- Bitcoin gagal mencapai target US$100.000 setelah sempat menyentuh US$97.000 pada Januari 2026.
- Investor besar Amerika Serikat ("Whale") menjadi pemicu koreksi tajam harga Bitcoin melalui aksi jual agresif.
- Harga BTC dipengaruhi signifikan oleh jam operasional bursa saham AS dan kebijakan suku bunga The Fed.
Suara.com - Ambisi komunitas kripto untuk menyaksikan Bitcoin (BTC) mencetak sejarah di angka psikologis US$ 100.000 kembali menemui jalan buntu.
Meski sempat memberikan harapan besar saat menembus US$ 97.000 pada pertengahan Januari 2026, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini justru tergelincir ke level US$ 92.263 pada akhir pekan kemarin, Minggu (19/1/2026).
Padahal, sentimen pasar sebelumnya berada di zona sangat positif. Hal ini dipicu oleh data SoSoValue yang mencatat arus masuk (inflow) harian pada ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat mencapai US$ 843,62 juta—rekor tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Namun, euforia tersebut hanya bertahan singkat sebelum tekanan jual masif menghantam pasar.
Analis dari platform CryptoQuant mengungkapkan bahwa aktor utama di balik koreksi tajam ini adalah para investor bermodal besar atau "Whale" asal Amerika Serikat.
Fenomena ini terdeteksi melalui indikator Coinbase Premium Gap (CPG) yang menunjukkan angka negatif.
Coinbase Premium Gap merupakan metrik selisih harga BTC antara bursa Coinbase (representasi pasar AS) dan Binance (representasi pasar global).
Premium Negatif: Menandakan bahwa investor di AS melakukan aksi jual yang lebih agresif dibandingkan investor di wilayah lain.
Strategi Akhir Pekan: Para "Whale" diketahui melakukan aksi ambil untung besar-besaran saat pasar tradisional (bursa saham Nasdaq) tutup di akhir pekan. Akibatnya, harga di bursa Coinbase merosot lebih dalam dibandingkan bursa global lainnya.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 93.024 (BTC to USD), mencatatkan penurunan lebih dari 2% dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Baca Juga: Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
Memasuki tahun 2026, dinamika pasar kripto telah bertransformasi secara signifikan. Ketergantungan terhadap jam operasional bursa saham AS serta kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor dominan yang menentukan arah harga.
Target US$ 100.000 kini menjadi benteng resistensi yang sangat kokoh. Setiap kali harga mendekati angka keramat tersebut, para investor institusi dan "Whale" cenderung melakukan profit taking, yang secara otomatis menekan harga kembali turun.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto memiliki risiko volatilitas yang sangat ekstrem. Pergerakan harga di bawah level $93.000 menunjukkan sentimen pasar yang masih tidak stabil. Artikel ini bukan merupakan ajakan membeli atau menjual. Selalu lakukan analisis fundamental dan teknikal secara mandiri (DYOR) sebelum memutuskan untuk berinvestasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
7 Rekomendasi HP Baterai Jumbo Paling Murah di Bawah Rp3 Juta, Aman untuk Gaming
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
Terkini
-
Di Balik Right Issue BNBR, Pemilik Saham Bakrie Bisa Terdampak!
-
Rupiah Lesu, Segini Harga Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA
-
Harga Pangan Nasional Kompak Turun 19 Januari 2026, Bawang Merah hingga Cabai Makin Murah
-
Petrokimia Gresik Bangun Tangki Asam Sulfat 40.000 Ton
-
Meski Naik Tipis, Emas Antam Terus Pecah Rekor, Harganya Rp 2.705.000/Gram
-
Dolar AS Menguat, Rupiah Terus Ambles ke Level Rp16.987
-
Penetrasi BEV Dinilai Paling Efektif Tekan Beban Subsidi APBN
-
IHSG Masih Kuat Bertahan di Level 9.100 pada Awal Perdagangan Selasa
-
OJK Minta Perbankan Antisipasi Imbas Rupiah Anjlok
-
Rekomendasi Saham dan Ide Trading IHSG Hari Ini Menurut Para Analis