- Rupiah cetak rekor terburuk 2026 di level Rp16.975/US$ pada Selasa (20/1/2026)
- Mata uang Garuda melemah selama lima hari perdagangan berturut-turut.
- Sempat menguat ke Rp16.940, namun tekanan jual kembali menyeret rupiah.
Suara.com - Belum genap satu bulan memasuki tahun 2026, nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terburuknya.
Pada perdagangan Selasa siang (20/1/2026) pukul 14.00 WIB, mata uang Garuda merosot ke level Rp16.975 per dolar AS, mendekati ambang psikologis baru.
Tren negatif ini terlihat dari pergerakan rupiah yang terus melemah selama lima hari perdagangan berturut-turut. Jika ditarik dari pembukaan pasar pada Rabu (14/1/2026) yang berada di posisi Rp16.860, rupiah telah mengalami depresiasi yang signifikan hanya dalam hitungan hari.
Sepanjang hari ini, pergerakan mata uang terpantau fluktuatif namun cenderung tertekan. Sempat terjadi penguatan terbatas ke level Rp16.940 pada pukul 10.46 WIB, namun aksi jual yang masif kembali membawa rupiah ke zona merah hingga menyentuh level terendahnya tahun ini.
Tekanan eksternal dan sentimen pasar global disinyalir menjadi faktor utama yang membebani langkah rupiah di awal tahun 2026.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menegaskan pelemahan mata uang garuda ini bukan disebabkan pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
“Depresiasi rupiah ini bukan karena isu Thomas Djiwandono akan menjadi Deputi Gubernur BI. Pelemahan memang murni karena sentimen eksternal dan internal yang menghantam rupiah cukup telak,” ujar Ibrahim, Selasa (20/1/2026).
Bahkan, menurut Ibrahim, masuknya Thomas ke jajaran pimpinan BI justru dapat memperkuat fondasi kebijakan moneter nasional. Ia menilai Thomas sebagai figur profesional yang memiliki kapasitas dan pengalaman memadai.
“Thomas masuk menjadi Deputi Gubernur itu justru memperkuat fondasi moneter Indonesia. Dia profesional. Generasi muda masuk ke posisi Deputi Gubernur itu bagus dan memang perlu dipersiapkan,” kata Ibrahim.
Baca Juga: Survei Bank Indonesia : Kegiatan Dunia Usaha Masih Lesu
Thomas sendiri saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, dia sekaligus keponakan Presiden Prabowo Subianto dan anak dari Gubernur BI periode 1993-1998, Soedradjad Djiwandono.
Nama Thomas muncul sebagai kandidat kuat Deputi Gubernur BI, menyusul pengunduran diri Juda Agung pada 13 Jnauari 2026 lalu. Namun, Ibrahim menilai pasar lebih merespons faktor fundamental dibanding isu personal.
“Hubungan rupiah dengan isu Thomas menjadi Deputi Gubernur itu tidak terlalu berdampak. Pelemahan ini karena akumulasi masalah, baik eksternal maupun internal,” tegasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL