- Rebalancing indeks MSCI pada Februari 2026 berpotensi memicu arus modal asing besar ke saham pilihan di Bursa Efek Indonesia.
- Emiten seperti BUMI dan PANI diprediksi menjadi kandidat kuat masuk Indeks Global Standard dengan potensi dana masuk signifikan.
- Faktor penentu utama kriteria MSCI adalah kapitalisasi pasar dan transparansi kepemilikan saham publik atau free float.
PT Petrosea Tbk (PTRO)
Saat ini berada di indeks Small Cap, PTRO memiliki peluang besar untuk naik kelas ke kategori Standard. Konsistensi pertumbuhan laba dan peran strategisnya di sektor jasa tambang memperkuat posisi tawar emiten ini dalam peninjauan Februari mendatang.
Di sisi lain, investor juga perlu waspada terhadap risiko keluarnya beberapa emiten dari daftar indeks MSCI. Samuel Sekuritas menyoroti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang berpotensi tergeser dari MSCI Indonesia Global Standard.
Berbeda dengan analis Mirae, Samuel Sekuritas memperkirakan saham-saham lain yang berpotensi masuk MSCI.
Samuel Sekuritas juga mengidentifikasi sederet emiten yang berpeluang besar masuk ke kategori MSCI Indonesia Small Cap. Nama-nama tersebut antara lain:
Sektor Tambang & Energi: DEWA, ADMR, TINS, BIPI, dan BULL.
Sektor Telekomunikasi & Teknologi: ISAT dan COIN.
Sektor Properti & Infrastruktur: SSIA dan BUVA.
Masuknya deretan saham ini ke dalam indeks global diharapkan mampu meningkatkan eksposur dan visibilitas perusahaan di mata manajer investasi internasional menjelang rebalancing periode Februari 2026.
Sementara itu, untuk kategori Small Cap, beberapa saham yang berisiko keluar karena perubahan standar likuiditas dan kapitalisasi antara lain:
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
Baca Juga: IHSG Gagal Tembus Level 9.000, Investor Panik Langsung Buru-buru Lego Saham
PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES)
PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO)
Investor disarankan untuk memantau pergerakan harga saham-saham ini menjelang periode pengumuman resmi, guna mengantisipasi tekanan jual akibat penyesuaian portofolio oleh pengelola dana global.
Faktor penentu utama dalam rebalancing kali ini bukan hanya besarnya kapitalisasi pasar, melainkan transparansi kepemilikan saham publik (free float).
Mirae Asset Sekuritas mengkaji adanya wacana penggunaan data Monthly Holding Composition Report (MHCR) dari KSEI sebagai acuan tambahan perhitungan free float.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Menuju Swasembada, YSPN Salurkan Empat Ton Beras ke Bali
-
Harga Minyak Dunia Terguncang: Geopolitik AS, Iran dan Venezuela Jadi Penentu
-
Ketegangan Iran Picu Kenaikan Harga Minyak, Brent Tembus 64 Dolar AS per Barel
-
Gen Z Mulai Tertarik Daftar Haji, Pertumbuhan Tabungan GenHajj Terus Meroket
-
Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai hingga Beras Makin Murah
-
IHSG Mulai Tunjukkan Tanda Overbought, Ini Saham-saham Rekomendasi Hari Ini
-
BI Ramal Kinerja Penjualan Eceran Bakal Lebih Tinggi, Ini Pendorongnya
-
Rupiah Masih Masuk Zona Merah, Dolar AS Menguat ke Level Rp16.874
-
Harga Emas Antam Makin Mahal, Hari Ini Dibanderol Rp 2.652.000/Gram
-
IHSG Berbalik Menguat di Selasa Pagi, Kembali ke Level 8.900