- Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) berpotensi mengganggu iklim usaha dan kepercayaan investor di Indonesia pada tahun 2026.
- DFK dianggap risiko struktural yang melemahkan stabilitas ekspektasi pasar serta menghambat eksekusi kebijakan strategis negara.
- Mitigasi efektif memerlukan respons berbasis data yang konsisten dan peningkatan literasi ekspektasi ekonomi publik.
Suara.com - Disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) dinilai berpotensi menjadi faktor non-ekonomi yang dapat mengganggu kepercayaan investor dan iklim usaha di Indonesia pada 2026.
Risiko ini muncul seiring meningkatnya penggunaan narasi manipulatif untuk menghambat eksekusi kebijakan dan program strategis negara, terutama pada momen fiskal yang krusial.
Evident Institute menilai DFK tidak lagi bisa dipandang sekadar persoalan komunikasi publik. Dalam konteks ekonomi, DFK berpotensi melemahkan stabilitas ekspektasi pasar, meningkatkan ketidakpastian kebijakan, dan berdampak pada persepsi pelaku usaha serta investor.
"Dalam konteks ini, Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) tidak lagi dapat diperlakukan sebagai isu komunikasi semata, melainkan sebagai risiko struktural terhadap stabilitas ekspektasi publik dan kepercayaan ekonomi," ujar Direktur Ekonomi Evident Institute, Rijadh Djatu Winardi di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Menurut Rijadh, gangguan terhadap ekspektasi publik memiliki implikasi langsung terhadap iklim investasi. Ketika kepercayaan publik dan pelaku pasar melemah, biaya koordinasi kebijakan cenderung meningkat dan efektivitas komunikasi ekonomi pemerintah ikut tertekan.
Evident Institute mencatat, sepanjang 2025 lonjakan DFK menunjukkan koeksistensi temporal dengan perubahan indikator persepsi ekonomi. Kondisi ini mengindikasikan melemahnya tingkat kepercayaan publik pada periode tertentu, terutama saat isu fiskal dan politik menjadi sorotan utama.
"Hal ini terjadi terutama pada periode fiskal dan politik yang sensitif. Jadi dalam hal ini DFK berfungsi sebagai pengejut (shock) non-ekonomi terhadap ekspektasi publik," tutur Rijadh.
Ia menjelaskan, bagi investor dan pelaku usaha, stabilitas persepsi sama pentingnya dengan indikator fundamental. Lonjakan DFK di periode kritis dinilai dapat memperbesar volatilitas sentimen pasar dan menciptakan ketidakpastian yang berisiko menahan arus investasi.
Tekanan tersebut diperkuat oleh masifnya persebaran DFK melalui platform media sosial dan aplikasi pesan tertutup. Evident Institute menilai Facebook dan TikTok memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk persepsi publik, khususnya pada periode sensitif.
Baca Juga: Miskomunikasi Rugikan Perusahaan USD 37 Miliar Setiap Tahunnya
Sementara itu, Direktur Hukum Evident Institute Abdul Luky Shofiul Azmi menegaskan, mitigasi DFK harus dilakukan secara terukur agar tidak menimbulkan friksi baru yang justru memperburuk iklim kepercayaan.
"Pemerintah perlu menggeser pola respons dari bantahan reaktif menuju counter-narrative berbasis data yang konsisten, cepat, dan mudah diakses. Tujuannya bukan memenangkan perdebatan wacana, melainkan menutup ruang friksi informasi sebelum narasi hoaks terlanjur dinormalisasi sebagai kebenaran sosial," paparnya.
Di sisi lain, Eksekutif Direktur Evident Institute Rinatania Anggraeni Fajriani menilai literasi ekspektasi ekonomi menjadi kunci untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif.
Menurutnya, disinformasi ekonomi kerap memanfaatkan ketidakpastian dan istilah teknis yang tidak akrab bagi publik, mulai dari isu APBN, pajak, hingga subsidi.
"Tanpa upaya sistematis untuk menjembatani kesenjangan pemahaman ini, ruang panik akan terus tersedia bagi narasi manipulatif," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 5 Rekomendasi Sepeda Lipat di Bawah 5 Juta yang Ringan dan Stylish, Mobilitas Semakin Nyaman
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
IHSG Ditutup Longsor Lagi, 494 Saham Kebakaran
-
LPDP Ungkap Beasiswa Kini Fokus ke Program STEM, AI-Semikonduktor, hingga Hilirisasi
-
Riset LPEM FEB UI Ungkap Dampak Kontribusi Pindar ke PDB Indonesia
-
Kemenperin Bantah Isu PHK Mie Sedaap, Sebut Hanya Pekerja Outsourcing
-
Impor Masih Dominan, Emiten Petrokimia TPIA Bidik Penguatan Pasar Domestik
-
Viral Kasus Dwi Sasetyaningtyas, LPDP Ancam Pamerkan Nama Alumni Bermasalah
-
Penerimaan Pajak Naik, Nilai Tukar Rupiah Kembali Menguat pada Kamis
-
LPDP Mau Gandeng Danantara Siapkan Lapangan Kerja buat Alumni Penerima Beasiswa
-
PITT Jual Bisnis Hotel dan Fokus Sektor Kapal Usai Diakusisi Jinlong Resources
-
Cara Lapor SPT Tahunan Orang Pribadi Melalui Coretax DJP Lengkap Terbaru