Suara.com - Pelaku usaha pelayaran se-Asia yang tergabung dalam Asian Shipowners’ Association (ASA) menyoroti perlindungan kesehatan mental pelaut. Pasalnya, pelaut kini menjadi garda terdepan dalam perdagangan antar negera.
Hal ini disoroti dalam Rapat Umum Tahunan (Annual General Meeting/AGM) ke-34 yang diselenggarakan di Jakarta, 27 Mei 2025. Pertemuan ini dihadiri sekitar 200 perwakilan dari asosiasi anggota ASA, dan diorganisasi oleh Federation of ASEAN Shipowners’ Associations (FASA).
Ketua ASA, Carmelita Hartoto mengatakan, kesehatan mental pelaut menjadi fokus utama dari rapat tahunan ini. Dia bilang kondisi kerja pelaut yang sarat tekanan dan seringkali diwarnai isolasi panjang jauh dari keluarga, yang berisiko tinggi terhadap gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.
"Pelaut merupakan tulang punggung perdagangan global yang tak tergantikan, yang memastikan pergerakan barang-barang penting melintasi samudra tanpa gangguan. Namun, peran penting mereka harus dibayar mahal, karena bertahan dalam isolasi yang berkepanjangan, dan berpisah dengan orang yang mereka cintai dalam waktu yang lama. Beban stres yang terkumulasi ini secara signifikan meningkatkan risiko kecemasan dan depresi, yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan mental," ujar Carmelita dalam rapat pertemuan tersebut yang ditulis, Rabu (28/5/2025).
ASA menyambut baik amandemen terhadap Maritime Labour Convention (MLC) 2006 yang diadopsi pada April 2025. Amandemen ini mengukuhkan pelaut sebagai pekerja kunci, memperkuat hak repatriasi, memperbolehkan cuti darat bebas visa, serta memperketat aturan anti-bullying dan pelecehan di atas kapal.
"Amandemen ini menetapkan pelaut sebagai pekerja kunci, memperkuat ketentuan pemulangan (repatriasi), menerapkan kebijakan cuti darat bebas visa, serta memperkuat langkah-langkah anti-bullying dan anti-pelecehan." bilang Carmelita.
ASA mendorong agar seluruh pelaku industri secara aktif menerapkan kebijakan yang mendukung kesejahteraan mental pelaut, mengintensifkan kampanye kesadaran, dan menempatkan perlindungan psikologis sebagai komponen utama dalam sistem keselamatan kerja.
"ASA mengapresiasi amandemen baru ini dan menyerukan aksi bersama untuk menanamkan perlindungan kesehatan mental ke dalam praktik-praktik industri, mengintensifkan inisiatif peningkatan kesadaran, dan menempatkan kesehatan mental para pelaut pada tingkat yang sama pentingnya dengan keselamatan fisik mereka," beber dia.
Dalam Rapat tahunan itu, ASA juga menegaskan komitmen terhadap pelayaran hijau dan pengelolaan siklus hidup kapal yang lebih ramah lingkungan. ASA menyambut langkah-langkah IMO dalam menyelesaikan kerangka kerja pengurangan gas rumah kaca (GRK) melalui pembaruan dari MEPC 82 dan 83, yang mencakup usulan standar bahan bakar, pungutan emisi, serta insentif teknologi nol emisi.
Baca Juga: PIS Buka Program Beasiswa Crewing Talent Scouting, Perkuat SDM Pelaut
ASA menggarisbawahi pentingnya strategi implementasi yang praktis, adil, dan inklusif, mengingat banyak operator kapal kecil dan negara berkembang menghadapi keterbatasan sumber daya dalam menerapkan teknologi rendah emisi.
Lebih lanjut, ASA mendorong transisi industri daur ulang kapal menuju standar internasional yang lebih tinggi, seiring dengan akan diberlakukannya Hong Kong Convention (HKC). Organisasi ini mengimbau negara-negara pelaku daur ulang untuk memprioritaskan penggunaan galangan bersertifikat HKC dan mendesak ratifikasi yang lebih luas.
"ASA terus mendorong dan memperkuat kebijakan jangka panjang untuk mendorong negara-negara pelaku daur ulang kapal agar mempersiapkan diri secara memadai menyambut pemberlakuan Hong Kong Convention (HKC), dengan memastikan prioritas penggunaan galangan bersertifikasi HKC serta mendorong ratifikasi yang lebih luas terhadap HKC," imbuh dia.
ASA juga menyoroti konflik potensial antara HKC dan Basel Convention, serta perbedaan regulasi regional seperti EU Ship Recycling Regulation (EU-SRR) yang dinilai perlu diselaraskan terlebih dahulu.
"ASA mendukung pengurangan kebijakan regional yang terfragmentasi dan mendorong koherensi kebijakan global demi memajukan industri daur ulang kapal ke arah yang lebih ramah lingkungan, terstandarisasi, dan berkualitas, serta membangun sistem sirkular pelayaran yang hijau," pungkas Carmelita.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Hutan Lestari Pertamina: Menenun Harmoni Alam, Menuai Kesejahteraan Masyarakat
-
Krisis Energi: Harga BBM Naik Ekstrem di Negara-negara Asia, Indonesia Waspada?
-
Dukung Perjalanan Finansial PMI, Bisnis Remitansi BRI Tumbuh 27,7% YoY Jelang Lebaran 2026
-
Harga Emas Antam di Bawah 3 Juta saat Lebaran, Cek Rincian Lengkapnya di Sini!
-
Cara Transfer BRI ke DANA Melalui BRImo, ATM, dan Internet Banking
-
IHSG Senin Pekan Ini Buka atau Tidak? Ini Jadwal Lengkap Libur Bursa
-
Harga Emas Pegadaian Turun Saat Lebaran, UBS dan Galeri 24 Anjlok!
-
Cara Mencari Lokasi ATM dan Kantor Cabang BRI Terdekat
-
Nominal Uang Pensiun DPR yang Resmi Dicabut MK
-
Jadwal dan Titik One Way Garut Selama Momen Idulfitri