- IHSG pada Rabu, 28 Januari 2026, ditutup melemah 7,35 persen ke level 8.320 akibat tekanan jual masif.
- Pelemahan terdalam sektor infrastruktur (10,5 persen) dipicu kekhawatiran MSCI mengenai transparansi kepemilikan saham Indonesia.
- Perdagangan hari itu mencatat 787 saham turun, 41 naik, dengan total transaksi Rp 45,43 triliun.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih merana di penutupan perdagangan, Rabu, 28 Januari 2026. Meskipun membaik, tapi IHSG ambles 659 poin atau turun 7,35 persen ke level 8.320.
Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat, Pelemahan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur yang tertekan hingga 10,5 persen.
Ia tekanan jual yang masif membuat IHSG sempat mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt. Kondisi ini dipicu oleh pengumuman MSCI terkait evaluasi free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.
MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia, meskipun terdapat perbaikan minor pada data free float yang disampaikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Menanggapi hal tersebut, BEI menyatakan akan segera menindaklanjuti keputusan terbaru dari MSCI.
Sejalan dengan IHSG, indeks LQ45 juga bergerak melemah. Saham yang mendominasi penguatan di antaranya INDF dan MDKA, sementara tekanan terbesar datang dari saham DSSA, EXCL, EMTK, BRPT, dan BUMI.
Secara keseluruhan perdagangan, saham-saham yang mencatat penguatan terbesar antara lain WAPO, STAR, BOGA, BALI, dan NICK.
Adapun, saham yang mengalami penurunan paling dalam di antaranya DSSA, IMPC, CDIA, BUVA, dan RAJA.
Pada perdagangan hari ini, sebanyak 57,78 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 45,43 triliun, serta frekuensi sebanyak 3,91 juta kali.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 41 saham bergerak naik, sedangkan 787 saham mengalami penurunan, dan 130 saham tidak mengalami pergerakan.
Baca Juga: MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi. Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji Rp 8,2 M Belum Dibayar, Aktivis-Influencer Sedunia Tuntut Badan Propaganda Israel
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- Promo Alfamart 14-18 Maret 2026: Diskon Sirop dan Wafer Mulai Rp8 Ribuan Jelang Lebaran
- Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
Pilihan
-
Harry Styles Ungkap Perjuangan Jadi Penyanyi Solo Usai One Direction Bubar
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
Terkini
-
Bidik Nuklir dan Mineral Kritis, Bahlil Teken Kesepakatan Strategis dengan Jepang di Tokyo
-
PT KAI Bangun 5.484 Rusun Nempel Stasiun di 4 Kota
-
Mudik Lebaran Mulai Padat, Antrean Kendaraan di Gilimanuk Tembus KM 15
-
IHSG Loyo Jelang Libur Panjang, 564 Saham Merah
-
Danantara Tunjuk Ketum GP Ansor Addin Jauharudin Jadi Komisaris BSI
-
Liburan Lebaran ke Luar Negeri Kini Lebih Praktis Tanpa Perlu Repot Tukar Uang
-
Telkom Bangun Ekonomi Inklusif Lewat Pendampingan dan Pemberdayaan Perempuan Penggerak UMKM
-
Rupiah Kian Kritis, Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS
-
Geram Masih Ada Kasus Penipuan, Mendag Mau Ubah Aturan E-Commerce
-
SiCepat Ekspres Perkuat Rantai Pasok Industri Halal Nasional