- Dolar Singapura (SGD) memimpin penguatan di Asia Tenggara, mencapai level tertinggi dekade pada 26 Januari 2026.
- Penguatan SGD didorong aksi jual dolar AS akibat ketidakpastian kebijakan Trump dan data ekonomi AS mengecewakan.
- Rupiah Indonesia (IDR) menunjukkan pemulihan signifikan, menguat ke Rp16.775 per dolar AS pada Senin pagi.
Suara.com - Pasar valuta asing Asia Tenggara tengah diramaikan oleh penguatan signifikan mata uang regional terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Dolar Singapura (SGD) terpantau memimpin reli dengan mencatatkan level tertinggi dalam satu dekade terakhir, sementara Rupiah mulai menunjukkan taringnya setelah sempat terpuruk di awal tahun 2026.
Berdasarkan data Refinitiv pada perdagangan Senin (26/1/2026) pagi, dolar Singapura terapresiasi sebesar 0,30% ke posisi SGD 1,2676 per dolar AS.
Angka ini merupakan level terkuat mata uang "Negeri Singa" tersebut sejak September 2014, atau dalam kurun waktu lebih dari 11 tahun.
Sementara, saat artikel ini ditulis pada pukul 13.30, 1 USD setara dengan 1,27 SGD.
Secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date), dolar Singapura telah menguat 1,39%.
Tren positif ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Singapura di tengah guncangan ekonomi global yang melanda Amerika Serikat.
Penguatan SGD ini dipicu oleh aksi jual masif terhadap Indeks Dolar AS (DXY). Para pelaku pasar mulai menjalankan strategi yang dikenal dengan narasi "Sell America" akibat beberapa faktor krusial:
- Ketidakpastian Kebijakan Donald Trump: Sikap Presiden AS yang kerap berubah drastis—seperti ancaman tarif terhadap Eropa terkait isu Greenland yang kemudian ditarik kembali—memicu kekhawatiran akan risiko kebijakan yang tinggi.
- Data Ekonomi AS Mengecewakan: Rilis data terbaru menunjukkan indeks manufaktur (Purchasing Managers' Index/PMI) AS hanya berada di level 51,9, di bawah target pasar. Selain itu, ekspektasi inflasi konsumen yang melandai ke angka 4% turut menekan posisi greenback.
- Ketegangan Geopolitik: Konflik global membuat investor lebih waspada dan cenderung beralih dari aset berdenominasi dolar AS menuju mata uang yang dianggap lebih stabil atau prospektif di pasar berkembang.
Bagaimana dengan Rupiah (IDR)?
Baca Juga: Dijual Rp 17.000, Daftar Kurs Dolar di Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA
Berbeda dengan awal pekan lalu (20/1/2026) saat Rupiah nyaris menyentuh level kritis Rp17.000 per dolar AS, kini mata uang Garuda perlahan mulai memulihkan kekuatannya.
Pada perdagangan Senin (26/1/2026) pukul 10.24 WIB, Rupiah menguat 0,21% ke posisi Rp16.775 per dolar AS. Di pasar spot Jakarta, Rupiah bahkan dibuka menguat 36 poin dari posisi penutupan sebelumnya.
Tren pemulihan ini merupakan kelanjutan dari kinerja positif akhir pekan lalu, mengindikasikan bahwa Rupiah mulai keluar dari tekanan jual yang terjadi sejak akhir 2025.
Melemahnya data ekonomi AS memberikan ruang bagi Rupiah untuk bernapas lebih lega. Rendahnya ekspektasi inflasi di Amerika memberikan harapan bagi pasar bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets) akan mulai mereda dalam jangka menengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Amar Bank Tebar Dividen Rp110 Miliar
-
Makan Biaya Rp553 Miliar, Bandara International Minangkabau Dipercantik Nuansa Minang
-
UMKM RI Diajari Smart Factory oleh Korea Selatan, Produksi Siap Berbasis AI
-
Tak Cuma Pegadaian, Kini Masyarakat Punya Pilihan Baru untuk Gadai Barang
-
Gapembi Klarifikasi Sikap soal SE MBG, Soroti Tata Kelola Kebijakan
-
Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond
-
Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik
-
Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM
-
Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi
-
Kejar Pembiayaan Hijau, JAPFA Jadi Pelopor Integrasi LCA dalam Strategi Bisnis