-
Pemerintah percepat sinkronisasi regulasi dukung transisi energi bersih.
-
Penyelesaian RUU Energi Terbarukan jadi fondasi implementasi EBT.
-
Keberhasilan transisi energi bergantung pada SDM dan tata kelola risiko.
Suara.com - Pemerintah tengah mempercepat sinkronisasi regulasi dalam rangka mendukung transisi energi bersih. Pasalnya, Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
Adapun, potensi energi hijau di dalam negeri seperti hidrogen, panas bumi, dan surya agar bisa memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional.
Deputi Bidang Perencanaan BKPM, Dedi Latif, mengatakan pemerintah tengah melakukan sinkronisasi regulasi lintas sektor untuk memperkuat arah kebijakan menuju target Net Zero Emission (NZE).
Salah satu langkah yang sedang digodok yakni penyelesaian Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Terbarukan.
"Indonesia punya potensi hidrogen, panas bumi, dan surya yang besar. Tugas kita memastikan potensi itu diimplementasikan, bukan sekadar dibicarakan," ujar Dedi di Jakarta seperti dikutip, Senin (27/10/2025).
Menurutnya, pengesahan RUU Energi Terbarukan akan menjadi fondasi penting agar pembangunan energi bersih dapat berjalan lebih masif dan terarah.
Sementara, Direktur Manajemen Risiko Pertamina NRE, Iin Febrian, menegaskan keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada teknologi dan kebijakan, tetapi juga pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang berintegritas dan adaptif.
"Sebagus apa pun sistem dan infrastruktur yang kita bangun, semuanya kembali pada people. Karena itu, membangun risk culture menjadi kunci agar setiap individu memahami perannya dalam menjaga keberlanjutan bisnis," kata Iin.
Dengan semangat Turning Green into Gold, Pertamina NRE bertekad mengubah potensi energi hijau menjadi peluang ekonomi baru yang berkontribusi terhadap pertumbuhan nasional.
Baca Juga: Edukasi Transisi Energi ke Generasi Muda Terus Digencarkan
Senada, Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina (Persero), Ahmad Siddik Badrudin, menekankan pentingnya tata kelola risiko dalam setiap strategi bisnis.
"Setiap inisiatif bisnis harus bergerak dalam koridor risk appetite perusahaan, mengantisipasi potensi risiko, dan menyiapkan risk treatment yang tepat agar risiko terkelola dan nilai bisnis bertumbuh," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123