-
APBN 2026 bergeser ke program baru, MBG dan Kopdes melonjak drastis.
-
Belanja barang naik tajam, belanja modal turun sehingga investasi publik melemah.
-
Target pajak ambisius dan beban bunga utang makin mempersempit ruang fiskal.
Suara.com - APBN 2026 menunjukkan perubahan besar dalam komposisi belanja pemerintah, terutama melalui ekspansi anggaran pada dua program flagship Presiden Prabowo Subianto yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Program Koperasi Desa (Kopdes).
Anggaran MBG melonjak hingga Rp337 triliun atau naik 372%, sementara Kopdes meningkat 419% menjadi Rp83 triliun.
Menurut Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia Akhmad Akbar Susamto, lonjakan ini menandakan pergeseran fokus pemerintah.
“Pergeseran alokasi yang sangat masif ini menunjukkan orientasi baru belanja pemerintah pusat ke program-program berskala besar yang sifatnya sangat tersentralisasi. Namun implementasinya menghadapi tantangan besar, terutama kesiapan daerah dan rantai pasokan,” ujarnya dalam acara CORE Economic Outlook di Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Akbar menyoroti dominasi anggaran MBG dalam pos pendidikan yang mencapai sekitar 44%, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai keseimbangan prioritas sektor tersebut.
“Di saat kebutuhan dasar sektor pendidikan seperti kualitas guru dan fasilitas sekolah masih mendesak, porsi MBG yang sangat besar perlu dipertimbangkan kembali dari perspektif efektivitas,” kata Akbar.
Efek implementasi MBG turut mendorong belanja barang naik 47,5% dan belanja pegawai tumbuh 11,6%. Keduanya berpotensi mengerek konsumsi ASN dan memperbesar porsi belanja operasional. Sebaliknya, belanja modal turun 20,4%, mengindikasikan peralihan belanja dari investasi jangka panjang menuju program jangka pendek.
Akbar menilai penurunan belanja modal berpotensi menekan momentum pemulihan dan produktivitas ekonomi. “Belanja modal memiliki multiplier tertinggi. Penurunannya, ditambah rendahnya realisasi belanja modal daerah yang baru 38% hingga November 2025, membuat kapasitas pemerintah menopang investasi publik semakin terbatas,” jelasnya.
Penurunan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar 19,8% mempertegas perubahan struktur fiskal antara pusat dan daerah. Ruang belanja daerah menyempit, sementara program-program pusat semakin dominan.
Baca Juga: Kejagung Periksa Eks Dirjen Pajak Suryo Utomo dalam Kasus Dugaan Manipulasi Pajak 20162020
“Kita melihat pola baru: belanja pusat diperluas melalui program tersentralisasi, tapi fleksibilitas fiskal daerah justru semakin menyempit. Ini menjurus pada resentralisasi prioritas fiskal tanpa transfer dana yang memadai,” ungkap Akbar.
Mekanisme substitusi berupa pinjaman daerah yang difasilitasi PP 38/2025 juga tidak efektif karena hanya tiga provinsi memanfaatkannya dalam dua tahun terakhir.
Pemerintah menyediakan Rp4,06 triliun insentif perpajakan dan iuran, namun efektivitasnya diperkirakan terbatas. Keringanan PPh 21 tidak sepenuhnya diteruskan ke pekerja, program magang berbayar minim dampak lanjutan, dan padat karya terkonsentrasi pada sektor konstruksi.
Target penerimaan negara 2026 dipatok Rp3.153 triliun, naik 10% dari proyeksi realisasi 2025. Target penerimaan pajak mencapai Rp2.357 triliun. Namun hingga September 2025, pertumbuhan pajak riil masih terkontraksi –4%.
Menurut Akbar dengan basis penerimaan yang melemah, pelemahan harga komoditas, dan tekanan eksternal dari perang dagang serta tarif resiprokal AS, mengejar pertumbuhan penerimaan dua digit akan sangat berat. "Risiko shortfall sangat nyata.” katanya.
Gangguan transisi administrasi melalui CORETax dan integrasi single data user juga dapat menekan efektivitas ekstensifikasi dan intensifikasi pajak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
Terkini
-
Mendag: Harga Minyak Goreng Naik Akibat Mahalnya Plastik
-
Akan Beli Minyak dari Rusia, Bahlil Upayakan Dapat Harga Murah
-
Prediksi Purbaya: Defisit APBN 2026 Turun ke 2,8 Persen
-
Harga Minyakita Meroket, Mendag: Stoknya Memang Terbatas
-
IHSG Terus Memerah Hingga Akhir Perdagangan ke Level 7,621, Cek Saham yang Cuan?
-
Tak Cukup Kasih Modal, UMKM Perlu Akses Pasar Agar Naik Kelas
-
S&P Sorot Rasio Utang RI, Purbaya Klaim Belum di Level Berbahaya
-
Laba Emiten Hary Tanoe Terbang 140 Persen
-
Gak Cuma Murah, Minyak Rusia Ternyata 'Jodoh' Buat Kilang Pertamina
-
OJK dan BEI Bongkar Data Pemilik Saham RI, Berharap Genjot Transparansi