistis Inflasi Terkendali, Apa Buktinya?
-
Harga Emas Antam Tetap Dibanderol Rp 2.774.000/Gram Hari Ini, Saatnya Beli?
-
Fitch Ratings Proyeksi Profitabilitas ARTO dengan Dukungan Ekosistem GOTO
-
Tinggalkan Perang Bunga, BTN Kini Kejar CASA Lewat Ecosystem Banking
-
Harga Emas di Pegadaian Turun Semua Hari Ini, Cek Daftarnya di Sini!
-
Fitch Afirmasi Peringkat Bank Jago (ARTO) di Level A dengan Outlook Stabil
-
IHSG Diproyeksi Menguat Lagi, Investor Bisa Cermati Saham-saham Ini
-
Ratusan Bank dan Bank Syariah Resmi Merger Massal, Ini Dampaknya!