- Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menekankan akselerasi manufaktur dan pertanian untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia berkelanjutan.
- Peningkatan pertumbuhan sektor pertanian menjadi 4% berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melampaui 5,5 persen.
- Perlu upaya pemerataan pembangunan di Sumatra dan Kalimantan karena kontribusi PDRB kedua wilayah tersebut cenderung menurun.
Suara.com - Industri manufaktur dan pertanian adalah penyumbang terbesar PDB Indonesia dan karenanya perlu diakselerasi agar pertumbuhan ekonomi menjadi resilien dan berkelanjutan, demikian disampaikan Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro.
"Kalau ditanya apa strateginya agar Indonesia tumbuh secara resilien dan berkelanjutan atau sustainable, ya memang harus menumbuhkan sektor-sektor yang memiliki kontribusi besar buat perekonomian Indonesia," katanya, yang akrab disapa Asmo di Jakarta, Rabu malam.
Ia mencatat bahwa dalam tiga tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan industri manufaktur serta pertanian, kehutanan, dan perikanan masih tertinggal, masing-masing sebesar 4,8 persen dan 2,4 persen.
Menurutnya, sektor pertanian perlu beranjak dari rata-rata pertumbuhan yang masih 2,4 persen tersebut, terlebih pemerintah memiliki program prioritas yang berkaitan langsung dengan sektor ini seperti ketahanan pangan.
Asmo memperkirakan apabila sektor pertanian mampu tumbuh hingga 4 persen, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi menjadi lebih resilien dan dapat menembus level di atas 5,5 persen.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi karena kontribusinya yang besar terhadap PDB, Asmo memandang bahwa percepatan sektor manufaktur dan pertanian juga berperan penting dalam menyelesaikan permasalahan penyerapan tenaga kerja.
Ia juga mengingatkan saat ini mayoritas tenaga kerja di sektor pertanian masih berada di sektor informal. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor pertanian berpotensi menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal.
Selain itu, percepatan sektor ini juga dinilai dapat meningkatkan pasokan devisa. Pasalnya, komoditas dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memiliki orientasi ekspor yang kuat, seperti kopi, kakao, kelapa, cengkeh, dan pala, yang selama ini menjadi andalan Indonesia di pasar global.
Lebih lanjut, Asmo turut menyoroti ketimpangan kontribusi wilayah terhadap perekonomian nasional. Dalam kurun 40 tahun terakhir, yakni periode 1984 hingga 2024, kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) Sumatra dan Kalimantan terhadap total nasional cenderung menurun.
Baca Juga: Di Hadapan Prabowo, Airlangga: 2 Tahun Lagi Indonesia Lepas Landas ke Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Padahal, kedua wilayah tersebut merupakan daerah penghasil komoditas utama. Sebaliknya, kontribusi Pulau Jawa justru terus meningkat.
Kondisi ini, menurut Asmo, menunjukkan perlunya upaya yang lebih serius untuk mendorong pembangunan di Sumatra dan Kalimantan agar distribusi pertumbuhan ekonomi menjadi lebih merata.
Mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026, Asmo menilai tantangan utamanya yakni menjaga momentum pada kuartal II dan kuartal III, khususnya kuartal III yang biasanya minim sentimen musiman.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025. Hal ini didorong oleh faktor musiman Ramadhan dan Lebaran, efek low base effect akibat perlambatan pada periode sebelumnya, serta akselerasi belanja pemerintah.
"Jadi, tiga poin ini yang mestinya kemungkinan besar pertumbuhan di kuartal I ini paling tidak, kalau tidak flat dengan kuartal IV 2025, mungkin akan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal IV 2025 yang lalu," kata Asmo.
Berita Terkait
-
Cara Tukar Uang Baru di Bank Mandiri untuk Lebaran 2026, Simak Syarat dan Jadwalnya
-
Mudik Gratis Bank Mandiri 2026 Kapan Dibuka? Ini Jadwal, Rute, dan Cara Daftarnya
-
Bank Mandiri Siapkan Rp44 Triliun Uang Tunai untuk Lebaran
-
Purbaya Kejar Target Belanja Negara Rp 809 Triliun di Q1 2026 demi Ekonomi 6%
-
APBN Tekor Rp 695,1 T, Purbaya Klaim Ekonomi RI Masih Aman: Lebih Jago dari Malaysia & Vietnam
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Pertamina Jamin Stok BBM Aman Jelang Mudik Lebaran 2026
-
Biaya Hidup Naik Saat Ramadan, Siasat Atur Keuangan Biar Nggak Boncos
-
Narasi Swasembada Pangan di Balik Bayang-Bayang Impor Beras Amerika
-
Ekonom Bank Mandiri Sebut Perpanjangan Dana SAL Rp200 Triliun Positif Buat Himbara
-
Bayang-bayang Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia 'Nangkring' di Level Tertinggi 7 Bulan
-
OJK Restui Rencana Menteri Purbaya Parkir SAL Rp200 Triliun di Himbara, Bunga Kredit Bakal Jinak?
-
Emas Diprediksi Masih Bullish Panjang, Target Harga Di Atas USD 6.000
-
Trading Saham Global Kini Bisa 24 Jam Nonstop
-
Tumbuh Double Digit Sepanjang 2025, BRI Bukukan Laba Rp57,13 Triliun
-
Berbalik Melonjak, Ini Daftar Lengkap Harga Emas Antam Terbaru Hari Ini