- IHSG ditutup melemah di level 8.884 pada Senin (12/1/2026) akibat aksi ambil untung saham besar.
- Pelemahan didorong aksi jual antisipatif kebijakan MSCI dan tekanan jual yang memicu penurunan signifikan.
- Sentimen negatif global, pelemahan rupiah, serta isu The Fed membebani pasar saham domestik hari itu.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin, 12 Januari 2025 seiring maraknya aksi profit taking dan panic selling, setelah indeks gagal bertahan di atas level psikologis 9.000.
IHSG berakhir di level 8.884, turun 0,58 persen. Padahal, pada awal perdagangan indeks sempat menguat dan kembali menyentuh area 9.000 sebelum akhirnya berbalik arah ke zona merah.
Seperti dikutip dari Riset Phintraco Sekuritas, pelemahan ini dipicu aksi ambil untung pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya saham konglomerasi, yang sebelumnya telah mengalami reli dan menjadi kontributor utama penguatan indeks.
Tekanan jual tersebut juga disebut sebagai bentuk antisipasi pelaku pasar terhadap rencana pengumuman kebijakan baru MSCI terkait perhitungan free float yang dijadwalkan pada akhir bulan ini.
Aksi profit taking yang masif kemudian memicu panic selling, sehingga IHSG sempat tertekan hingga menyentuh level 8.715. Meski sempat mengalami perbaikan menjelang penutupan, indeks tetap bertahan di area negatif.
Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah moving average lima hari (MA5). Indikator MACD dan Stochastic RSI mengindikasikan potensi berlanjutnya koreksi, seiring meningkatnya volume jual.
Untuk perdagangan selanjutnya, IHSG diperkirakan bergerak sideways cenderung melemah dengan peluang menguji area support di kisaran 8.725–8.800. Adapun level resistance berada di 8.950, dengan pivot di 8.900.
Dari sisi makroekonomi, penjualan ritel Indonesia tercatat tumbuh 6,3 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada November 2025, meningkat signifikan dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 4,3 persen YoY. Capaian ini menjadi pertumbuhan tahunan tercepat sejak Maret 2024. Namun demikian, sentimen positif tersebut belum mampu menopang pergerakan pasar saham.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah kembali melemah dan ditutup di level Rp16.855 per dolar AS pada perdagangan Senin. Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global serta kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi domestik.
Sentimen eksternal juga membebani pasar. Ketegangan geopolitik global kembali meningkat menyusul konflik di Iran yang diwarnai gelombang protes dan korban jiwa, ditambah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka peluang intervensi. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran eskalasi konflik politik global.
Baca Juga: Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
Selain itu, indeks saham di bursa Eropa dibuka melemah, sementara indeks futures di Wall Street bergerak di zona negatif. Tekanan semakin kuat setelah Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan kriminal terhadap Chairman The Federal Reserve Jerome Powell, terkait kesaksiannya di Komite Perbankan Senat mengenai renovasi gedung kantor pusat The Fed.
Langkah ini dipersepsikan pasar sebagai upaya Presiden Trump untuk menekan bank sentral atau mempercepat pergantian pimpinan The Fed sebelum masa jabatan Powell berakhir pada Mei 2026.
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan hari ini, sebanyak 71,79 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 39,95 triliun, serta frekuensi sebanyak 5,01 juta kali.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 293 saham bergerak naik, sedangkan 459 saham mengalami penurunan, dan 206 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada Hari ini diantaranya, MSKY, DKHH, FOLK, KIPG, SOHO, GULA, SOTS, ATAP, INDS, APLN, SOCI.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Riset Danareksa: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Kuartal I, Ditopang Konsumsi Rumah Tangga
-
Telkom dan PGN Perkuat Ekosistem Green Digital Infrastructure Terintegrasi Bersama Mitra Global
-
ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen di 2026
-
Penerimaan Pajak dari MBG Cuma 3-5 Persen, Setara Rp 10,05 T hingga Rp 16,75 T
-
Toko Online Dibanjiri Produk China, Purbaya Mau Tarik Pajak E-commerce Pertengahan 2026
-
Negosiasi Buntu, Iran ke AS: Rasakan Harga Bensin Kalian!
-
Komitmen Nyata BRI Group, Sinergi Holding UMi Perkuat Fondasi Ekonomi Masyarakat
-
Purbaya Kesal Restitusi Pajak 2025 Tembus Rp 360 Triliun, Duga Ada Kebocoran
-
OJK Sebut Banyak Orang Mulai Malas Bayar Cicilan Pindar
-
Karpet Merah Family Office di Bali: Ambisi Prabowo, Warisan Luhut, dan Kiblat Abu Dhabi