- Luhut bantah keras afiliasi di TPL; Jubir tegaskan kepatuhan etika & transparansi pejabat.
- WALHI tuding TPL penyebab banjir Sumut akibat alih fungsi lahan hutan di Batang Toru.
- Isu operasional TPL tutup jadi sorotan; publik diminta waspada disinformasi di ruang digital.
Suara.com - Nama Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, kembali mencuat dan menjadi pusaran isu miring menyusul kabar goyangnya operasional PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL).
Dengan nada tegas, pihak Luhut membantah keras segala tuduhan yang menyebut dirinya memiliki afiliasi atau keterlibatan dalam perusahaan produsen bubur kertas tersebut.
Juru Bicara Luhut, Jodi Mahardi, menyatakan bahwa spekulasi yang mengaitkan Luhut dengan TPL adalah informasi yang keliru dan tidak berdasar.
"Informasi tersebut adalah tidak benar. Pak Luhut tidak memiliki, tidak terafiliasi, dan tidak terlibat dalam bentuk apa pun baik secara langsung maupun tidak langsung dengan Toba Pulp Lestari," tegas Jodi dalam keterangannya, Kamis (18/12/2025).
Jodi menegaskan bahwa sebagai pejabat negara, Luhut secara konsisten mematuhi ketentuan perundang-undangan, terutama terkait transparansi dan pengelolaan potensi konflik kepentingan. Ia pun meminta publik untuk tidak mudah termakan disinformasi di ruang digital.
"Setiap klaim yang beredar terkait kepemilikan atau keterlibatan beliau merupakan informasi yang keliru. Beliau juga selalu terbuka terhadap proses verifikasi fakta," tambah Jodi.
Sorotan terhadap PT Toba Pulp Lestari menguat setelah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) melemparkan kritik tajam. TPL dituding melakukan alih fungsi lahan hutan melalui aktivitas kemitraan kebun kayu di kawasan Batang Toru.
Aktivitas tersebut dinilai menjadi faktor utama pemicu bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Pulau Sumatera belakangan ini. Wilayah yang paling terdampak imbas rusaknya ekosistem di Batang Toru meliputi Tapanuli Tengah (Tapteng), Sibolga dan Tapanuli Selatan (Tapsel)
Bagi para pegiat lingkungan, operasional TPL dianggap mengancam keberlanjutan ekosistem lokal. Di sisi lain, isu penutupan operasional perusahaan ini menjadi perhatian serius pelaku ekonomi karena dampaknya terhadap industri pulp dan kertas nasional serta penyerapan tenaga kerja di wilayah Sumatera Utara.
Baca Juga: Rp17 Miliar Terkumpul, Musisi Indonesia Peduli bagi Korban Bencana
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
Pilihan
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
Terkini
-
Rombak Besar-Besaran, Kementerian ESDM Lantik 107 Pejabat Administrator dan Pengawas
-
DPR Sepakat Anggaran Kemenkeu 2027 Capai Rp 49,8 Triliun, Ini Rinciannya
-
Brantas Abipraya Percepat Modernisasi Transportasi Bandung lewat Proyek BRT Metropolitan
-
Mendag Terbitkan Aturan Baru, Begini Tata Cara Ekspor Komoditas SDA Lewat PT DSI
-
PLN Defisit 20 Juta Ton Batubara, Wamen ESDM Jamin Kuota RKAB 2026 Naik
-
TelkomGroup Perkuat Transformasi Bisnis dan Implementasi ESG untuk Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan
-
IHSG Mulai Melemah Kembali Tapi Masih di level 6.200, Saham BBCA Gacor
-
Dunia Borong Perhiasan Indonesia, Nilai Ekspor Melonjak hingga 9,1 Miliar Dolar AS
-
Pemilik Angkat Bendera Putih, Pizza Hut Resmi Dijual Rp47 Triliun
-
Pinjol Akseleran dan Awantunai Alami Kredit Macet Tinggi, Terancam Bangkrut!