- Skytrax turunkan peringkat Garuda Indonesia dari maskapai bintang 5 menjadi bintang 4.
- Penurunan dipicu produk pesawat dan fasilitas bandara yang ketinggalan zaman.
- Performa direksi baru, termasuk dua ekspatriat, kini dipertanyakan publik.
Suara.com - Kabar kurang sedap menerpa maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Di tengah upaya transformasi besar-besaran, maskapai kebanggaan tanah air ini justru harus rela turun kasta.
Skytrax resmi mencabut predikat bintang 5 milik Garuda dan menurunkannya menjadi maskapai bintang 4.
Penurunan peringkat ini terasa menyesakkan. Pasalnya, langkah efisiensi dan restrukturisasi yang tengah dijalankan manajemen dinilai berdampak pada kualitas fasilitas yang mulai "uzur".
Laporan terbaru Skytrax menyebutkan, meski pelayanan staf kabin dan staf darat Garuda masih jempolan, namun urusan produk fisik adalah cerita lain. Skytrax menyoroti fasilitas di pesawat maupun di bandara (Jakarta dan Denpasar) yang sudah ketinggalan zaman dan butuh modernisasi segera.
"Peringkat Garuda Indonesia telah diturunkan menjadi maskapai bintang 4. Banyak produk di dalam pesawat dan fasilitas darat yang kini sudah sangat ketinggalan zaman," tulis Skytrax dalam laman resminya, dikutip Sabtu (7/3/2026).
Restrukturisasi yang berkepanjangan tampaknya membuat investasi pada pemeliharaan kursi, sistem hiburan (in-flight entertainment), hingga fasilitas ruang tunggu menjadi terhambat.
Ironisnya, penurunan kasta ini terjadi justru setelah emiten bersandi GIAA tersebut merombak total susunan direksinya pada Oktober 2025 lalu. Saat itu, Glenny H. Kahuripan didapuk menjadi Direktur Utama menggantikan Wamildan Tsani.
Tak main-main, Garuda bahkan memboyong dua tenaga ahli asing ke dalam jajaran direksi untuk mempercepat pemulihan, pertama, Neil Raymond Nills eks COO Air Italy yang menjabat sebagai Direktur Transformasi dan Balagopal Kunduvara veteran Singapore Airlines selama 25 tahun yang kini memegang kendali Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko.
Kehadiran Balagopal yang punya rekam jejak mentereng di Singapore Airlines maskapai langganan bintang 5 awalnya diharapkan mampu membawa standar kelas dunia ke Garuda. Namun, tantangan finansial dan tumpukan beban masa lalu nampaknya masih menjadi sandungan nyata.
Baca Juga: Garuda Indonesia Turun Kasta Jadi Bintang 4, Kenyamanan dan Fasilitas Menurun
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris PT Telkom
-
Borong Penghargaan HR Asia 2026, PT Pegadaian Jadi Best Company to Work For in Asia untuk ke-8 Kali
-
Dorong Kenyamanan Wisata Bali, BTN Ekspansif Dorong Bale Untuk Permudah Transaksi
-
RUPS PT Telkom Setujui Dividen Rp21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp4 Triliun
-
Hak Ekspor CPO Milik Eksportir Masih Berlaku, Tak Direbut PT DSI
-
OJK dan CFX Dorong Inovasi dan Regulasi Adaptif di Industri Aset Kripto
-
CFX Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Perkuat Literasi Aset Kripto dan Blockchain Nasional
-
IDRX: Stablecoin Rupiah Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia
-
Regulasi Kripto Sudah di Level UU, DPR Sebut Indonesia Selangkah Lebih Maju
-
OJK Siapkan Tiga Kebijakan Strategis, Dorong Tokenisasi Aset dan Stablecoin Nasional