- Harga minyak Brent dan WTI stabil pada Jumat 16 Januari 2025 karena meredanya kekhawatiran serangan AS ke Iran.
- Pernyataan Presiden Trump mengenai meredanya ketegangan Teheran menurunkan premi risiko harga minyak mentah global.
- Kenaikan persediaan minyak mentah Amerika dan pemulihan produksi Venezuela turut menekan harga minyak mentah.
Suara.com - Harga minyak stabil pada perdagangan Jumat 16 Januari 2025, dengan Brent dan WTI naik tipis dari harga penutupan sebelumnya. Kondisi ini terjadi setelah meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi serangan Amerika Serikat ke Iran.
Mengutip dari Investing.com, harga Brent turun 3 sen, atau 0,05 persen, menjadi USD 63,73 per barel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 4 sen, atau 0,07 persen, menjadi USD 59,22 per barel pada pukul 02.23 GMT atau 09.23 WIB.
Tercatat, Brent ataupun WTI naik ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pekan ini setelah protes meletus di Iran dan Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan potensi serangan terhadap negara tersebut.
Namun demikian, pada Kamis (16/1) malam Trump menyatakan bahwa ketegangan di Teheran mulai mereda. Pernyataan ini mengurangi kekhawatiran pasar akan adanya aksi militer yang dapat mengganggu pasokan minyak global.
Berdasarkan laporan Energy Information Administration atau Badan Informasi Energi AS, persediaan minyak mentah dan bensin Amerika telah meningkat lebih dari perkiraan analis juga meredam pasar.
"Hal ini memicu penurunan cepat 'premium Iran' yang telah mendorong harga ke level tertinggi dalam dua belas minggu, diperparah oleh data persediaan AS terbaru yang menunjukkan peningkatan substansial minyak mentah," kata analis IG, Tony Sycamore, dalam sebuah catatan.
Sejumlah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Venezuela mulai memulihkan produksi minyaknya dan kembali melakukan ekspor.
Pada saat yang sama, raksasa energi Shell merilis skenario ketahanan energi 2026 yang memproyeksikan pertumbuhan permintaan minyak secara optimis.
Shell memperkirakan kebutuhan energi utama pada tahun 2050 bisa meningkat hingga 25 persen dibandingkan tahun lalu.
Baca Juga: Viral Donald Trump Diduga Beri Isyarat Jari Tengah Saat Kunjungi Pabrik Ford
Sementara OPEC menyatakan pada Rabu bahwa pasokan dan permintaan minyak global diperkirakan tetap seimbang sepanjang 2026.
Organisasi tersebut juga memproyeksikan konsumsi minyak akan kembali meningkat pada 2027 dengan laju pertumbuhan yang serupa dengan tahun ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Gandeng OpenAI, Novo Nordisk Percepat Revolusi AI di Sektor Kesehatan
-
Danantara Kantongi Dividen Rp16,67 Triliun dari BBRI, Sinyal Positif Bagi Pasar?
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Jambi Tembus 2.775 TEUs di Maret 2026
-
5 Langkah Praktis Top Up Token Listrik di Blibli
-
Impor Minyak Rusia Mulai Dieksekusi Bulan Ini
-
Mengapa Prabowo Membeli Minyak Rusia?
-
Kerja Sama Energi RIRusia Makin Kuat, Pasokan Minyak dan Investasi Kilang Segera Masuk
-
Harga Plastik Melonjak, Industri Mulai Beralih ke Kemasan Daur Ulang
-
Nasabah Pinjol Ganti Nomer Kontak, Bakal Masuk Daftar Hitam SLIK
-
IHSG Tancap Gas Terus Menguat di Sesi I, Deretan Saham yang Cuan