Suara.com - Tren membeli smartphone dengan metode cicilan tanpa kartu kredit atau paylater semakin digemari oleh masyarakat. ShopeePayLater (SPayLater) dan Kredivo jadi dua dari sekian banyak platform pinjaman online yang kerap diakses.
Namun, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: "Mana yang lebih murah untuk mencicil HP?" Untuk menjawab hal tersebut, konsumen perlu membedah secara rinci komponen bunga, biaya administrasi, fleksibilitas tenor, hingga risiko denda keterlambatan yang diberlakukan oleh kedua platform ini.
Adu Bunga: Siapa yang Lebih Bersahabat?
Komponen utama dalam menentukan harga akhir sebuah smartphone adalah suku bunga bulanan. Dalam hal ini, Kredivo dan SPayLater memiliki strategi yang cukup berbeda.
Kredivo cenderung menawarkan skema bunga yang lebih transparan dan tetap. Untuk cicilan dengan tenor panjang, yakni 6, 12, 18, hingga 24 bulan, Kredivo mematok bunga flat di angka 2,6% per bulan.
Menariknya, bagi pengguna yang ingin mencicil dengan durasi singkat (3 bulan), Kredivo sering kali memberikan penawaran bunga 0%.
Di sisi lain, ShopeePayLater memiliki rentang bunga yang lebih lebar dan dinamis. Bunga bulanan di SPayLater mulai dari 0% hingga menyentuh angka 3,95%.
Besaran bunga ini sangat bergantung pada profil risiko pengguna, jenis produk yang dibeli, serta promo spesifik yang sedang berlangsung di aplikasi Shopee.
Dalam banyak kasus, bunga dasar SPayLater sering kali sedikit lebih tinggi dibandingkan Kredivo untuk tenor panjang, kecuali ada promo khusus "Cicilan 0%" yang sedang aktif.
Baca Juga: Orang Kaya Ingin Parkir Supercar di Ruang Tamu, Tapi Kelas Menengah Mati-matian Bayar Cicilan Rumah
Biaya Admin dan Penanganan yang Tersembunyi
Selain bunga, biaya administrasi sering kali menjadi faktor penentu "murah" atau tidaknya sebuah cicilan. Konsumen cerdas wajib memperhatikan detail kecil ini sebelum menekan tombol konfirmasi pembayaran.
ShopeePayLater menerapkan biaya penanganan sebesar 1% untuk setiap transaksi yang dilakukan. Artinya, harga HP yang Anda lihat akan langsung ditambah 1% sebelum mulai dihitung bunganya.
Sementara itu, Kredivo memiliki kebijakan biaya layanan yang lebih bervariasi. Untuk tenor cicilan 3 bulan, pengguna biasanya dikenakan biaya layanan sebesar 1% per bulan.
Namun, untuk tenor yang lebih panjang seperti 6, 12, hingga 24 bulan, Kredivo sering kali meniadakan biaya layanan tambahan dan hanya fokus pada komponen bunga bulanan saja.
Hal ini membuat Kredivo terlihat lebih unggul secara matematis untuk pengguna yang merencanakan cicilan di atas 6 bulan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Dasco: 1 April Malam Ini, Harga Pertalite dan Pertamax Tidak Naik
-
Tarif Listrik PLN April-Juni 2026, Apakah Naik?
-
Bahlil: Semua Proyek Energi Digas, dari Panas Bumi hingga Angin
-
Presiden Prabowo Teken Kerja Sama Ekonomi Rp 370 T dengan Jepang
-
Isu Harga BBM Tembus Rp17 Ribu, Pengendara: Mending Full Tank Sekarang!
-
Purbaya Bertemu Dubes Tiongkok Usai Wacanakan Pajak Tambahan Produk China di E-commerce
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Bisnis Properti 2026 Diprediksi Tumbuh 8 Persen, Hunian Konsep 'Resort' Jadi Incaran Kaum Urban
-
Pertamina Patra Niaga Jaga Energi dengan Dukungan Armada Logistik Laut di Tengah Dinamika Global
-
MoU Indonesia-Jepang: 10 Proyek Kerja Sama Investasi dengan Nilai Rp 392,7 Triliun