- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengeluhkan kemacetan Jakarta akibat harga kendaraan yang semakin terjangkau.
- Pemerintah pusat menyiapkan solusi jangka pendek berupa kebijakan kerja fleksibel seperti work from anywhere untuk mengurangi mobilitas.
- Airlangga menyebut penyelesaian kemacetan jangka menengah dan panjang merupakan pekerjaan rumah bagi Gubernur DKI Jakarta.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengeluh semakin murahnya harga mobil dan motor berdampak pada kemacetan di Jakarta.
Namun, dilihatnya hal itu sebagai konsekuensi dari perkembangan industri dan kebijakan ekonomi nasional.
Airlangga menjelaskan, inovasi dan perbaikan kebijakan di sektor industri telah membuat harga kendaraan, khususnya mobil listrik, semakin terjangkau bagi masyarakat. Namun, dampak lanjutan dari kondisi itu perlu diantisipasi.
"Hanya saya memberi warning, makin banyak mobil murah makin macet di Jakarta," ujar Airlangga saat peluncuran Program Pelatihan Gig Economy dan AI Open Innovation Challenge di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Menurut Airlangga, kemacetan di ibu kota menjadi pekerjaan rumah bersama, terutama bagi pemerintah daerah. Ia menyinggung peran Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam mencari solusi jangka menengah dan panjang atas persoalan tersebut.
"Nah ini PR-nya Gubernur," ucapnya.
Di sisi lain, pemerintah pusat disebut telah menyiapkan langkah jangka pendek untuk merespons persoalan kemacetan. Salah satu kebijakan yang dibahas di tingkat kabinet berkaitan dengan pola kerja masyarakat perkotaan.
Airlangga mengungkapkan, kebijakan kerja fleksibel telah dilaporkan dan dibahas sebagai bagian dari solusi cepat yang dapat diterapkan tanpa menunggu pembangunan infrastruktur baru.
"Solusi jangka pendek yang paling pendek yang dilakukan kemarin saya laporkan di kabinet adalah work from anywhere and work from everywhere," kata Airlangga.
Baca Juga: Pemerintah Bidik Gig Economy Jadi Mesin Ketiga Pendorong Ekonomi Nasional
Ia menekankan, kebijakan tersebut diarahkan untuk menekan mobilitas harian warga, terutama pada jam-jam sibuk, sehingga kepadatan lalu lintas dapat berkurang.
"Mengurangi kemacetan tapi harapannya produktivitas tidak terganggu," imbuhnya.
Airlangga menilai, perkembangan teknologi digital memungkinkan banyak pekerjaan dilakukan tanpa kehadiran fisik di kantor. Kondisi ini membuka ruang bagi penerapan pola kerja yang lebih fleksibel di kawasan perkotaan seperti Jakarta.
Menurutnya, transformasi pola kerja sejalan dengan perubahan struktur ekonomi yang semakin mengarah pada digitalisasi dan gig economy. Model kerja tidak lagi harus terikat pada satu lokasi tertentu.
Berita Terkait
Terpopuler
- JK Kritik Keras Hilirisasi Nikel: Keuntungan Dibawa Keluar, Lingkungan Rusak!
- Nikmati Belanja Hemat F&B dan Home Living, Potongan Harga s/d Rp1,3 Juta Rayakan HUT ke-130 BRI
- 5 Mobil Diesel Bekas di Bawah 100 Juta, Mobil Badak yang Siap Diajak Liburan Akhir Tahun 2025
- 9 Mobil Bekas dengan Rem Paling Pakem untuk Keamanan Pengguna Harian
- Sambut HUT ke-130 BRI: Nikmati Promo Hemat Hingga Rp1,3 Juta untuk Upgrade Gaya dan Hobi Cerdas Anda
Pilihan
-
Pabrik Toba Pulp Lestari Tutup Operasional dan Reaksi Keras Luhut Binsar Pandjaitan
-
Kuota Pemasangan PLTS Atap 2026 Dibuka, Ini Ketentuan yang Harus Diketahui!
-
Statistik Suram Elkan Baggott Sepanjang 2025, Cuma Main 360 Menit
-
Pengguna PLTS Atap Meningkat 18 Kali Lipat, PLN Buka Kouta Baru untuk 2026
-
Bank Dunia Ingatkan Menkeu Purbaya: Defisit 2027 Nyaris Sentuh Batas Bahaya 3%
Terkini
-
Pabrik Toba Pulp Lestari Tutup Operasional dan Reaksi Keras Luhut Binsar Pandjaitan
-
Target Harga DEWA, Sahamnya Masih Bisa Menguat Drastis Tahun 2026?
-
Kebutuhan Mendesak? Atasi Saja dengan BRI Multiguna, Proses Cepat dan Mudah
-
Pemerintah Bidik Gig Economy Jadi Mesin Ketiga Pendorong Ekonomi Nasional
-
Kuota Pemasangan PLTS Atap 2026 Dibuka, Ini Ketentuan yang Harus Diketahui!
-
Jelang Akhir Tahun, BSI Siapkan Uang Tunai Rp15,49 Triliun
-
Menko Airlangga Puja-puji AI, Bisa Buka Lapangan Kerja
-
Hans Patuwo Resmi Jabat CEO GOTO
-
Airlangga Siapkan KUR Rp10 Triliun Biayai Proyek Gig Economy
-
Pengguna PLTS Atap Meningkat 18 Kali Lipat, PLN Buka Kouta Baru untuk 2026