Suara.com - Perekonomian Korea Selatan (Korsel) tumbuh 0,6 persen pada kuartal kedua. Pertumbuhan ini membuat negara ginseng terhindar dari resesi.
Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh pemulihan konsumsi swasta dan ekspor yang kuat. Rinciannya, produk domestik bruto riil negara tersebut ukuran utama pertumbuhan ekonomi naik 0,6 persen pada periode April hingga Juni.
Pertumbuhan ini meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,5 persen.
Secara tahunan (year-on-year), perekonomian tumbuh 0,5 persen pada kuartal kedua, dibandingkan dengan pertumbuhan nol pada tiga bulan pertama tahun ini.
Kontraksi ekonomi pada kuartal pertama didorong oleh krisis politik dalam negeri yang dipicu oleh deklarasi darurat militer oleh mantan Presiden Yoon Suk Yeol.
Serta, ketidakpastian yang berasal dari kebijakan tarif besar-besaran Presiden AS Donald Trump, yang membebani belanja konsumen dan memperlambat pertumbuhan ekspor.
"Meskipun investasi konstruksi masih lesu, ekspor berkinerja lebih baik dari perkiraan berkat pengiriman semikonduktor yang solid pada kuartal kedua. Konsumsi swasta juga pulih setelah ketidakpastian politik domestik mereda," ujar pejabat Bank Of Korea (BOK), Lee Dong-won dilansir dari Korea Herald, Kamis (24/7/2025).
Selain itu, ekspor meningkat 4,2 persen dibandingkan tiga bulan sebelumnya pada kuartal kedua, didorong oleh permintaan global yang kuat untuk semikonduktor dan produk petrokimia.
Pengeluaran swasta naik 0,5 persen pada kuartal kedua, seiring dengan peningkatan pengeluaran untuk otomotif dan budaya, di antara sektor-sektor lainnya. Pengeluaran pemerintah naik 1,2 persen. Namun, investasi fasilitas turun 1,5 persen, sementara investasi konstruksi juga turun 1,5 persen.
Baca Juga: Unik, Korsel Bagi-bagi Voucher Rp 5 Juta ke Ibu-ibu Supaya Semangat Belanja
BOK menyatakan bahwa ekspor neto dan permintaan domestik masing-masing berkontribusi 0,3 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua.
Dampak rencana tarif agresif Amerika Serikat terhadap ekspor Korea Selatan terbatas pada kuartal kedua, karena tarif timbal balik sebesar 25 persen ditunda, menurut BOK.
"Permintaan yang meningkat di awal untuk mengantisipasi kenaikan tarif di masa mendatang juga berkontribusi pada pertumbuhan ekspor selama periode tersebut," ujar Lee.
Sebelumnya, para bulan April, Trump menunda penerapan tarif timbal balik terhadap Korea Selatan dan mitra dagang lainnya selama 90 hari, kemudian memperpanjang batas waktu hingga 1 Agustus. Pemerintah Seoul saat ini sedang gencar melakukan negosiasi perdagangan dengan Washington di menit-menit terakhir.
"Mulai kuartal ketiga, dampak tarif AS kemungkinan akan lebih terasa. Namun, permintaan domestik dapat membaik didorong oleh anggaran tambahan dan pemulihan sentimen ekonomi," tambah pejabat tersebut.
BOK sebelumnya memperkirakan ekonomi Korea Selatan akan tumbuh 0,8 persen tahun ini, setelah ekspansi 2 persen pada tahun 2024.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
Terkini
-
Harga Emas dan Buyback di Pegadaian Naik, Galeri 24 dan UBS Kompak Meroket
-
Harga Emas Melemah Setelah Sempat Kembali ke Level 5.000 Dolar AS
-
Cara Update Data Desil DTKS 2026 Agar Dapat Bansos
-
Apa Itu 'Saham Gorengan'? Ramai Dibahas Imbas Kasus PIPA dan MINA
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
IES 2026 Menjadi Ruang Dialog Ekonomi, Energi, dan Daya Saing Indonesia
-
Kemenperin Akui Baja China Jadi Masalah di Indonesia
-
Permintaan Obligasi Indonesia Turun ke Titik Terendah dalam Setahun Terakhir
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Pertamina Gagalkan Pencurian 10 Ton Minyak Mentah di Prabumulih