Suara.com - Krisis ekonomi Nigeria telah mendorong banyak keluarga ke jurang kebangkrutan. Inflasi semakin parah, pengangguran melonjak, dan jutaan orang berjuang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Dilansir BBC, krisis itu membuat banyak anak muda, terutama di komunitas berpenghasilan rendah, jalur tradisional menuju kesuksesan—pendidikan, magang, atau kewirausahaan tampaknya terlalu lambat atau bahkan terhalang sama sekali.
Hal ini membuat anak muda di Nigeria pun lebih memilih judi untuk bisa kaya lebih cepat.
Menurut survei terbaru oleh Biro Statistik Nasional, tingkat pengangguran di kalangan anak muda mencapai lebih dari 53 persen. Bagi remaja yang melihat bergelar sarjana tetapi tidak memiliki pekerjaan, taruhan judi di sektor olahraga terasa seperti pertaruhan yang lebih rasional daripada sekolah.
Namun, di balik setiap kesuksesan yang diraih dalam semalam, banyak orang lain merugi setiap hari. Mereka terjerumus lebih dalam ke dalam kecanduan dan frustrasi untuk judi.
Lonjakan taruhan judi onlie maupun di toko memicu kecanduan dan utang di kalangan anak muda. Hal ini menjadi perhatian besar bagi Pemerintah.
Adapun, toko perjudian menjamur di kota-kota ramai seperti Lagos dan Port Harcourt hingga kota-kota yang lebih tenang di Zamfara dan Cross River. Banyak yang beroperasi hingga larut malam dan melayani siapa pun yang datang, tanpa memandang usia.
Apalagi, proses judi di Nigeria sangat mudah. Dengan ponsel, VPN, dan minim pengawasan, anak-anak dapat membuka akun, menyetor uang melalui transfer dompet, dan bertaruh sepanjang waktu.
Sebagian besar perusahaan taruhan mengklaim membatasi akses hanya untuk mereka yang berusia di bawah 18 tahun, tetapi penegakannya lemah dan pengawasannya hampir tidak ada.
Baca Juga: Geger! WNA Nigeria Diamankan Polisi Usai Bikin Heboh Apartemen Kalibata City
Dalam hal ini, orang tua di Nigeria banyak kewalahan oleh tekanan keuangan, seringkali tidak menyadari, atau bahkan menyangkal, keterlibatan anak-anak mereka dalam perjudian.
Dalam beberapa kasus tragis, kecanduan ini telah menyebabkan pencurian, kekerasan, atau putus sekolah. Baru-baru ini, ada laporan tentang seorang anak berusia 12 tahun yang mencuri ponsel ibunya untuk mendanai akun taruhan online-nya. Ketika dikonfrontasi, ia dilaporkan berkata,
"Saya hanya ingin menghasilkan uang untuk membantu kami makan,"katanya.
Untuk itu, para ahli memperingatkan bahwa dampak psikologis taruhan pada anak-anak sangat menghancurkan masa depannya. Dr. Yetunde Falade, seorang psikolog anak, mengatakan ketika seorang anak terus-menerus mengejar kemenangan yang tidak pasti, mereka menjadi terkondisi untuk mendapatkan kepuasan instan.
"Hal ini mendistorsi kemampuan mereka untuk menunda imbalan, berfokus pada tujuan jangka panjang, dan mengelola emosi—semuanya penting untuk perkembangan yang sehat,"tandasnya.
Berita Terkait
-
Jusuf Kalla: Krisis Global Hantui Indonesia Akibat Perang
-
JK Ramal Krisis Dahsyat! Perang Picu Ekonomi RI Merosot, Siap-siap Dampaknya
-
3 Negara Ini Sepakat Gunakan Pinjaman Baru untuk Hadapi Krisis Ekonomi
-
Geger! WNA Nigeria Diamankan Polisi Usai Bikin Heboh Apartemen Kalibata City
-
Wajah Muda, Umur Tua: Awas Trik Licik Piala Dunia U-17
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Cabai Makin Murah, Tapi Daging Sapi dan Telur Ayam Terus Naik, Ini Update Harga Pangan
-
Ensiklopedia Digital Open Source Berbasis MediaWiki Siap Perkuat Dokumentasi Pengetahuan Indonesia
-
Kebijakan Tahan BI Rate 5,75 persen Disebut Bisa Dorong Penyaluran Kredit Perbankan
-
Flek Hitam Muncul di Usia Berapa? Ini Cara Mencegah dan Menghilangkannya
-
4 Tips Menyimpan Sepeda Lipat agar Awet, Bebas Karat, dan Tetap Nyaman Dikendarai
-
Tarif Naturalisasi Rp75 Juta, Pakar Minta Pemerintah Tak Jadikan Kewarganegaraan Hak Orang Berduit
-
Gara-gara Kue, Ketua DPRD Bone Diduga Aniaya Staf PPPK
-
Waspada! KPAI Ungkap Anak Indonesia Kini Terjebak 'Industri Kecemasan' dan 'Candu Digital'
-
Alarm Diabetes Indonesia: Skrining BPJS Belum Mampu Menjangkau Jutaan Kasus Tersembunyi?
-
Sekolah Masih Kekurangan Guru, PGRI Tolak Anggaran Pendidikan Dipangkas demi MBG