Bisnis / Energi
Senin, 12 Januari 2026 | 11:07 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia turun. [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent dan WTI turun pada Senin, 12 Januari 2025, dipengaruhi potensi gangguan pasokan Iran.
  • Potensi kenaikan harga tertahan oleh rencana percepatan ekspor minyak mentah dari Venezuela.
  • Protes di Iran telah menewaskan 500 orang dan mengancam ekspor minyak hingga 1,9 juta barel per hari.

Suara.com - Harga minyak dunia mengalami sedikit penurunan pada perdagangan Senin 12 Januari 2025.

Para investor saat ini tengah mengamati kemungkinan terganggunya pasokan akibat aksi protes di Iran.

Namun demikian, kenaikan harga bisa tertahan, karena adanya rencana percepatan ekspor minyak dari Venezuela.

Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka turun 5 sen menjadi 63,29 dolar AS per barel pada pukul 01.31 GMT atau 08.31 WIB.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di harga 59,06 dolar AS per barel, turun 6 sen.

Kedua harga tersebut naik lebih dari 3 persen pada pekan lalu, mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober, seiring dengan intensifikasi penindakan oleh rezim ulama Iran terhadap demonstrasi terbesar sejak tahun 2022.

Meski demikian, Kepala penelitian energi di MST Marquee, Saul Kavonic, menilai pasar belum sepenuhnya mengantisipasi ancaman konflik yang lebih luas di Iran, yang berisiko mengganggu jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.

Ilustrasi Donald Trump tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Suara.com)

"Pasar mengatakan, tunjukkan kepada saya gangguan pasokan sebelum memberikan respons yang berarti," kata Kavonic.

Berdasarkan laporan kelompok HAM pada Minggu (11/1), setidaknya 500 orang tewas akibat kerusuhan yang terjadi di Iran.

Baca Juga: Minyak Dunia Naik Lagi, Brent Menguat 2,7 Persen dalam Sepekan

Tim analis ANZ yang dipimpin oleh Daniel Hynes dalam catatannya menyebutkan adanya seruan mogok kerja bagi para buruh di industri minyak sebagai bagian dari aksi protes tersebut.

Mereka menambahkan bahwa kondisi ini mengancam kelancaran ekspor minyak hingga 1,9 juta barel per harinya.

Presiden AS Donald Trump telah berulang kali memberikan peringatan akan melakukan intervensi jika kekerasan digunakan terhadap para demonstran.

Menurut keterangan seorang pejabat AS kepada Reuters pada hari Minggu, sang Presiden dijadwalkan bertemu dengan para penasihat senior pada hari Selasa untuk membicarakan berbagai langkah yang mungkin diambil terkait situasi di Iran.

Di samping itu, Venezuela diperkirakan akan segera memulai kembali pengiriman minyaknya setelah lengsernya Presiden Nicolas Maduro.

Hal ini menyusul pernyataan Trump pekan lalu bahwa pemerintah di Caracas akan menyerahkan sekitar 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi kepada Amerika Serikat.

Load More