- SoftBank disebut menjadi salah satu sutradara utama merger antara GoTo dan Grab.
- SoftBank adalah pemegang saham terbesar Grab sementara di GoTo perusahaan ini memiliki kepentingan signifikan dan merupakan salah satu investor awal GoJek.
- Posisi unik ini membuat SoftBank berada dalam dilema klasik yakni investor yang mendanai dua musuh bebuyutan.
Suara.com - Industri teknologi Asia Tenggara kembali diguncang oleh rumor yang tak pernah padam yakni wacana merger antara raksasa ride-hailing Grab dengan konglomerat teknologi Indonesia, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Namun, di balik hiruk pikuk negosiasi, satu nama besar menjadi sutradara utama yang terus mendorong penyatuan dua rival abadi ini yakni SoftBank Group Corp.
Pertanyaannya, mengapa fund manager asal Jepang yang dipimpin Masayoshi Son ini begitu ngotot melihat kedua decacorn ini bersatu?
SoftBank bukanlah investor biasa, mereka adalah arsitek sejati dari peta persaingan teknologi di Asia Tenggara. Melalui dana investasi raksasa mereka, Vision Fund, SoftBank menanamkan modal jumbo di kedua belah pihak yang bersaing.
Berdasarkan data SoftBank adalah pemegang saham terbesar Grab sementara di GoTo perusahaan ini memiliki kepentingan signifikan dan merupakan salah satu investor awal GoJek.
Posisi unik ini membuat SoftBank berada dalam dilema klasik yakni investor yang mendanai dua musuh bebuyutan.
Namun keinginan SoftBank untuk bersatu tampaknya buntu usai Direktur Utama GOTO Patrick Walujo disebut-sebut enggan untuk melakukan penyatuan entitas. Patrick adalah salah satu investor GOTO lewat bendera Northstar.
"SoftBank Group Corp, Provident Capital Partners, dan Peak XV yang termasuk di antara kelompok investor besar Grup GOTO tengah berupaya mengganti CEO Patrick Walujo,” ungkap sumber yang mengetahui kabar tersebut, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (13/11/2025).
Softbank sendiri bahkan dilaporkan telah menandatangani memo resmi kepada Dewan Direksi GOTO untuk segera menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang direncanakan pada 25 November 2025.
Baca Juga: IHSG Berbalik Menghijau di Jumat Pagi, Namun Dibayangi Pelemahan Rupiah
Keinginan SoftBank untuk melihat GoTo dan Grab merger didasarkan pada logika ekonomi yang sangat pragmatis, yang kerap digaungkan oleh Masayoshi Son sendiri.
Saat ini GoTo dan Grab terus melakukan "perang harga" dan memberikan subsidi besar-besaran untuk merebut pasar. Praktik "bakar uang" ini sangat merugikan investor, termasuk SoftBank. Merger akan mengakhiri subsidi ganda, sehingga jalan menuju profitabilitas menjadi lebih cepat dan jelas.
Dengan menggabungkan pasar e-commerce, ride-hailing, dan fintech terbesar di Asia Tenggara, entitas hasil merger akan menjadi monopoli de facto yang nilai pasarnya jauh lebih besar. Bagi SoftBank, ini adalah cara tercepat untuk mendapatkan return maksimal (balik modal) dari investasi miliaran dolar mereka.
Di tengah isu santer ini ada salah satu tulisan menarik dari ekonom senior Yanuar Rizky yang menulisnya di laman Facebook pribadinya. Menurut dia mengapa Patrick Walujo, yang terafiliasi dengan Northstar, menolak keras merger ini.
Dia bilang penolakan ini didasarkan pada masalah kepemilikan silang dan posisi neraca kedua perusahaan.
"Yang memiliki buku lebih tinggi akan menjadi pihak pengendali dalam proses akuisisi... pemegang saham GOTO akan terdilusi porsi kepemilikannya di induk merger Grab-GoTo oleh nilai buku Grab yang lebih besar." tulis Yanuar.
Yanuar menegaskan bahwa bagi pemegang saham GOTO seperti Northstar, ini berarti kerugian kepemilikan. Sebaliknya, bagi SoftBank yang juga memiliki saham di Grab, posisi merger justru akan memperkuat revaluasi sahamnya secara keseluruhan.
Yanuar juga menyinggung nasib Telkomsel (Telkom) yang juga akan ikut terdilusi. Inilah mengapa isu hukum mengarah pada tekanan agar GOTO melakukan buyback saham Telkomsel di harga perolehan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Kesempatan untuk Beli, Harga Emas Antam Turun Lagi Jadi Rp2,63 Juta/Gram
-
Pasar Antisipasi Perundingan AS - Iran di Doha, Harga Minyak Dunia Melemah
-
IHSG Dibuka Makin Tenggelam ke Level 5.801, BBCA Kembali Dijual Asing
-
Daftar Calon IPO BEI 2026 Bertambah, Ada 8 Emiten Siap Melantai di Bursa Saham, Ini Bocorannya
-
Jurnalis Kawakan Karni Ilyas Duduki Komisaris Emiten Tambang DEWA, Ini Profilnya
-
AHY Bidik Industri Kendaraan Listrik Nasional, Targetkan Brand EV Buatan Indonesia
-
Paraguay Cuan Ratusan Miliar Usai Kalahkan Jerman di Laga Kontroversial
-
Tak Mau Investasi Hilirisasi Bernilai Jumbo Gagal, BP BUMN Gandeng KPK
-
IHSG Berpotensi Rebound! Cek Analisis Teknikal dan Sentimen Positif Hari Ini
-
Waspada, Penipuan Digital Kini Terhubung dengan Pencucian Uang