Suara.com - Amerika Serikat (AS) tercatat sebagai negara penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia. Sebuah fakta yang kontras dengan polemik tarif impor yang belakangan ini mewarnai hubungan bilateral kedua negara.
Indoensia sendiri kini dikenakan tarif impor 19 persen oleh AS dan mulai berlaku pada 7 Agustus 2025 mendatang.
Dalam konferensi pers, Jumat (1/8/2025), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, membeberkan data neraca perdagangan Indonesia sepanjang semester I 2025. "Untuk neraca perdagangan total, yaitu migas dan non-migas, tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar USD8,57 miliar, kemudian India sebesar USD6,59 miliar, dan Filipina sebesar USD4,40 miliar," kata Pudji.
Posisi AS yang kokoh di puncak daftar ini menjadi bukti betapa kuatnya permintaan pasar AS terhadap produk-produk Indonesia, meskipun pemerintah Trump sempat mengancam dengan kebijakan tarif yang tinggi.
Di sisi lain, Pudji juga menyampaikan daftar negara-negara yang menjadi sumber defisit terdalam bagi neraca perdagangan Indonesia. "Negara penyumbang defisit neraca perdagangan Indonesia terdalam adalah China minus USD9,73 miliar, Singapura minus USD3,09 miliar, kemudian Australia minus USD2,66 miliar," ungkapnya.
Data ini semakin menegaskan bahwa meskipun China adalah mitra dagang terbesar Indonesia dalam hal volume ekspor, defisit impor dari Tiongkok tetap menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.
Ketika dipecah per kelompok, data non-migas juga menunjukkan dominasi AS sebagai penyumbang surplus. AS menyumbang surplus non-migas sebesar USD9,92 miliar, diikuti India sebesar USD6,64 miliar, dan Filipina sebesar USD4,36 miliar.
Pudji merinci, sepanjang Januari hingga Juni 2025, AS menduduki posisi kedua sebagai negara tujuan ekspor Indonesia, setelah China dan di atas India. "Nilai ekspor non-migas ke Amerika Serikat tercatat sebesar USD14,79 miliar yang utamanya terdiri atas mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya atau rajutan," jelasnya.
Data ini menunjukkan bahwa produk manufaktur Indonesia, khususnya di sektor alas kaki dan tekstil, memiliki daya saing kuat di pasar AS. Ini menjadi alasan utama mengapa pemangkasan tarif impor dari 32 persen menjadi 19 persen yang baru-baru ini diumumkan oleh Presiden Trump sangat krusial bagi keberlanjutan sektor-sektor tersebut.
Baca Juga: Tarif Trump 19% Berlaku 7 Agustus, RI & Thailand Kena 'Diskon' Sama, Singapura Paling Murah!
Ekspor non-migas ke Tiongkok sendiri tercatat sebesar USD29,31 miliar, didominasi oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, serta nikel. Sementara itu, ekspor ke India sebesar USD8,97 miliar, mayoritas terdiri dari bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati, serta besi dan baja.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN
-
Pekan Kreatif Nusantara 2026, LPDB Koperasi Ajak Daerah Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Koperasi
-
Bukan Cuma Cegah Abrasi, Inilah Manfaat Mangrove Bagi Keberlanjutan Ekonomi Pesisir
-
Amar Bank Tebar Dividen Rp110 Miliar
-
Makan Biaya Rp553 Miliar, Bandara International Minangkabau Dipercantik Nuansa Minang
-
UMKM RI Diajari Smart Factory oleh Korea Selatan, Produksi Siap Berbasis AI
-
Tak Cuma Pegadaian, Kini Masyarakat Punya Pilihan Baru untuk Gadai Barang
-
Gapembi Klarifikasi Sikap soal SE MBG, Soroti Tata Kelola Kebijakan
-
Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond