- Harga minyak dunia melemah pada Jumat, 30 Januari 2026, akibat pelonggaran sanksi energi Venezuela oleh Presiden Trump.
- Minyak Brent dan WTI turun signifikan meskipun pekan ini diprediksi naik karena ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan.
- Pelaku pasar menantikan hasil pertemuan OPEC+ akhir pekan yang diperkirakan tidak mengubah tingkat produksi minyak saat ini.
Suara.com - Harga minyak dunia melemah pada sesi perdagangan Asia, Jumat 30 Januari 2026, setelah Presiden AS Donald Trump melonggarkan sejumlah sanksi terhadap industri energi Venezuela.
Langkah ini membuka peluang bagi kembalinya sebagian pasokan minyak dari negara Amerika Selatan tersebut ke pasar global.
Meski demikian, pergerakan harga masih dibayangi oleh ketegangan militer antara AS dan Iran serta penantian pelaku pasar terhadap hasil pertemuan penting OPEC+ akhir pekan nanti.
Mengutip dari Investing.com, harga minyak Brent untuk pengiriman Maret turun 1,5 persen menjadi 69,66 dolar AS per barel. Sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate turun 1,6 persen menjadi 64,36 dolar AS per barel pada pukul 02:43 GMT atau 09:43 WIB.
Meskipun sempat terkoreksi dari level tertingginya dalam enam bulan terakhir, harga minyak diprediksi tetap mencatatkan kenaikan antara 12 persen hingga 16 persen pekan ini.
Hal tersebut didorong oleh spekulasi pasar bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta badai salju ekstrem di Amerika Serikat akan mengganggu pasokan global.
Selain itu, gangguan produksi besar-besaran di Kazakhstan turut menjadi pendorong kenaikan harga minyak mentah.
Pemerintahan Trump pada hari Kamis resmi mencabut pembatasan transaksi terhadap perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA.
Kebijakan ini memungkinkan entitas Amerika Serikat untuk melakukan penjualan serta transportasi minyak dari negara tersebut.
Baca Juga: Tensi AS-Iran dan Cuaca Ekstrem AS Dongkrak Harga Minyak
Langkah ini tampaknya dirancang untuk memperkuat kepercayaan pelaku usaha AS agar mau berinvestasi kembali di Venezuela, sebuah skenario yang terus didorong oleh Trump sejak Washington mengambil alih kontrol industri energi negara itu pada awal Januari.
Meski demikian, pengumuman tersebut belum memuat klausul yang mencabut sanksi terhadap kegiatan produksi minyak secara langsung.
Sebelumnya, pengambilalihan industri minyak Venezuela oleh AS sempat memicu kekhawatiran bahwa pasokan global akan melonjak tajam seiring dicabutnya sanksi Amerika.
Namun, sejumlah analis berpendapat bahwa peningkatan produksi di Venezuela tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Hal ini disebabkan oleh infrastruktur energi yang sudah menua serta tingginya ketidakpastian politik setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pihak AS.
Sementara itu,OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan pada hari Minggu ini, di mana sejumlah laporan terbaru mengindikasikan bahwa kartel minyak tersebut kemungkinan besar tidak akan mengubah tingkat produksinya.
Sebelumnya, langkah OPEC+ yang meningkatkan produksi sebesar 2,9 juta barel per hari sepanjang tahun 2025 sempat menekan harga minyak dunia.
Namun, sejak Januari, aliansi ini mulai menghentikan kenaikan produksi bulanan akibat kekhawatiran atas melimpahnya pasokan (supply glut) serta melemahnya permintaan global.
Meskipun demikian, dalam laporan pasar bulanan yang dirilis awal Januari lalu, OPEC+ memproyeksikan adanya perbaikan permintaan minyak pada tahun 2026 dan 2027, sekaligus menepis kekhawatiran terkait kelebihan pasokan di pasar.
Berita Terkait
-
Ketegangan Iran Picu Kenaikan Harga Minyak, Brent Tembus 64 Dolar AS per Barel
-
Harga Minyak Melandai: Antara Krisis Iran dan Ekspor Baru Venezuela
-
Minyak Dunia Naik Lagi, Brent Menguat 2,7 Persen dalam Sepekan
-
OJK Waspadai Efek Domino Operasi Militer AS di Venezuela terhadap Stabilitas Keuangan RI
-
Harga Minyak Dunia Naik Tipis: Stok AS Merosot di Tengah Ambisi Trump Kuasai Minyak Venezuela
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN
-
Pekan Kreatif Nusantara 2026, LPDB Koperasi Ajak Daerah Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Koperasi