- Sebuah riset dari ABB, Asia Pacific Energy Transition Readiness Index 2025, mengungkap fakta-fakta mengejutkan tentang kecepatan dan optimisme Indonesia dalam mengadopsi energi terbarukan.
- Riset tersebut menemukan bahwa 40% perusahaan di Indonesia telah mengadopsi lebih dari separuh kebutuhan energinya dari sumber terbarukan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional yang hanya 25%.
- Perkembangan positif ini juga didukung oleh reformasi regulasi, termasuk RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT) 2025, yang memberikan landasan hukum yang jelas untuk memperluas kapasitas energi hijau.
Suara.com - Indonesia menunjukkan kemajuan luar biasa dalam transisi energi, menempatkan diri sebagai pemimpin di kawasan Asia Pasifik.
Sebuah riset dari ABB, Asia Pacific Energy Transition Readiness Index 2025, mengungkap fakta-fakta mengejutkan tentang kecepatan dan optimisme Indonesia dalam mengadopsi energi terbarukan.
"Indonesia terus menunjukkan langkah maju dalam perjalanan transisi energinya," ujar Abhinav Harikumar, Vice President divisi Energy Industries ABB dikutip Kamis (25/9/2025).
Riset tersebut menemukan bahwa 40% perusahaan di Indonesia telah mengadopsi lebih dari separuh kebutuhan energinya dari sumber terbarukan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional yang hanya 25%.
Tak hanya itu, optimisme juga membumbung tinggi, dengan 87% pelaku industri di Tanah Air yakin penggunaan energi terbarukan akan melonjak lebih dari 20% dalam lima tahun mendatang.
Laporan ini mencatat, momentum transisi energi di Indonesia didorong oleh dua faktor utama yakni investasi dan teknologi.
Sebanyak 86% perusahaan di Indonesia kini mengalokasikan lebih dari 10% CAPEX (belanja modal) mereka untuk proyek transisi energi. Angka ini jauh di atas rata-rata regional yang berada di 73%. Ini menunjukkan keyakinan bahwa investasi hijau tidak hanya prospektif, tetapi juga memberikan dampak nyata.
Teknologi digital dan AI kini menjadi akselerator utama. Sebanyak 70% responden memandang teknologi sebagai pendorong potensial terbesar, dan 47% pemimpin bisnis di Indonesia melihat AI dan otomatisasi sebagai transformator. Digitalisasi kini menjadi prioritas utama untuk memodernisasi jaringan dan sistem energi.
Perkembangan positif ini juga didukung oleh reformasi regulasi, termasuk RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT) 2025, yang memberikan landasan hukum yang jelas untuk memperluas kapasitas energi hijau.
Baca Juga: Transaksi Perdagangan Berjangka hingga Juli 2025 Tembus 5,5 Juta Lot
"Kebijakan iklim yang kuat, investasi yang berdampak, serta optimisme terhadap teknologi inovatif seperti AI menjadi faktor penggeraknya." kata Abhinav.
Namun, untuk mencapai potensi penuh, ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Riset ini menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Selain itu, pengembangan "talenta hijau" menjadi krusial. Perusahaan di Indonesia kini mulai gencar melibatkan mitra eksternal seperti institusi pemerintah, universitas, dan organisasi untuk mengembangkan keterampilan keberlanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
BPKH Diminta Tak Jadi 'Kasir' Kementerian, DPR Dorong Dana Haji Dikelola Lebih Mandiri
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Puncak Penas XVII 2026
-
Delapan Dekade Bertransformasi, BNI Memperluas Dampak Lewat Inovasi dan Digitalisasi
-
Pasar Aplikasi Rp 2.700 Triliun Diburu TikTok
-
DPR Apresiasi Dian Siswarini karena Dividen PT Telkom Jadi yang Tertinggi
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Suara Pengguna: Tarif Jangan Naik!
-
Siap-siap IPO, BEI Anggap RANS Entertainment Lolos dari Free Float
-
PLTU Pelabuhan Ratu Terus Gunakan Co-firing Biomassa dari Sorgum
-
Influencer Tak Bisa Lagi Asal Kasih Saran Saham dan Kripto, Begini Ketentuannya
-
Dian Siswarini Dipuji DPR, Telkom Kantongi Pendapatan Rp146,7 Triliun