- BPS mencatat konsumsi pemerintah Indonesia tumbuh signifikan sebesar 21,81 persen secara tahunan pada triwulan pertama tahun 2024.
- Lonjakan belanja negara tersebut terutama didorong oleh pembayaran THR, gaji pegawai, serta aktivitas fiskal selama pelaksanaan Pemilu.
- Meskipun tumbuh pesat, kontribusi konsumsi pemerintah terhadap PDB nasional hanya mencapai 6,72 persen dibandingkan konsumsi rumah tangga.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi pemerintah pada triwulan I 2024 tumbuh 21,81 persen secara tahunan (year on year/yoy), menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan paling tinggi dibanding komponen lain.
Namun di tengah lonjakan tersebut, kontribusi konsumsi pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tetap terbatas, yakni hanya sebesar 6,72 persen.
“Komponen pengeluaran yang tumbuh tinggi antara lain adalah Konsumsi Pemerintah yang tumbuh melesat hingga 21,81 persen,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor BPS RI, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Amalia menjelaskan tingginya pertumbuhan tidak selalu berarti peran terbesar dalam struktur ekonomi. Menurut dia, ukuran kontribusi terhadap PDB lebih ditentukan oleh besaran nilai total masing-masing komponen dibanding sekadar laju pertumbuhan.
“Kalau kita lihat, PDB Indonesia ini secara nilainya paling banyak itu ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan PMTB. Karena porsi atau share-nya memang paling banyak,” ujarnya.
BPS mencatat konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional dengan kontribusi 54,36 persen terhadap PDB. Sementara Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi menyumbang 28,29 persen.
Dengan demikian, meski konsumsi pemerintah tumbuh paling tinggi, posisinya dalam struktur ekonomi tetap jauh di bawah konsumsi masyarakat dan investasi.
“Pertumbuhannya paling tinggi, tetapi share-nya, kontribusi terhadap PDB-nya belum setinggi rumah tangga dan investasi,” kata Amalia.
Lonjakan belanja pemerintah pada awal tahun ini terutama didorong realisasi belanja pegawai, pembayaran THR atau gaji ke-14, penambahan ASN baru, serta peningkatan belanja barang dan jasa pemerintah.
Baca Juga: BPS Ungkap Inflasi Tahunan April Capai 2,42 Persen karena Rokok, Emas, hingga Biaya Kuliah
“Beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan komponen pengeluaran konsumsi pemerintah pada triwulan I adalah realisasi belanja pegawai, peningkatan pembayaran gaji ke-14 atau THR,” ujar dia.
Selain itu, BPS juga mencatat pelaksanaan Pemilu turut memberi dampak terhadap kenaikan aktivitas belanja negara pada periode tersebut.
“Dan tentunya ini merupakan impact dari pelaksanaan pemilu di 2024,” kata Amalia.
BPS menilai kenaikan konsumsi pemerintah lebih banyak bersifat stimulus jangka pendek yang membantu menopang ekonomi domestik, terutama saat aktivitas fiskal meningkat pada awal tahun.
Meski begitu, struktur utama PDB Indonesia tetap bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan investasi, sehingga pengaruh konsumsi pemerintah terhadap total ekonomi nasional tidak sebesar pertumbuhan persentasenya.
“Kontribusi 6,72 persen itu karena dinilai dari besaran nilainya dibandingkan dengan total PDB,” tutur Amalia.
Berita Terkait
-
BPS Catatkan Pulau Jawa Sumbang 57,24 Persen PDB Indonesia Triwulan I 2026
-
Sektor Pertambangan hingga Listrik Melemah, Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Terkontraksi 0,77%
-
BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I 2026, Industri Pengolahan Jadi Penopang
-
3 Bulan Pertama 2026 Ekonomi RI Terkontraksi 0,77 Persen, Sektor Energi Menjerit
-
Purbaya Girang Data BPS Ungkap Inflasi April Turun: Sekarang Anda Kritik Tuh Ekonom!
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Ekonomi Indonesia Melesat 5,61 Persen saat Rupiah Pecahkan Rekor Terlemah
-
Pertukaran Mata Uang dengan China dan Jepang Jadi Strategi Jaga Nilai Tukar Rupiah
-
Rupiah Masih Melemah Akibat Turunnya Surplus Perdagangan
-
Ikon Kota yang Terawat Bisa Menggerakkan Ekonomi, AVIA Ungkap Alasannya
-
Purbaya Bantah Ekonomi RI Seperti Krisis 1998: Ekonom Salah Prediksi, Kecele
-
Pemerintah Bidik Hilirisasi Industri demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen di 2029
-
Pelemahan Rupiah yang Terparah dalam Sejarah Bisa Picu Gagal Bayar dan PHK
-
Bahlil Tegaskan Tarif Listrik Tak Naik pada Mei
-
OJK: DSI Masih Nunggak Bayar Dana Nasabah Rp 2,4 Triliun
-
Ditopang Margin Kilang Minyak, Laba Barito Pacific (BRPT) Naik 803 Persen di Kuartal I-2026