- Investor perlu menyusun strategi 2026 dengan mencermati kinerja emiten dan kondisi ekonomi makro domestik maupun global.
- Fenomena January Effect berpotensi terjadi awal tahun, meningkatkan minat beli saham berkapitalisasi kecil dan menengah.
- IHSG diprediksi melanjutkan reli positif didukung rilis data domestik solid serta rekomendasi beberapa saham pilihan.
Suara.com - Tahun baru 2026, para investor pastinya tengah menata ulang portofolio saham-sahamnya. Para investor baik kakap maupun ritel akan melongok kembali kinerja emiten-emiten yang bisa mendulan cuan di sepanjang tahun.
Apalagi, optimisnya pemerintah lewat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang sesumbar kinerja Indeks Harga Saham Gabungan bisa menuju level 10.000. Rasa pede ini membuat para investor bergairah mengguyur dana ke pasar modal dalam negeri.
Namun, para investor jangan gegabah untuk menaruh dananya di sembarang saham. Jangah sampai, optimis itu membuat buntung, hingga membuat rugi bandar.
Maka dari itu, para investor harus mengatur strategi dengan melihat proyeksi hingga kinerja para emiten yang terjadi di 2026.
Selain itu, investor juga harus mencermati kondisi perekonomian global maupun dalam negeri saat ini, sebab bisa menjadi penentu jalannya bisnis emiten-emiten.
January Effect Bisa Terjadi
Dalam riset yang diterima Suara.com, Analis Mirae Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, mengungkapkan pada awal tahun ini bisa terjadi January Effect.
January Effect merupakan fenomena di mana saham cenderung naik pada bulan Januari, terutama saham berkapitalisasi kecil (small-cap) dan menengah (mid-cap).
Adapun istilah January Effect berasal dari pengamatan oleh Sidney B. Wachtel pada 1942, dengan menggunakan data-data sejak 1925.
Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Melesat Hingga ke Level 8.800 Pekan Depan, Cermati Saham-saham Ini
Penyebab January Effect terjadi ini,karena banyak investor menjual rugi saham pada Desember untuk keperluan pajak, lalu membeli kembali atau buyback saham pada Januari. Di sisi lain, juga karena bonus akhir tahun, rebalancing portofolio tahunan, serta optimisme investor tahun baru.
"Jika kondisi ekonomi global dan sentimen pasar membaik dan investor kembali optimis, makabisa meningkatkan minat beli di awal tahun, yang bisa mendongkrak saham, terutama di small-cap/mid-cap," kata Nafan.
Fenomena January Effect bisa saja terjadi, karena terlihat dari pada Kuartal I-2026 merupakan periode ekonomi Indonesia yang terkuat, karena didorong konsumsi dari perayaan tahun baru, Imlek, serta momentum ramadan.
"Anggap January Effect sebagai opsional: bisa jadi terdapat peluang, namun jangan jadikan ekspektasi pasti. Jika ingin mengambil peluang fokus ke saham-saham small-cap/mid-cap undervalued yang likuid, atau saham dengan fundamental baik, karena saham-saham tersebut lebih rawan bounce bila terjadi rebalancing awal tahun," jelas Nafan.
Sementara, VP of Equity Retail, Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia akan cenderung moderat.
Hal ini seiring dengan sentimen global mulai dari pemangkasan suku bunga The Fed, risiko perang dagang, asumsi makro APBN yang solid, hingga kans penurunan BI Rate.
"Maka kami berpandangan aset yang akan outperform di tahun 2026, diantaranya, Jika terjadi soft-landing domestik, maka sektor yang menarik diantaranya consumer staples, perbankan hingga properti atau yang sensitive rate," katanya.
IHSG Akan Terus Reli Positif
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, melihat kinerja IHSG pada pekan ini akan terus positif, mengingat sejumlah sentimen yang mendorong ke zona hijau.
Pada sepekan ke depan IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan dan berpeluang membentuk rekor all time high seiring dukungan rilis sejumlah data ekonomi domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Beberapa indikator penting yang akan dirilis meliputi data neraca dagang, inflasi, serta Consumer Confidence Index, di mana konsensus pasar memperkirakan neraca dagang tetap solid dan inflasi berada dalam level terkendali.
Kondisi tersebut diharapkan dapat memperkuat sentimen positif pasar, mencerminkan stabilitas makroekonomi dan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.
"Meski demikian, pergerakan IHSG tetap akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama arah kebijakan global. Namun secara keseluruhan, peluang penguatan masih terbuka," kata Hari.
Saham-saham Pilihan
Baik Nafan maupun Hari memberikan rekomendasi saham-saham pilihan yang bisa mendulang cuan pada tahun 2026 ini.
Apalagi, Nafan memandang secara teori January Effect itu bisa terjadi, jika kondisi ekonomi dan sentimen mendukung. Meski kejadian January Effect tidak bisa dijamin.
"Dengan demikian, khususnya untuk January Effect 2026, lebih bijak untuk melihatnya sebagai peluang potensial, bukan strategi andalan," katanya.
Adapun, berikut beberapa saham pilihan yang bisa menjadi pertimbangan para investor untuk berinvestasi.
- ADRO
- ASSA
- BBCA
- BBNI
- BBRI
- BMRI
- BNGA
- BRMS
- CUAN
- ENRG
- HRTA
- IMPC
- INCO
- ISAT
- JPFA
- PGAS
- PTRO
- RATU
- SIDO
- SILO
- TINS
- TKIM
- UNVR
- WIFI
- BULL
- BUVA
- IMPC
Perlu diingat, saham-saham ini hanyalah rekomendasi belaka, keputusan investasi tetap di tangan investor sendiri.
Berita Terkait
-
Emiten BUMI Target Berapa? Tertekan Aksi Jual Asing, Tapi Saham Tetap Laris
-
Purbaya Pede IHSG dan Rupiah Aman di Tengah Konflik AS-Venezuela
-
Daftar Saham yang Lepas Suspend BEI, Bisa Ditransaksikan Mulai Hari Ini
-
IHSG DIbuka ke Level Tertinggi 8.890, Tapi Langsung Melemah
-
IHSG Meroket ke Level Tertinggi, Apa Saja Saham yang Cuan?
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
Terkini
-
IHSG Dibuka Lari Kencang ke Level 7.346
-
Harga Minyak Dekati Level 100 Dolar: Selat Hormuz Mencekam di Tengah "Drama" Trump-Iran
-
Kejar Setoran Barang Mewah, Bea Cukai dan DJP Segel 4 Kapal Pesiar Asing di Jakarta Utara
-
Tak Peduli Harga Minyak Dunia Naik, Wall Street Tetap Meroket
-
UMKM Terancam Gulung Tikar Imbas Wacana Larangan Total Vape
-
Strategi Baru Tekan Biaya Produksi Sawit, Sebar Serangga Penyerbuk
-
BEI Gembok Tiga Saham Sekaligus, Siapa Saja?
-
Dana Asing Kabur dari IHSG, Saham BUMI Masuk Rekomendasi Analis
-
Minta KAI Percantik, Menhub: Bogor Stasiunnya Pada Jelek
-
Cegah Efek Domino 'Bank Run', OJK Rilis Panduan Resmi Medsos bagi Perbankan