- Harga minyak mentah Brent dan WTI turun pada Rabu 21 Januari dipicu proyeksi kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat.
- Sentimen negatif stok minyak AS melampaui dampak penghentian produksi Kazakhstan dan ancaman tarif geopolitik AS.
- Ancaman tarif AS terkait Greenland dan ketegangan AS-Iran berpotensi memperparah tekanan pasar minyak mentah global.
Suara.com - Harga minyak mengalami penurunan pada perdagangan Rabu 21 Januari akibat proyeksi kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat.
Sentimen negatif ini melampaui dampak dari penghentian sementara produksi di dua lapangan minyak besar di Kazakhstan, serta tekanan geopolitik yang dipicu oleh ancaman tarif AS terkait upaya pengendalian wilayah Greenland.
Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka turun 79 sen, atau 1,22 persen, menjadi 64,13 dolar AS per barel pada pukul 02.01 GMT atau 09.01 WIB. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 64 sen, atau 1,06 persen, menjadi 59,72 dolar AS per barel.
Pada sesi sebelumnya, kedua harga minyak tersebut ditutup menguat hampir 1 dolar AS per barel atau naik 1,5 persen.
Kenaikan ini dipicu oleh penghentian produksi di ladang minyak Tengiz dan Korolev milik Kazakhstan (anggota OPEC+) sejak Minggu akibat gangguan distribusi listrik. Selain itu, data ekonomi China yang kuat turut memberikan sentimen positif bagi pasar.
Berdasarkan keterangan tiga sumber industri kepada Reuters, penghentian produksi di kedua ladang minyak tersebut diperkirakan akan berlangsung selama tujuh hingga sepuluh hari ke depan.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menyatakan pada hari Rabu meskipun penghentian produksi di Tengiz, salah satu ladang minyak terbesar di dunia, dan Korolev bersifat sementara, tekanan harga tetap ada.
Hal ini disebabkan oleh proyeksi kenaikan stok minyak mentah AS serta ketegangan geopolitik yang terus berlanjut.
Tekanan pasar semakin diperparah oleh ancaman tarif baru Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara Eropa jika kesepakatan pengalihan kontrol atas Greenland tidak tercapai.
Baca Juga: Ekonomi China Tumbuh Positif, Harga Minyak Dunia Menguat
Tarif tersebut berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Pada hari Selasa, Trump menegaskan bahwa targetnya untuk menguasai Greenland adalah harga mati dan "tidak ada jalan mundur."
Berdasarkan jajak pendapat awal Reuters pada Selasa, stok minyak mentah dan bensin Amerika Serikat diperkirakan meningkat pekan lalu, sementara persediaan produk distilat diprediksi menurun.
Enam analis yang disurvei memperkirakan stok minyak mentah naik rata-rata sekitar 1,7 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 16 Januari.
Laporan mingguan dari American Petroleum Institute (API) dijadwalkan rilis pada Rabu, diikuti data resmi dari Energy Information Administration (EIA) pada Kamis.
Kedua laporan ini mundur satu hari dari jadwal biasanya karena libur federal AS pada Senin lalu.
Meskipun pertumbuhan stok tersebut memberikan sentimen negatif bagi harga minyak, Gregory Brew, analis senior dari Eurasia Group, menilai potensi kembalinya ketegangan antara AS dan Iran dapat mengerek harga.
Sebelumnya, Presiden Trump mengancam akan menyerang Iran menyusul tindakan keras otoritas setempat terhadap aksi protes anti-pemerintah awal bulan ini.
Menanggapi hal tersebut, Komisi Keamanan Nasional Iran menyatakan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akan memicu deklarasi jihad atau perang suci.
"Meskipun AS menahan diri untuk tidak langsung menyerang Iran, ketegangan kemungkinan akan tetap tinggi karena aset militer AS tambahan dipindahkan ke Timur Tengah dan diplomasi untuk meredakan ketegangan gagal menunjukkan kemajuan," kata Brew dalam sebuah catatan.
Berita Terkait
-
Trump Berulah! AS Blokade Tanker Venezuela, Harga Minyak Mentah Meroket Tajam
-
Harga Minyak Mentah Indonesia Turun Jadi USD 62,63 di November, BBM Gimana?
-
Imbas Blokade Tanker Venezuela oleh AS, Harga Minyak Brent dan WTI Melonjak
-
Harga Minyak Dunia Turun, di Tengah Menguatnya Perdamaian Rusia-Ukraina
-
Harga Minyak Menguat Lagi: AS Bersiap Tambah Pencegatan Kapal Tanker Venezuela
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Pemerintah Punya Tiga Opsi Hadapi Tekanan Fiskal, Salah Satunya Tambah Utang
-
Memahami Zeus's Law dalam Film The Odyssey, Penyederhanaan Xenia Epos Homer
-
Belum Ada Kuota Khusus, Penyandang Disabilitas Tertinggal di Program Andalan Prabowo
-
Houthi Serang 'Tambang' Arab Saudi, Harga Minyak Hampir 100 Dolar AS per Barel
-
Bisakah Laut Serap Lebih Banyak Karbon? Ilmuwan Uji Cara Baru Hadapi Perubahan Iklim
-
4 Micellar Water Probiotic Jaga Keseimbangan Skin Barrier pada Kulit Kering
-
Berdayakan UMKM Lokal, BRI Hadirkan Pelatihan Terpadu Lewat Rumah BUMN Demak
-
Viral Denda Ban Gundul Rp250 Ribu, Korlantas Polri Ungkap Fakta Sebenarnya
-
Survei SMRC Beberkan Dua Faktor Utama Kepuasan Publik ke Presiden Prabowo Anjlok Tajam
-
Nasib Tragis Bintang Film Dewasa Alami Kerusakan Otak Permanen, Minta Ganti Rugi Rp45 M