- Kementerian ESDM, melalui Wamen Yuliot Tanjung, tetap mengupayakan impor minyak dan gas dari Amerika Serikat meskipun ada kabar perjanjian dagang batal.
- Perjanjian dagang Juli 2025 mensyaratkan Indonesia membeli Migas AS senilai USD 15 miliar sebagai timbal balik penurunan tarif impor.
- Koordinasi terkait perjanjian dagang dengan AS dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan melibatkan seluruh kementerian terkait.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan tetap mengupayakan mengimpor minyak dan gas (Migas) dari Amerika Serikat (AS). Hal itu ditegaskan Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung di tengah kabar batalnya perjanjian dagang antara Indonesia dengan AS.
Pembelian minyak dan gas merupakan salah satu klausul utama dalam kesepakatan dagang antara AS dengan Indonesia.
Yuliot mengatakan terkait perjanjian dagang itu seluruhnya dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
"Ini-kan lagi dikoordinasikan dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Jadi nanti Kemenko Perekonomian akan mengajak duduk bersama seluruh kementerian/lembaga terkait, ya, termasuk Kementerian ESDM," ujar Yuliot saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Dia menegaskan, Kementerian ESDM berkomitmen dengan perjanjian dagang itu, khususnya dalam pembelian minyak dan gas dari AS.
"Tapi kami dari Kementerian ESDM itu, tetap apa yang sudah dikomitkan (menjadi komitmen) untuk kita impor dari AS, itu tetap akan kami upayakan," jelas Yuliot.
Kesepakatan dagang yang disepakati Juli 2025 itu sejatinya merupakan deal timbal balik. Presiden AS Donald Trump bersedia menurunkan tarif impor produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen. Sebagai gantinya produk AS yang masuk Indonesia tidak dikenakan pajak ekspor.
Selain itu, Trump juga mengharuskan Indonesia membeli produk energi (migas) dari AS senilai USD 15 miliar (sekitar Rp 244,074 triliun). Kemudian, pembelian produk pertanian senilai USD 4,5 miliar (sekitar Rp 73 triliun), dan pembelian 50 unit pesawat buatan Boeing.
Namun, saat ini beredar kabar bahwa kesepakatan dagang Indonesia-AS berpotensi dibatalkan. Isu itu muncul, setelah pernyataan pejabat AS yang menyebut Indonesia mundur dari beberapa poin perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.
Baca Juga: ESDM Mau Perpanjang Kebijakan Pembelian BBM Subsidi Tanpa QR Code di Aceh, Sumut, Sumbar
Pejabat Indonesia yang terlibat dalam perundingan dilaporkan memberi tahu Duta Besar Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, bahwa Indonesia tidak dapat menyetujui beberapa komitmen yang mengikat dan ingin merumuskan ulang perjanjian dagang dari awal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Purbaya Akan Tambah Perusahaan Pemungut Pajak Toko Online di Ecommerce
-
DPR Siap Cecar Tiktok yang Dituding Tahan Duit UMKM hingga Triliunan Rupiah
-
Potongan Aplikasi Ojol 8 Persen Tak Untungkan Mitra Pengemudi
-
Minyak Dunia Anjok, Mengapa Harga Pertamax Tak Ikut Turun?
-
Kapal Tanker Pertamina Berhasil Lolos dari Selat Hormuz, Sisanya Menunggu Aman
-
Rupiah Menuju Rp18.000 per Dolar AS Lagi, Akan Menguat Jika Investor Asing Kembali ke Indonesia
-
Bukan Pemain, Manchester United Mau Beli Kredit Karbon Indonesia
-
Antrean BBM Surabaya-Gresik Mulai Terurai, BPH Migas dan Pertamina Perkuat Distribusi
-
Stok Batu Bara Normal, Bos PLN Janji Tak Ada Mati Lampu
-
RI Mulai Dagang Karbon Kehutanan, Potensinya Rp5 Triliun