- Leonardo Partukkoan Hutabarat menekankan perlunya keamanan siber berbasis *use case* karena kegagalan implementasi strategi keamanan canggih.
- Pendekatan *use case* menghubungkan kebutuhan teknis IT dengan kepentingan strategis manajemen demi efisiensi operasional tim siber.
- Keamanan siber kini menjadi bagian dari tata kelola perusahaan (GCG) yang memerlukan pemetaan risiko spesifik bisnis untuk respons cepat.
Suara.com - Perkembangan ancaman digital yang semakin dinamis memaksa sektor usaha untuk beralih dari metode perlindungan konvensional yang cenderung kaku.
Risiko siber saat ini bukan lagi sekadar masalah teknis di departemen IT, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas operasional dan citra perusahaan di mata publik.
Menanggapi situasi ini, Leonardo Ezra Partukkoan Hutabarat, praktisi di bidang keamanan data dan siber, menekankan bahwa penerapan keamanan berbasis use case kini menjadi kebutuhan yang mendesak.
Leonardo menyoroti fenomena di mana banyak perusahaan berinvestasi besar pada perangkat keamanan canggih, namun gagal dalam strategi implementasi yang kontekstual.
Dampaknya, sistem sering kali memunculkan ribuan notifikasi yang tidak relevan (false positive), sehingga ancaman yang sebenarnya justru tidak terdeteksi.
Menurutnya, pertahanan siber yang efisien harus dibangun berdasarkan skenario risiko yang paling mungkin dialami oleh model bisnis tersebut, seperti pencurian kredensial karyawan atau kebocoran data internal.
Penerapan metode berbasis use case berperan sebagai penghubung antara kebutuhan teknis tim IT dengan kepentingan strategis jajaran manajemen.
Leonardo menjelaskan bahwa skenario keamanan yang disusun secara matang akan meningkatkan efisiensi kerja tim siber.
Sumber daya manusia tidak lagi terkuras untuk mengecek peringatan yang tidak bermakna, melainkan fokus penuh pada insiden yang memiliki dampak serius terhadap perusahaan.
Baca Juga: 8 Ide Usaha yang Belum Banyak Pesaing di 2026, Cocok untuk Pemula?
Keunggulan lain dari pendekatan ini adalah percepatan dalam mendeteksi dan merespons gangguan. Dengan memetakan pola perilaku normal serta anomali melalui skenario spesifik, pusat operasional keamanan atau Security Operations Center (SOC) dapat bekerja secara proaktif.
Deteksi dini ini sangat krusial agar perusahaan bisa mengambil tindakan sebelum terjadi kerusakan yang meluas.
Untuk memaksimalkan strategi ini, penggunaan teknologi pendukung seperti analitik perilaku dan otomasi investigasi menjadi sangat vital.
Kombinasi antara skenario risiko yang tepat dengan teknologi analitik yang kuat akan menciptakan ekosistem pertahanan yang jauh lebih responsif dan tangguh terhadap berbagai jenis serangan baru.
Lebih lanjut, Leonardo memandang keamanan siber sebagai elemen yang tidak bisa dipisahkan dari tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).
Masalah siber harus dilihat sebagai bagian dari manajemen risiko menyeluruh, bukan sekadar urusan departemen teknologi. Sistem yang selaras dengan regulasi dan kebutuhan bisnis akan membantu perusahaan memenuhi kepatuhan hukum yang semakin ketat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 8 Sepatu Adidas untuk Jalan Kaki yang Sedang Diskon di Toko Resmi, Harga Jadi Rp500 Ribuan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
DPR Soroti PSN 1 Juta Hektare, Begini Katanya
-
PLN Sedang Selidiki Penyebab Mati Lampu di Sumatra Bagian Utara
-
GMFI Kejar Laba Bersih 35,1 Juta Dolar AS di 2026, Begini Strateginya
-
Kementerian PU Butuh Rp30 Triliun untuk Bereskan 136 Perlintasan Sebidang
-
BI Minta Publik Tak Borong Dolar, saat Masyarakat Ramai-ramai Timbun Valas di Bank
-
Sumatra Gelap Gulita, Ini Penjelasan PLN
-
Menteri PU Akui Pembangunan Sekolah Rakyat Telat dari Target
-
Saatnya Wujudkan Rumah, Mobil & Liburan Impian Anda lewat BRI Consumer Expo Jakarta 2026
-
Purbaya Klaim BUMN Ekspor PT DSI Akan Diawasi Kemenkeu dan K/L Lain Demi Cegah Monopoli
-
Airlangga Bantah IHSG Jeblok Gegara Pemerintah Bentuk BUMN Ekspor PT DSI