- Rupiah dibuka pada level Rp16.874 per dolar AS di pasar pada Selasa, 13 Januari 2026, melemah delapan hari berturut-turut.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen eksternal, termasuk pernyataan pejabat The Fed yang menunda penurunan suku bunga acuan.
- Sebagian besar mata uang Asia melemah, dengan Baht Thailand mengalami pelemahan terdalam dibandingkan mata uang regional lainnya.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih belum pulih pada pembukaan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Selasa (13/1/2026) dibuka pada level Rp16.874 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan ini membuat mata uang garuda sudah sakit selama 8 hari berturut-turut. Alhasil, rupiah melemah 0,11 persen dibanding penutupan pada Senin yang berada di level Rp16.855 dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.853 per dolar AS. Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia hampir seluruhnya melemah.
Di mana, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,41 persen.
Selanjutnya ada won Korea Selatan yang ambles 0,34 persen dan yen Jepang yang tertekan 0,22 persen. Disusul, dolar Taiwan yang terkoreksi 0,12 persen.
Berikutnya, peso Filipina dan dolar Singapura yang terapresiasi, masing-masing 0,06 persen dan 0,05 persen. Lalu ada yuan China yang tergelincir 0,04 persen.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah disebabkan sentimen dalam luar negeri. Salah satunya rencana the fed yang mau menurunkan suku bunganya.
"Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yg rebound merespon pernyataan hawkish pejabat the Fed William yang mengisyaratkan bahwa the Fed tidak perlu buru -buru menurunkan suku bunga," katanya saat dihubungi Suara.com, Selasa (13/1/2026).
Selain itu, pergerakan dolar AS yang menguat membuat rupiah tertekan. Tentunya mata uang garuda masih akan diperkirakan melemah pada penutupan sore nanti.
Baca Juga: Rupiah Makin Ambruk Hingga ke Level Rp 16.855
"Dolar AS juga didukung oleh antisipasi data inflasi AS malam ini yang diperkirakan akan naik. Range 16.800-16.900," jelasnya.
Berita Terkait
-
Apa Kabar Rupiah di 2026? Ini Prediksi dan Risiko yang Mengintai
-
Rupiah Berotot di Penghujung 2025, Menuju Level Rp 16.680
-
Dapat Obat Kuat BI, Rupiah Makin Perkasa Lawan Dolar AS ke Level Rp16.739
-
Catatan Buruk Rupiah di 2025: Sempat Tembus Rp16.800, Menjadi Mata Uang Terlemah Kedua di Asia
-
Rupiah Konsisten Menguat, Dolar AS Loyo ke Level Rp16.773
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
IHSG Betah di Zona Hijau, PRDL Langsung ARA
-
Daftar Lengkap Harga Jual dan Buyback Emas Pegadaian per 15 Juli 2026
-
Harga Bright Gas Turun Mulai 14 Juli, Tabung 12 Kg Kini Rp220.00
-
Nyontek Dubai, Bali Mau Jadi Pusat Keuangan Dunia
-
KAEF Siapkan Produksi 500 Juta Tablet per Tahun Dukung Eliminasi TB
-
BEI Tiba-tiba Minta Investor Jangan Panik: Mohon Tenang dan Tetap Rasional!
-
Perkara Eks Jampidsus Dilimpahkan ke Kejagung, KPK Lacak 'LHKPN Palsu' Febrie Adriansyah
-
Transaksi Judi Online Naik 260 Persen di Bank, Apa Penyebabnya?
-
Pemerintah Siapkan Insentif ETF Emas, Bursa Mineral, Hingga Demutualisasi
-
Jumlah Saham HSC Membengkak Jadi 51 Emiten Pasca Pengesahan Aturan Baru BEI