- USTR AS mengumumkan peta jalan tarif impor baru pada Rabu (25/2/2026), membedakan perlakuan mitra dagang utama.
- Indonesia menyepakati tarif 19% AS, namun tetap diselidiki terkait subsidi perikanan melalui investigasi Pasal 301.
- China menikmati gencatan senjata tarif demi kondusivitas kunjungan Presiden Trump, sementara Vietnam terancam kenaikan tarif signifikan.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat melalui Perwakilan Perdagangan (USTR), Jamieson Greer, baru saja memberikan peta jalan terbaru mengenai eskalasi tarif impor global.
Dalam keterangannya pada Rabu (25/2/2026), Greer memberikan gambaran kontras mengenai bagaimana Washington memperlakukan mitra dagangnya: Indonesia yang kooperatif, China yang dalam posisi "gencatan senjata", dan Vietnam yang tetap dalam pengawasan ketat.
Langkah ini diambil seiring rencana kenaikan tarif dasar dari 10% menjadi 15% atau lebih bagi negara-negara yang dianggap melakukan praktik dagang tidak adil.
Posisi Indonesia tergolong unik dalam skema perdagangan resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade) era Trump. Berbeda dengan negara lain yang melawan, Jakarta memilih jalur kompromi strategis:
- Penerimaan Tarif Tinggi: Indonesia telah sepakat untuk menerima tarif AS sebesar 19% sebagai bagian dari pembukaan pasar timbal balik.
- Investasi Pasal 301: Meski sudah ada kesepakatan, USTR tetap akan meluncurkan investigasi Pasal 301 terhadap Indonesia. Fokusnya adalah meneliti subsidi di sektor perikanan dan kapasitas industri nasional.
- Evaluasi Kepatuhan: Hasil investigasi ini nantinya akan menentukan apakah tarif 19% tersebut akan dipertahankan, diturunkan, atau justru dinaikkan berdasarkan tingkat kepatuhan Indonesia terhadap komitmen pembukaan pasar bagi produk AS.
China: Gencatan Senjata Diplomatik
Berlawanan dengan retorika keras biasanya, China saat ini mendapatkan perlakuan "dingin" namun stabil. Greer menegaskan bahwa AS tidak berniat menaikkan tarif terhadap produk China melampaui level yang ada saat ini.
Alasan Diplomasi: Penahanan diri ini dilakukan demi menjaga kondusivitas rencana kunjungan Presiden Donald Trump ke China dalam beberapa pekan mendatang.
Status Quo: Washington memilih untuk tetap pada kesepakatan yang sudah ada (perjanjian Fase 1 atau tarif era sebelumnya) tanpa melakukan eskalasi baru yang dapat merusak negosiasi tingkat tinggi yang sedang disiapkan.
Vietnam, bersama dengan China, tetap menjadi target utama kritik AS terkait masalah struktural ekonomi. Greer menyoroti bahwa banyak perusahaan di negara-negara tersebut tetap beroperasi meskipun tidak menguntungkan karena adanya sokongan subsidi pemerintah.
Baca Juga: Pasar Waspada, Harga Minyak Dunia Terganjal Isu Nuklir dan Tarif Trump
Berbeda dengan Indonesia yang sudah memiliki angka tarif "kesepakatan" (19%), Vietnam kemungkinan besar akan menghadapi kenaikan tarif hingga 15% atau lebih melalui mekanisme Pasal 301 jika tidak segera melakukan reformasi industri
Berita Terkait
-
Pemerintah AS Investigasi Kesepakatan Indonesia Terkait Tarif Baru 15 Persen
-
Bayang-bayang Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia 'Nangkring' di Level Tertinggi 7 Bulan
-
Narasi Swasembada Pangan di Balik Bayang-Bayang Impor Beras Amerika
-
Dari Gerakan Non Blok ke Aliansi Amerika, Indonesia Tak Lagi Bebas Aktif Gegara ART dan BoP?
-
Deretan Kontroversi Infantino 10 Tahun Pimpin FIFA: Ucapan Tak Layak hingga Kedekatan dengan Trump
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Pemerintah Siapkan Insentif ETF Emas, Bursa Mineral, Hingga Demutualisasi
-
Jumlah Saham HSC Membengkak Jadi 51 Emiten Pasca Pengesahan Aturan Baru BEI
-
Rombak Aturan Pasar Modal, OJK Target Demutualisasi Tuntas September 2026
-
Saham HSC Dilarang Masuk LQ45, Puluhan Emiten Jumbo Kena Dampak!
-
Analis Sebut IHSG Seharusnya Jauh Lebih Tinggi, Ini Alasannya
-
Purbaya Minta Investor Beli Saham dan Jual Dolar, Klaim Ekonomi RI Mulai Diakui Internasional
-
Purbaya Girang S&P Pertahankan Rating Indonesia: Bukan Indonesia Cemas tapi Indonesia Emas
-
Inflasi Juli 2026 Naik ke 3,34%, Tiket Pesawat hingga Harga Beras Jadi Pemicu
-
Amman Mineral Bidik Produksi 16 Ton Emas dan 162.000 Ton Tembaga di 2026
-
Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM