- OJK waspadai efek penangkapan Maduro oleh AS terhadap stabilitas ekonomi global & RI. Dampak langsung ke
- harga minyak & komoditas RI belum terlihat signifikan dalam jangka pendek.
- Ekonomi global 2026 diprediksi melandai; bank sentral mulai pangkas suku bunga acuan.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan peringatan serius terkait eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.
Langkah militer AS yang melakukan penangkapan terhadap mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dinilai dapat memicu ketidakpastian tinggi pada stabilitas ekonomi dan keuangan global, termasuk Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyatakan bahwa pihaknya terus mencermati risiko jangka panjang dari peristiwa ini. Menurutnya, ketegangan ini menambah beban risiko geopolitik yang sebelumnya sudah menekan proses pertumbuhan ekonomi dunia.
"Hal ini telah menyebabkan eskalasi terhadap tensi geopolitik. Dalam jangka menengah-panjang harus kita waspadai terus karena menyebabkan ketidakpastian tinggi pada stabilitas ekonomi global," ujar Mahendra dalam konferensi pers RDK Bulanan secara virtual, Jumat (9/1/2026).
Meski tensi memanas, Mahendra menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, dampak langsung terhadap sistem keuangan Indonesia belum terlihat signifikan. Hingga saat ini, fluktuasi produksi dan harga minyak dunia maupun komoditas ekspor utama Indonesia belum menunjukkan guncangan drastis akibat insiden tersebut.
"Sekalipun demikian, kita tentu juga harus mencermati perkembangan risikonya kepada perekonomian dan sektor jasa keuangan dalam jangka menengah-panjangnya," imbuhnya.
Di tengah kemelut geopolitik, lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 akan terus melandai di bawah rata-rata prapandemi.
Di Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan kinerja yang relatif solid dengan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan di atas konsensus pasar.
Meski demikian, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda moderasi, sementara inflasi November 2025 tercatat turun menjadi 2,7 persen dan inflasi inti turun ke level 2,6 persen.
Baca Juga: Tangis Staf Keuangan Pecah di Sidang MK: Melawan 'Pasal Jebakan' Atasan dalam KUHP Baru
Sementara itu, di Tiongkok perlambatan ekonomi masih berlanjut dengan konsumsi rumah tangga yang tertahan. Dari sisi penawaran, PMI manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi dan tekanan di sektor properti masih terus berlangsung.
OJK menegaskan bahwa penguatan risiko fiskal di sejumlah negara utama serta dinamika politik internasional akan menjadi faktor penentu arah kebijakan sektor jasa keuangan nasional sepanjang tahun ini.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Purbaya Buka Opsi Tukar Guling PNM dan Geo Dipa Demi Bantu Kredit UMKM
-
Purbaya Girang Kantongi Dana Rp 11,4 Triliun dari Satgas PKH, Buat Tambal Defisit APBN
-
Purbaya Ungkap Cara Kerja Dana SAL Rp 300 T Milik Pemerintah Buat Gerakkan Ekonomi
-
Meski IHSG Kinclong, Dana Asing Masih Kabur Rp 193,87 M Sepekan Ini
-
Menaker: PKB Harus Dikawal Ketat, Tantangan Utama di Tahap Implementasi
-
Perundingan AS-Iran Kacau, Trump Malah Nonton UFC Ketimbang Negosiasi Selat Hormuz
-
Pemerintah Klaim Daya Beli Masyarakat Masih Kuat, Begini Datanya
-
BI Sebut Kepercayaan Masyarakat Terhadap Ekonomi RI Tinggi
-
Iran Tetapkan Tarif Selat Hormuz, Harga Bitcoin Malah Anjlok Parah
-
Danantara Rebut Pengelolaan Sekuritas Himbara, Mau Bentuk Holding Baru