- Ancaman laten bernama miskomunikasi diam-diam menggerus efisiensi bisnis global.
- Hambatan bahasa di tempat kerja memicu kerugian hingga USD 37 miliar (sekitar Rp580 triliun) setiap tahunnya secara global.
- Di Asia Pasifik, sebanyak 78% perusahaan mengaku kesulitan melakukan kolaborasi eksternal akibat kendala bahasa.
Suara.com - Di balik megahnya era digitalisasi, sebuah ancaman laten bernama miskomunikasi diam-diam menggerus efisiensi bisnis global.
Data terbaru dari IDC (2025) mengungkapkan fakta mencengangkan dimana hambatan bahasa di tempat kerja memicu kerugian hingga USD 37 miliar (sekitar Rp580 triliun) setiap tahunnya secara global.
Di Asia Pasifik, sebanyak 78% perusahaan mengaku kesulitan melakukan kolaborasi eksternal akibat kendala bahasa.
Data ini menjadi alarm keras bagi korporasi bahwa kemampuan bahasa Inggris bukan lagi sekadar "pemanis" resume, melainkan kebutuhan strategis untuk mencegah kebocoran finansial dan memastikan ekspansi bisnis tetap berjalan.
Kondisi ini diakui oleh PT ASABRI (Persero) yang melakukan langkah proaktif dalam mentransformasi modal manusianya (human capital). Sebagai BUMN yang mengelola asuransi sosial TNI, Polri, dan ASN Kemhan, ASABRI menggandeng ELSA Speak platform edukasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meluncurkan program "ASABRI Intensive English Course for Talent Development 2025".
Direktur SDM & Hukum PT ASABRI, Rizka Moeslichan, menegaskan bahwa penguasaan bahasa Inggris yang relevan dengan pekerjaan adalah keharusan. "Program ini membantu pemimpin kami berkomunikasi lebih percaya diri dan efektif, sekaligus memperkuat kesiapan mereka menghadapi peran yang lebih besar di masa depan," ujarnya.
Yasser Muhammad Syaiful, Country Director ELSA Indonesia, menyebut bahasa Inggris sebagai "business impact enabler". Teknologi AI memungkinkan kurikulum dipersonalisasi sesuai profil spesifik organisasi ASABRI, sehingga pembelajaran menjadi jauh lebih efektif.
Hasilnya terlihat dalam waktu singkat. Hanya dalam dua bulan, skor bahasa Inggris peserta melonjak 12%, naik dari level Intermediate ke Upper Intermediate. Menariknya, antusiasme pegawai sangat tinggi dengan tingkat keterlibatan (engagement) mencapai 100% dan durasi belajar mandiri rata-rata 25 menit per hari melampaui standar industri yang biasanya hanya 10-15 menit.
Langkah strategis ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi ASABRI untuk mendukung standar kepemimpinan nasional dan tetap kompetitif dalam menghadapi dinamika pasar global menuju tahun 2030.
Baca Juga: Harry Kane Akui Sulit Belajar Bahasa Jerman, Sampai Ikuti Les Dua Kali Seminggu
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Investor Bitcoin Mulai Tinggalkan FOMO, Fokus ke Riset dan Strategi
-
Insentif Kendaraan Listrik Mundur ke Juli, Kemenperin Klaim Investor Masih Optimistis
-
Penutupan Alfamart Dikaitkan dengan KDMP, Perang Ritel Mulai Terjadi?
-
Bank Investasi China Berikan Pinjaman Rp71,5 Triliun untuk Indonesia, Mau Buat Apa?
-
BUMN Dana Pensiun Perluas Bantuan Hunian ke Pensiunan
-
Pertamina Salurkan Lebih dari 4.400 Hewan Kurban untuk Masyarakat pada hari raya Iduladha 2026
-
Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp 3,96 Triliun dalam Dua Hari, BBCA Jadi Bulan-bulanan
-
Rupiah Anjlok ke Rp17.870 Hari Ini, Cek Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI
-
Cukai Tak Naik Jadi Angin Segar, Kinerja Industri Rokok Disebut Masih Tinggi
-
Iduladha 2026, Pertamina Trans Kontinental Jaga Operasional & Berbagi Berkah Kurban pada Masyarakat